KONTAN.CO.ID - ROMA. Vatikan berencana membangun pembangkit energi terbarukan senilai sekitar €100 juta atau sekitar US$ 117 juta di lahan miliknya di Santa Maria di Galeria, di pinggiran barat laut Roma, Italia. Proyek tersebut akan menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya dengan kegiatan pertanian atau agrivoltaik. Dua sumber yang terlibat dalam pembahasan proyek mengatakan fasilitas ini ditargetkan memiliki kapasitas sekitar 80 megawatt (MW) hingga 90 MW. Dengan kapasitas tersebut, pembangkit ini berpotensi menjadi salah satu fasilitas agrivoltaik terbesar di Italia. Pembangunannya diperkirakan membutuhkan waktu 18 hingga 24 bulan, termasuk proses perizinan dan administrasi.
Baca Juga: Kencana Energi (KEEN) Bidik Laba Naik 84,8% pada 2026, Begini Strategi Kejar Target Dalam sistem agrivoltaik, panel surya dipasang beberapa meter di atas permukaan tanah sehingga lahan di bawahnya tetap dapat digunakan untuk bercocok tanam. Naungan panel juga dapat membantu mengurangi penguapan air dan melindungi tanaman dari cuaca ekstrem. Komisi gabungan Italia dan Vatikan telah bertemu pada awal Agustus untuk memulai proyek tersebut. Pertemuan itu digelar setelah Italia meratifikasi kesepakatan bilateral dengan Vatikan pada 2025 yang membuka jalan bagi pengembangan lahan Santa Maria di Galeria. Saat ini, belum ada keterangan resmi dari Vatikan mengenai nilai investasi, kapasitas pembangkit maupun jadwal penyelesaiannya. Namun, sumber yang mengetahui pembahasan proyek menyebut pembangunan dapat berlangsung hingga dua tahun.
Targetkan Vatikan Mandiri Energi
Pembangkit tersebut dirancang untuk memasok kebutuhan listrik fasilitas pemancar Radio Vatikan di Santa Maria di Galeria sekaligus membantu Vatikan mencapai kemandirian energi. Lahan seluas sekitar 450 hektare itu telah digunakan sebagai fasilitas transmisi Radio Vatikan sejak 1950-an. Salah satu sumber menyebut panel surya dengan sistem pelacak matahari akan menempati sekitar 200 hektare, atau hampir separuh dari total area tersebut.
Baca Juga: Ekspansi Agresif Kencana Energi (KEEN): Kapasitas Pembangkit Listrik Bakal Melonjak Listrik yang dihasilkan juga berpotensi digunakan oleh sejumlah properti yang terkait dengan Takhta Suci, termasuk rumah sakit Bambino Gesù di Roma. Jika produksi listrik melebihi kebutuhan Vatikan, kelebihan listrik tersebut akan disalurkan untuk digunakan di Italia. Vatikan juga tidak akan mendapatkan insentif finansial yang tersedia bagi rumah tangga dan perusahaan di Italia yang memasang pembangkit listrik tenaga surya. Proyek ini disebut merupakan salah satu prioritas mendiang Paus Fransiskus, yang dikenal sebagai paus pertama yang secara terbuka menerima konsensus ilmiah mengenai perubahan iklim. Proyek tersebut kemudian mendapat dukungan dari Paus Leo XIV. Kesepakatan bilateral Italia-Vatikan juga memperluas status khusus yang sebelumnya diberikan kepada fasilitas Radio Vatikan. Status tersebut mencakup pembebasan dari sejumlah pajak dan pungutan publik Italia. Namun, undang-undang ratifikasi Italia menegaskan pelaksanaan kesepakatan tidak boleh menimbulkan beban baru atau tambahan terhadap keuangan publik.
Kontrak pembangunan pembangkit tersebut dijadwalkan mulai ditenderkan dalam beberapa pekan mendatang.
Baca Juga: Investasi PLTS Atap di Indonesia Tembus US$918 Juta, Ini Pemicunya Vatikan, yang merupakan negara terkecil di dunia dengan luas sekitar 44 hektare dan berpenduduk kurang dari 900 orang, sebelumnya telah memiliki fasilitas tenaga surya. Pada 2008, perusahaan asal Jerman, SolarWorld dan SMA Solar Technology, menyumbangkan 2.400 panel fotovoltaik beserta peralatannya. Panel-panel tersebut dipasang di atas Aula Paulus VI, yang digunakan untuk audiensi dan konser kepausan.