Valuasi Pusat Belanja One Global Capital di Sydney Melonjak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  One Global Capital mencatat kenaikan valuasi salah satu portofolio pusat belanjanya yang berlokasi di Sydney, yakni One Grand Eastlakes Shopping Centre. Saat diakuisisi pada akhir 2024 lalu, nilai proyek tersebut baru mencapai AU$ 19,5 juta. Namun, pada akhir 2025 sudah meningkat menjadi AU$ 33 juta dan pada 2026 tumbuh menjadi AU$38 juta, menurut penilaian independen CBRE.

Iwan Sunito, Chairman dan Group CEO One Global Capital mengatakan, perkembangan One Grand Eastlake merupakan hasil dari strategi yang dirancang sejak awal akuisisi. Dari sisi operasional, tingkat okupansinya telah mencapai 100%, dengan ALDI dan Woolworths sebagai penyewa utama. 

“Pencapaian ini menjadi kabar baik bagi perusahaan dan investor. Sejak awal, kami mempertimbangkan fundamental aset, potensi pendapatan, dan peluang peningkatan nilai sesuai horizon investasi. Perkembangan valuasi menjadi salah satu indikator yang perlu dievaluasi bersama kinerja operasional dan kondisi pasar,” ujar Iwan dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).


Baca Juga: Townhouse Premium Jadi Alternatif Rumah Tapak di Sydney

Iwan mengatakan, investasi One Grand Eastlakes direncanakan hingga akhir 2027. Seiring kenaikan valuasi aset, One Global Capital bersama para pemegang saham tengah mengevaluasi opsi penjualan atau perpanjangan masa kepemilikan hingga satu tahun. Keputusan akan mempertimbangkan prospek pendapatan, harga jual, biaya transaksi, serta potensi hasil bersih yang dapat dibagikan kepada investor.

Iwan bilang, rencana divestasi ini sejalan dengan mandat investasi sejak awal, yaitu periode kepemilikan tiga tahun dengan tujuan merealisasikan nilai aset dan mengembalikan modal kepada investor (sell and return).

Rob Pignataro, Managing Agent Strathfield Partners yang mendapat mandat untuk memasarkan dan menjual pusat perbelanjaan tersebut, menilai kualitas penyewa menjadi keunggulan aset ini di pasar ritel Sydney.

“Jarang ada pusat perbelanjaan seluas 3.300 m² seperti One Grand Eastlakes yang memiliki penyewa berkualitas tinggi (triple-A tenants), seperti ALDI, Australia Post, dan Woolworths. Dengan karakteristik tersebut, estimasi nilai pasar properti ini berada di kisaran AU$40 juta hingga AU$46 juta,” ujar Rob.

Baca Juga: Pasar Properti Australia Melambat, Pengajuan KPR di NAB Merosot

Kinerja One Grand Eastlakes Shopping Centre tidak hanya tercermin dari kenaikan valuasi, tetapi juga meningkatnya minat investor internasional terhadap One Global Capital.

Menurut Iwan, calon investor dari Timur Tengah dan Amerika Serikat mulai menjajaki peluang investasi berikutnya. “Keberhasilan One Grand Eastlakes menunjukkan pentingnya strategi akuisisi, pengelolaan aset, dan penciptaan nilai yang terukur dalam membangun kepercayaan investor,” ujarnya. 

Momentum ini menjadi salah satu pertimbangan One Global Capital dalam menyiapkan One Five Dock Masterplan Project di Sydney, yang direncanakan diluncurkan pada pertengahan 2027. Proyek ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengembangkan portofolio secara disiplin dan berorientasi jangka panjang.

Pasar properti komersial Australia tetap menarik di tengah dinamika ekonomi global. Menurut data CBRE Australia, investasi properti komersial pada semester pertama 2026 meningkat 16% secara tahunan menjadi AU$ 19 miliar.

Properti ritel berbasis komunitas, khususnya yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, berpotensi menghasilkan pendapatan sewa berulang. Namun, kinerjanya tetap bergantung pada lokasi, kualitas penyewa, tingkat okupansi, dan pengelolaan aset.

Fitri Hilman, Director, Commercial Services, Savills Indonesia, menilai bahwa investor perlu mempertimbangkan kualitas bisnis penyewa, kesesuaian komposisi penyewa (tenant mix) dengan kebutuhan masyarakat, serta potensi pertumbuhan pendapatan sewa. “Aset ritel berbasis komunitas dapat menawarkan pendapatan sewa yang relatif stabil jika didukung fundamental lokasi dan pengelolaan yang baik,” ujar Fitri.

Bagi investor Indonesia yang ingin melakukan diversifikasi ke Australia, kata Fitri, potensi kenaikan valuasi perlu diimbangi dengan analisis risiko nilai tukar, biaya pendanaan, pajak, biaya pengelolaan, dan likuiditas saat aset dijual.