KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Gadai ValueMax Indonesia mengungkapkan bahwa aktivitas transaksi gadai kembali meningkat setelah periode Lebaran 2026. Hal tersebut seiring normalisasi kebutuhan masyarakat usai Lebaran. Direktur Utama Gadai ValueMax Indonesia Brian Wiraatmadja mengatakan, secara umum terjadi peningkatan transaksi gadai pasca Lebaran, setelah sebelumnya mengalami lonjakan menjelang hari raya. “Setelah Lebaran kami melihat ada normalisasi aktivitas dan meningkatnya kembali transaksi gadai,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (10/4/2026).
Ia menjelaskan, menjelang Lebaran biasanya terjadi peningkatan signifikan transaksi gadai yang didorong oleh kebutuhan konsumtif dan likuiditas masyarakat. Sementara setelah Lebaran, tren tetap terjaga seiring kebutuhan arus kas masyarakat, terutama pelaku UMKM.
Baca Juga: Transaksi Kartu Kredit Bank Mandiri Tumbuh 22% pada Kuartal-1 2026 Menurut Brian, meskipun harga emas sempat mengalami koreksi pada bulan sebelumnya, tren transaksi gadai saat ini masih relatif kuat. Hal ini turut ditopang oleh kondisi daya beli masyarakat serta kebutuhan pendanaan jangka pendek. “Menariknya, tahun ini kami melihat kombinasi antara nasabah baru dan
repeat customer masih cukup solid,” tambahnya. Dari sisi kinerja, ValueMax mencatat pertumbuhan transaksi secara tahunan. Hal ini tercermin dari peningkatan omzet,
outstanding loan, serta jumlah rekening atau
number of accounts (NOA). Brian menyebutkan, gadai masih banyak dimanfaatkan sebagai sumber dana
bridging jangka pendek, khususnya untuk mendukung kegiatan usaha. “Tren transaksi perusahaan masih terus meningkat,” imbuhnya. ValueMax memandang produk gadai masih akan menjadi tulang punggung industri pergadaian. Karakteristiknya yang mudah, cepat, dan berbasis agunan dinilai tetap relevan, terutama bagi segmen
unbanked dan
underbanked.
Baca Juga: Asuransi Digital Bersama (YOII): Dampak Pelemahan Rupiah Masih Terbatas Dengan kondisi tersebut, Brian menilai dominasi produk gadai masih akan berlanjut, meskipun komposisi produk keuangan di industri akan semakin beragam. Dari sisi strategi, perusahaan menekankan pengelolaan risiko di tengah volatilitas harga emas. Salah satunya melalui penetapan standar taksiran logam (STL) dan rasio pinjaman terhadap nilai agunan atau
loan to value (LTV) yang prudent. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News