KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (
AMRT) dinilai masih memiliki daya tahan yang kuat meski pertumbuhan penjualan toko yang sama atau
same store sales growth (SSSG) melandai pada kuartal II 2026. Analis Mirae Asset Sekuritas Putu Chantika Putri mengatakan, kinerja gerai Alfamart pada kuartal II 2026 masih sejalan dengan ekspektasi. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias
profit after tax and minority interest (PATMI) sepanjang semester I 2026 mencapai sekitar Rp 2 triliun, tumbuh 7,5% secara tahunan setara dengan 52% dari estimasi konsensus untuk tahun penuh 2026. "Pertumbuhan pendapatan melambat menjadi 5,4% secara
year on year (yoy) pada kuartal II 2026, dengan SSSG turun menjadi 2,7% dari 6,2% pada kuartal I 2026, terutama mencerminkan pergeseran waktu Ramadan," ujar Putu dalam riset 11 Agustus 2026.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham ENRG, AADI, dan AMRT untuk Jumat (7/8) Meski demikian, permintaan konsumen dinilai masih relatif kuat. Hal ini tercermin dari kemampuan AMRT mempertahankan penjualan meski perusahaan telah menaikkan harga sekitar 4%-5% pada sejumlah produk atau
stock keeping unit (SKU) untuk mengimbangi kenaikan biaya input. Di saat yang sama, terjadi pergeseran penjualan menuju kategori produk dengan margin lebih tinggi. Beberapa di antaranya adalah makanan ringan, makanan beku dan dingin, produk perawatan pribadi, serta susu cair. Menurut Putu, tren penjualan yang membaik pada awal Juli 2026 juga memperkuat keyakinan manajemen bahwa target kinerja sepanjang 2026 masih dapat dipertahankan. Menariknya, perlambatan pertumbuhan penjualan tidak serta-merta menekan profitabilitas AMRT. Di tengah peningkatan aktivitas promosi oleh Indomaret, AMRT justru tetap memprioritaskan profitabilitas. Putu mencatat, margin laba kotor atau gross profit margin (GPM) AMRT meningkat menjadi 22,9% pada kuartal II 2026. Angka tersebut naik 0,9 poin persentase secara tahunan dan 1,1 poin persentase dibandingkan kuartal sebelumnya. "Hal ini cukup menonjol mengingat kuartal setelah Lebaran biasanya merupakan periode yang lebih lemah," jelas Putu. Kenaikan margin tersebut juga berjalan beriringan dengan penguatan pangsa pasar AMRT. Pangsa pasar perseroan meningkat menjadi 14,2% hingga Juni 2026, dari 13,6% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut Putu, kondisi tersebut menunjukkan strategi promosi yang lebih disiplin belum mengorbankan daya saing AMRT. Mirae Asset Sekuritas memperkirakan GPM AMRT masih akan terjaga pada paruh kedua 2026, didukung oleh strategi kenaikan harga dan pergeseran bauran produk ke kategori dengan margin lebih tinggi.
Baca Juga: Peningkatan Frekuensi Belanja Konsumen Dorong Kinerja (AMRT) pada Semester I-2026 Selain itu, peluang peningkatan efisiensi masih terbuka dari enam pusat distribusi atau
distribution center (DC) yang dibuka sepanjang 2024-2025. Empat DC saat ini telah mencapai utilisasi sekitar 60%, sementara dua lainnya diperkirakan memasuki tahap kematangan dalam satu hingga dua kuartal mendatang. Rasio biaya operasional terhadap penjualan juga relatif stabil di 19,3% pada semester I 2026, dibandingkan 19,1% pada semester I 2025. Untuk 2026, AMRT tidak berencana membuka DC baru, kecuali melakukan perluasan DC di Jambi. Di sisi digital, penjualan online AMRT juga masih memiliki ruang untuk tumbuh. Kontribusi penjualan online mencapai 8,4% dari total pendapatan pada semester I 2026, meningkat 11% YoY. Namun, angka tersebut masih di bawah target 10% untuk tahun penuh 2026. Putu melihat peluang percepatan pada semester II 2026. AMRT memiliki lebih dari 50 dedicated dark stores yang melengkapi sekitar 2.800 toko yang berfungsi sebagai delivery hub. Menariknya, pelanggan online AMRT menghasilkan nilai transaksi sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan transaksi reguler. Perseroan juga baru menjalankan uji coba layanan pengiriman pihak ketiga dalam satu hingga dua bulan terakhir. Baca Juga:
Alfamart (AMRT) Raih Kenaikan Pendapatan & Laba pada Semester I-2026, Cek Prospeknya Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan profitabilitas kanal online dengan menekan biaya pengiriman dan tenaga kerja. Dari sisi basis pelanggan, platform Alfagift juga memiliki modal yang cukup besar. Hingga semester I 2026, AMRT memiliki 26,4 juta anggota, dengan sekitar 17,5 juta di antaranya merupakan anggota aktif. Jumlah anggota aktif tersebut tumbuh sekitar 20% YoY. Basis pengguna ini dinilai dapat menjadi fondasi bagi peningkatan penetrasi strategi omnichannel AMRT. Sementara itu, bisnis Lawson yang berada di bawah AMRT juga menunjukkan perkembangan positif. Kerugian Lawson menurun secara tahunan, dengan jumlah gerai mencapai 346 toko hingga Juni 2026. Putu menyebut terdapat dua faktor utama yang menjadi penopang proses pemulihan Lawson. Pertama, rasionalisasi gerai, terutama gerai dengan lokasi yang kurang strategis dan berkinerja buruk secara struktural. Kedua, pengelolaan bauran produk yang lebih ketat untuk menekan pemborosan, khususnya pada kategori
ready-
to-eat (RTE) dan
ready-to-drink (RTD). Putu memperkirakan kerugian Lawson akan terus menyempit. Namun, profitabilitas dalam waktu dekat masih sulit dicapai karena proses turnaround membutuhkan waktu. Dengan berbagai katalis tersebut, Mirae Asset Sekuritas masih mempertahankan pandangan positif terhadap AMRT. Tapi Putu tidak memiliki target harga saham AMRT dan tidak memberi rating saham AMRT. Pada Selasa (11/8/2026), saham AMRT naik 0,72% di Rp 1.395 per saham. Dalam lima hari saham AMRT naik 4,49%. Putu menilai prospek AMRT ditopang oleh permintaan yang relatif tangguh, terutama dari pertumbuhan nilai keranjang belanja, bauran produk yang mendukung ekspansi margin, serta peluang peningkatan efisiensi operasional. "Meski memiliki kinerja semester I 2026 yang sehat, saham AMRT diperdagangkan pada 13,9 kali estimasi P/E 2026," kata Putu.
Valuasi tersebut sekitar dua standar deviasi di bawah rata-rata lima tahunnya. Menurut Putu, sentimen terhadap saham AMRT saat ini masih terbebani oleh reklasifikasi MSCI dari kategori Standard menjadi Small Cap, serta potensi kendala terkait keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) terhadap ekspansi gerai di masa mendatang. Baca Juga:
IHSG Ditutup Naik 0,50% ke 6.351 pada Rabu (5/8), KLBF, AMRT, BUMI Top Gainers LQ45 Adapun sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor antara lain perlambatan SSSG, pelaksanaan ekspansi gerai, serta perubahan preferensi konsumen di antara berbagai format ritel kebutuhan sehari-hari. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News