Vale Indonesia (INCO) Siapkan Belanja Modal hingga US$ 585 Juta pada Tahun 2023



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 585 juta atau setara Rp 8,59 triliun (Kurs Rp 14.700/dolar) di sepanjang tahun ini untuk sejumlah kebutuhan. Sebagian akan digunakan untuk proyek pertumbuhan di tambang maupun penyertaan modal. 

Chief Financial Officer (CFO) Vale Indonesia, Bernardus Irmanto menjelaskan, dana capex yang dialokasikan tahun ini khususnya untuk pengembangan tambang baru di Pomalaa dan Bahodopi. 

“Serta ada alokasi lainnya yakni penyertaan modal perusahaan patungan yang akan membangun smelter berteknologi Rotary Klin Electric Furnace (RKEF) di Bahodopi,” jelasnya kepada Kontan.co.id, Kamis (4/5). 


Sebagai informasi, proyek smelter RKEF di Bahodopi masuk dalam salah satu Proyek Strategis Nasional. Pabrik pengolahan nikel ini akan didukung sumber listrik dari gas alam cair (LNG) sehingga diklaim memiliki jejak karbon lebih rendah dibandingkan smelter lain yang menggunakan batubara.

Baca Juga: Buka Beberapa Gerai Baru, Lima Dua Lima Tiga (LUCY) Bakal Investasikan Rp 6 Miliar

Menurut perhitungan manajemen Vale, pemanfaatan gas sebagai bahan bakar akan mengurangi emisi karbon dari seluruh operasi proyek sebesar 33% pada 2030. 

Dalam catatan Kontan.co.id sebelumnya, total biaya investasi untuk proyek smelter RKEF Bahodopi ini senilai Rp 37,5 triliun dengan kapasitas produksi mencapai 73.000 ton. 

Adapun sampai dengan kuartal I 2023, Irmanto menjelaskan, INCO telah merealisasikan belanja modal senilai US$ 58,2 juta di mana ada alokasi sekitar US$ 25 juta untuk sustaining dan sisanya untuk pekerjaan awal menunjang proyek yang sedang dikerjakan. 

Sebelumnya CEO Vale Indonesia, Febriany Eddy menjelaskan menyusul peletakan batu pertama untuk Proyek Morowali pada Februari 2023, INCO dan mitra terus melaksanakan pekerjaan di lapangan, baik di lokasi tambang maupun di pabrik pengolahan. 

“Kami memperkirakan akan mengeluarkan dana sebesar US$ 132,2 juta untuk belanja modal keberlanjutan dan US$ 585 juta untuk proyek pertumbuhan (baik tambang maupun penyertaan modal) sepanjang tahun 2023,” jelasnya beberapa waktu lalu. 

Sampai dengan kuartal I 2023, INCO telah merealiasikan volume produksi nikel dalam matte sebesar 16.769 metrik ton. Produksi pada periode Januari-Maret 2023 ini jika dibandingkan dengan produksi di kuartal I 2022 mengalami kenaikan hingga 21% year on year (YoY). Sedangkan jika dibandingkan dengan produksi di kuartal IV 2022 juga lebih tinggi 4% quarter to quarter (QtQ). 

Febriany menyampaikan, INCO menargetkan produksi nikel dalam matte sebanyak 70.000 ton di sepanjang 2023. 

Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Raup Pendapatan US$ 689,8 Juta pada Kuartal I-2023

Lebih lanjut, Febriany menyatakan, pihaknya akan terus menjaga keandalan operasional Furnace 4 setelah pembangunan kembali yang rampung di tahun lalu. 

Adapun pada Furnace 2, sebagai bagian dari strategi, INCO telah melakukan perbaikan atap secara aman yang dilakukan lebih awal yaitu pada Maret 2023, bukan pada kuartal IV 2023. Febriany bilang, perbaikan yang lebih cepat ini untuk mendapatkan keandalan produktivitas Furnace 2 di 2023.

“Selain itu, perseroan juga mampu meningkatkan recovery penambangan dengan memaksimalkan armada tambang yang lebih kecil pada proyek bottom ore recovery. Kami bersyukur atas pencapaian ini,” tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi