KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berhasil mencetak kinerja keuangan positif pada kuartal I-2026 yang ditopang oleh operasional yang solid dan penguatan harga komoditas nikel. Pendapatan INCO meningkat 22,37% year on year (yoy) menjadi US$ 252,7 juta pada kuartal I-2026. INCO juga mencatat kenaikan EBITDA sebesar 54,93% yoy menjadi US$ 80,1 juta. Laba bersih juga melesat 100% yoy menjadi US$ 43,6 juta. Dari sisi operasional, pada kuartal I-2026, INCO mencatat produksi nikel matte sebesar 13.620 metrik ton, atau turun 20,13% quarter on quarter (qoq) dibandingkan dengan 17.052 metrik ton pada kuartal IV-2025 dan lebih rendah 20,01% yoy dari 17.027 metrik ton yang dicapai pada kuartal I-2025. Baca Juga: JPFA Bagikan Dividen Rp 1,62 Triliun, Simak Jadwal Lengkapnya Hasil ini sepenuhnya sesuai dengan rencana INCO yang mencerminkan optimalisasi kegiatan pemeliharaan yang terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang dijadwalkan selesai pada semester I-2026 serta dampak dari persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Sejalan dengan penyesuaian produksi yang direncanakan, pengiriman nikel matte menurun sebesar 25% secara kuartalan. Ke depan, INCO tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target produksi setahun penuh sebesar 67.645 ton dan berada pada posisi yang baik untuk memperoleh peningkatan dari harga nikel LME yang lebih tinggi. Selain produksi nikel matte, tahun 2026 merupakan tahun penting dalam lintasan pertumbuhan INCO, mengingat perusahaan mulai mengoperasikan tiga blok pertambangan, yaitu Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa secara bersamaan. Tonggak strategis ini ditunjukkan oleh volume produksi yang dapat ditingkatkan di setiap blok pertambangan dan penjualan pertama bijih nikel limonit dari area Pomalaa pada awal tahun 2026 yang menandai perluasan signifikan portofolio komersial INCO dan memperkuat diversifikasi pendapatan pada masa mendatang. INCO pun memperoleh keuntungan dari membaiknya dinamika harga nikel dunia selama kuartal I-2026, lantaran perusahaan ini mencatat harga rata-rata nikel matte sebesar US$ 14.213 per metrik ton yang mewakili peningkatan 15% dari US$ 12.308 per metrik ton pada kuartal IV-2025. Untuk ke depannya, dengan harga nikel LME yang diperkirakan akan tetap berada pada tren kenaikan, INCO berada pada posisi yang baik untuk lebih meningkatkan nilai dari struktur komersialnya yang telah dioptimalkan. CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan, terlepas dari tantangan yang terus berlanjut dan lingkungan operasional yang tidak pasti, INCO terus menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan. "Pada saat yang sama, kami memperluas portofolio komersial kami melalui dimulainya penjualan limonit dari blok Pomalaa, yang menandai langkah penting dalam memperkuat diversifikasi pendapatan dan meningkatkan keberlanjutan bisnis kami ke depan," tandas dia dalam keterangan resmi, Kamis (30/4). Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, peluang INCO untuk kembali mencetak kinerja keuangan positif selepas kuartal pertama sangat terbuka. Terlebih lagi, pembangunan kembali Furnace 3 bakal selesai pada semester I-2026, sehingga produksi nikel dalam matte INCO dapat lebih optimal. "Saat ini volume produksi (nikel matte) relatif masih melandai, tapi nanti kalau proyek ini sudah berhasil tentu akan ada optimalisasi volume produksi," ujar dia, Kamis (30/4). Prospek kinerja INCO juga bakal ditopang oleh harga nikel yang berpeluang melanjutkan tren penguatan. Ada kemungkinan tahun ini harga nikel dapat menyentuh kisaran US$ 20.000 per metrik ton seiring pengendalian produksi dari Indonesia lewat penyesuaian RKAB dan revisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) yang memberikan harga lebih kuat bagi produsen domestik. INCO juga memiliki modal berharga untuk meningkatkan kinerja keuangan secara jangka panjang melalui proyek smelter High Pressure Acid Lead (HPAL) di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako. Pembangunan tiga smelter ini turut memanfaatkan pendanaan dari fasilitas pembiayaan berkelanjutan atau Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$ 750 juta dari beberapa bank internasional. Kehadiran proyek smelter ini akan menempatkan INCO sebagai salah satu pemain utama dalam rantai pasok industri kendaraan listrik. Belum lagi, nilai tambah produk dari HPAL lebih tinggi dibandingkan nikel matte yang saat ini diproduksi INCO. "INCO akan memiliki bargaining power lebih kuat dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global," imbuh Nafan. Nafan pun merekomendasikan add saham INCO dengan target harga di level Rp 7.450 per saham. Baca Juga: Rupiah Tetap Melemah Meski Dolar AS Fluktuatif, Ini Penyebabnya
