Vale Indonesia (INCO): Kerja Sama Nikel RI-Filipina Tak Berpengaruh ke Investasi HPAL



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memastikan rencana kerja sama strategis sektor nikel antara pengusaha Indonesia dan Filipina tidak akan mengubah peta investasi perusahaan.

Emiten pertambangan nikel ini tetap fokus pada pengembangan fasilitas pengolahan yang mengandalkan pasokan bijih dari lahan konsesi sendiri.

Head of Communications Vale Indonesia Vanda Kusumaningrum menjelaskan, strategi perusahaan dalam menjaga pasokan input smelter mengutamakan kemandirian operasional.


Saat ini, INCO mengoptimalkan cadangan di tiga wilayah konsesi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Baca Juga: Perlindungan Pekerja dan Mitra Subkontraktor Jadi Bagian Strategi Bisnis Daikin

"Hingga saat ini, PT Vale belum menjajaki kontrak jangka panjang dengan pemasok di Filipina mengingat ketersediaan cadangan dan sumberdaya di lahan konsesi sendiri masih dapat mencukupi kebutuhan smelter sendiri, bahkan PT Vale tahun ini juga berkontribusi untuk memasok beberapa smelter dalam negeri yang membutuhkan pasokan bijih nikel," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (12/5/2026).

Vanda mengungkapkan, integrasi hulu ke hilir yang diterapkan perusahaan menjadi kunci dalam menjaga kinerja keuangan. Dengan menggunakan bijih dari tambang sendiri, INCO mampu melindungi margin keuntungan dari gejolak harga bahan baku di pasar internasional maupun fluktuasi biaya pengiriman.

"PT Vale mampu menjaga gross profit margin tetap stabil dan kompetitif, terhindar dari risiko fluktuasi biaya logistik serta kenaikan harga beli bijih dari pasar eksternal," ungkapnya.

Terkait proyek pengembangan smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk bahan baku baterai kendaraan listrik, Vanda menyebut dampaknya relatif minimal.

 
INCO Chart by TradingView

"Pengaruh rencana kerjasama pemerintah RI-Filipina terhadap investasi smelter HPAL PT Vale yang telah direncanakan relatif minimal. Fokus ini selaras dengan komitmen PT Vale terhadap standar ESG global, di mana kepastian asal-usul bijih dari tambang sendiri menjadi kunci utama dalam memproduksi bahan baku baterai kendaraan listrik yang rendah karbon," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News