Vatikan Tidak Akan Bergabung dalam Dewan Perdamaian Inisiatif Trump, Ini Alasannya



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Vatikan menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam inisiatif “Board of Peace” yang digagas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Keputusan tersebut disampaikan oleh Kardinal Pietro Parolin, pejabat diplomatik tertinggi Takhta Suci, pada Selasa (17/2/2026).

Parolin menegaskan bahwa upaya penanganan krisis internasional seharusnya berada di bawah mandat United Nations (PBB), bukan melalui mekanisme dewan yang dibentuk secara terpisah.

“Takhta Suci tidak akan berpartisipasi dalam Board of Peace karena sifatnya yang khas, yang jelas berbeda dari negara-negara lain,” ujar Parolin. Ia menambahkan bahwa pada level internasional, pengelolaan situasi krisis “di atas segalanya harus ditangani oleh PBB”, dan hal itu menjadi salah satu poin yang secara konsisten ditekankan oleh Vatikan.

Undangan untuk Paus Leo


Sebelumnya, Paus Pope Leo XIV—paus pertama asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai pengkritik sejumlah kebijakan Trump—diundang untuk bergabung dalam dewan tersebut pada Januari lalu. Namun, Takhta Suci memutuskan untuk tidak mengambil bagian.

Baca Juga: Bank Vatikan Gandeng Morningstar Luncurkan Indeks Saham yang Selaras Ajaran Katolik

Di bawah rencana Gaza yang diusulkan Trump dan menghasilkan gencatan senjata rapuh pada Oktober, Board of Peace awalnya dirancang untuk mengawasi tata kelola sementara di Jalur Gaza. Trump kemudian menyatakan bahwa dewan tersebut, dengan dirinya sebagai ketua, akan diperluas cakupannya untuk menangani konflik global.

Pertemuan perdana dewan dijadwalkan berlangsung di Washington pada Kamis, dengan agenda utama membahas rekonstruksi Gaza.

Respons Internasional dan Kritik

Sejumlah negara merespons undangan Trump secara hati-hati. Italia dan Uni Eropa menyatakan perwakilan mereka akan hadir sebagai pengamat, namun belum secara resmi bergabung dalam dewan tersebut.

Beberapa pakar hak asasi manusia menilai bahwa struktur dewan yang dipimpin langsung oleh presiden AS untuk mengawasi urusan wilayah asing menyerupai model kolonial. Dewan yang diluncurkan bulan lalu itu juga menuai kritik karena tidak melibatkan perwakilan Palestina.

Kekhawatiran juga muncul bahwa pembentukan Board of Peace berpotensi melemahkan peran PBB dalam menjaga stabilitas global. Beberapa sekutu Washington di Timur Tengah dilaporkan telah bergabung, sementara sekutu Barat AS masih memilih untuk tidak berpartisipasi.

Situasi Gaza Memburuk

Gencatan senjata di Gaza yang dimulai pada Oktober dilaporkan berulang kali dilanggar. Sejak itu, ratusan warga Palestina dan empat tentara Israel dilaporkan tewas.

Baca Juga: Paus Leo XIV dan Zelenskiy Bahas Langkah Diplomasi Demi Perdamaian Ukraina

Serangan militer Israel di Gaza disebut telah menewaskan lebih dari 72.000 orang, memicu krisis kelaparan, serta menyebabkan seluruh populasi Gaza mengungsi secara internal. Sejumlah pakar hak asasi manusia, akademisi, dan penyelidikan PBB menyebut situasi tersebut sebagai genosida.

Sementara itu, Israel menyatakan tindakannya sebagai bentuk pembelaan diri setelah militan yang dipimpin oleh Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang dalam serangan pada akhir 2023.

Paus Leo XIV secara berulang kali menyuarakan keprihatinan atas kondisi kemanusiaan di Gaza. Sebagai pemimpin sekitar 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia, paus jarang terlibat dalam dewan internasional formal. Namun, Vatikan memiliki jaringan diplomatik luas dan berstatus sebagai pengamat tetap di PBB.

Selanjutnya: Harga Minyak Stabil, Pasar Cermati Perkembangan Perundingan AS–Iran

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Kota Cilegon, Lengkap dengan Waktu Sholat