Vale Indonesia (INCO) Raih Kinerja Keuangan Cemerlang pada Kuartal I-2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berhasil mencetak kinerja keuangan positif pada kuartal I-2026 yang ditopang oleh operasional yang solid dan penguatan harga komoditas nikel. Pendapatan INCO meningkat 22,37% year on year (yoy) menjadi US$ 252,7 juta pada kuartal I-2026. INCO juga mencatat kenaikan EBITDA sebesar 54,93% yoy menjadi US$ 80,1 juta. Laba bersih juga melesat 100% yoy menjadi US$ 43,6 juta. Dari sisi operasional, pada kuartal I-2026, INCO mencatat produksi nikel matte sebesar 13.620 metrik ton, atau turun 20,13% quarter on quarter (qoq) dibandingkan dengan 17.052 metrik ton pada kuartal IV-2025 dan lebih rendah 20,01% yoy dari 17.027 metrik ton yang dicapai pada kuartal I-2025. Baca Juga: JPFA Bagikan Dividen Rp 1,62 Triliun, Simak Jadwal Lengkapnya Hasil ini sepenuhnya sesuai dengan rencana INCO yang mencerminkan optimalisasi kegiatan pemeliharaan yang terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang dijadwalkan selesai pada semester I-2026 serta dampak dari persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Sejalan dengan penyesuaian produksi yang direncanakan, pengiriman nikel matte menurun sebesar 25% secara kuartalan. Ke depan, INCO tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target produksi setahun penuh sebesar 67.645 ton dan berada pada posisi yang baik untuk memperoleh peningkatan dari harga nikel LME yang lebih tinggi. Selain produksi nikel matte, tahun 2026 merupakan tahun penting dalam lintasan pertumbuhan INCO, mengingat perusahaan mulai mengoperasikan tiga blok pertambangan, yaitu Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa secara bersamaan. Tonggak strategis ini ditunjukkan oleh volume produksi yang dapat ditingkatkan di setiap blok pertambangan dan penjualan pertama bijih nikel limonit dari area Pomalaa pada awal tahun 2026 yang menandai perluasan signifikan portofolio komersial INCO dan memperkuat diversifikasi pendapatan pada masa mendatang. INCO pun memperoleh keuntungan dari membaiknya dinamika harga nikel dunia selama kuartal I-2026, lantaran perusahaan ini mencatat harga rata-rata nikel matte sebesar US$ 14.213 per metrik ton yang mewakili peningkatan 15% dari US$ 12.308 per metrik ton pada kuartal IV-2025. Untuk ke depannya, dengan harga nikel LME yang diperkirakan akan tetap berada pada tren kenaikan, INCO berada pada posisi yang baik untuk lebih meningkatkan nilai dari struktur komersialnya yang telah dioptimalkan. CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan, terlepas dari tantangan yang terus berlanjut dan lingkungan operasional yang tidak pasti, INCO terus menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan. "Pada saat yang sama, kami memperluas portofolio komersial kami melalui dimulainya penjualan limonit dari blok Pomalaa, yang menandai langkah penting dalam memperkuat diversifikasi pendapatan dan meningkatkan keberlanjutan bisnis kami ke depan," tandas dia dalam keterangan resmi, Kamis (30/4). Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, peluang INCO untuk kembali mencetak kinerja keuangan positif selepas kuartal pertama sangat terbuka. Terlebih lagi, pembangunan kembali Furnace 3 bakal selesai pada semester I-2026, sehingga produksi nikel dalam matte INCO dapat lebih optimal. "Saat ini volume produksi (nikel matte) relatif masih melandai, tapi nanti kalau proyek ini sudah berhasil tentu akan ada optimalisasi volume produksi," ujar dia, Kamis (30/4). Prospek kinerja INCO juga bakal ditopang oleh harga nikel yang berpeluang melanjutkan tren penguatan. Ada kemungkinan tahun ini harga nikel dapat menyentuh kisaran US$ 20.000 per metrik ton seiring pengendalian produksi dari Indonesia lewat penyesuaian RKAB dan revisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) yang memberikan harga lebih kuat bagi produsen domestik. INCO juga memiliki modal berharga untuk meningkatkan kinerja keuangan secara jangka panjang melalui proyek smelter High Pressure Acid Lead (HPAL) di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako. Pembangunan tiga smelter ini turut memanfaatkan pendanaan dari fasilitas pembiayaan berkelanjutan atau Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$ 750 juta dari beberapa bank internasional. Kehadiran proyek smelter ini akan menempatkan INCO sebagai salah satu pemain utama dalam rantai pasok industri kendaraan listrik. Belum lagi, nilai tambah produk dari HPAL lebih tinggi dibandingkan nikel matte yang saat ini diproduksi INCO. "INCO akan memiliki bargaining power lebih kuat dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global," imbuh Nafan. Nafan pun merekomendasikan add saham INCO dengan target harga di level Rp 7.450 per saham. Baca Juga: Rupiah Tetap Melemah Meski Dolar AS Fluktuatif, Ini Penyebabnya
TAG: