KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri garmen Indonesia masih menghadapi tantangan untuk memperkuat daya saing di pasar global. Nilai ekspor garmen nasional relatif stagnan di kisaran US$ 8 miliar–US$ 9 miliar selama hampir satu dekade, sementara sejumlah negara pesaing di Asia seperti Vietnam, Bangladesh, dan Kamboja terus meningkatkan pangsa ekspornya.
Baca Juga: Aksesmu Punya 150.000 Member Aktif dan Bina 250.000 Warung Di tengah kondisi tersebut, Vector Consulting Group melihat Indonesia masih memiliki peluang untuk meningkatkan nilai ekspor garmen hingga sekitar US$ 2 miliar. Potensi tersebut dinilai dapat diraih tanpa harus mengandalkan penambahan kapasitas produksi dalam skala besar. Country Head Indonesia Vector Consulting Group Rajesh Inamdar mengatakan, ruang pertumbuhan justru dapat berasal dari optimalisasi kapasitas produksi yang sudah dimiliki industri saat ini. “Daya saing industri garmen Indonesia tidak dapat dilihat hanya dari perspektif biaya tenaga kerja maupun kebijakan pemerintah,” ujar Rajesh dalam keterangannya Jumat (28/8/2026). Menurut dia, industri masih memiliki ruang untuk meningkatkan produktivitas, menjaga stabilitas produksi, serta memperkuat kemampuan rantai pasok agar dapat merespons perubahan permintaan secara lebih cepat dan konsisten.
Baca Juga: Brantas Abipraya Perkuat Bisnis Hunian Lewat Danantara Housing Expo 2026 Produktivitas Jadi Kunci Biaya tenaga kerja tetap menjadi salah satu komponen penting dalam menentukan daya saing industri garmen. Namun, Vector menilai faktor tersebut bukan satu-satunya penentu kemampuan produsen Indonesia memenangkan pesanan dari global buyers. Senior Partner Vector Consulting Group P. Senthilkumar mengatakan, sejumlah produsen telah berupaya mengoptimalkan struktur biaya, termasuk dengan mengalihkan sebagian produksi ke wilayah yang memiliki kombinasi tenaga kerja terampil dan tingkat upah lebih kompetitif.
Baca Juga: Kolaborasi Penanganan Kanker di Indonesia Perlu Diperkuat Meski demikian, fokus peningkatan daya saing dinilai perlu diarahkan pada seberapa besar nilai yang dapat dihasilkan dari setiap jam kerja. Berdasarkan analisis Vector, perbaikan eksekusi produksi berpotensi meningkatkan efisiensi lini jahit sebesar 20%–30%, memangkas
lead time sekitar 20%–30%, serta meningkatkan kinerja pengiriman hingga lebih dari 90% secara
On-Time In-Full (OTIF). Peningkatan tersebut tidak hanya membantu menekan biaya produksi, tetapi juga membuat produsen lebih mampu memenuhi kebutuhan pasar secara cepat dan andal. “Pada akhirnya, yang dibeli oleh global buyers bukan hanya produk, tetapi juga kepercayaan,” kata Rajesh. Menurut dia, pemasok yang mampu menjaga konsistensi kualitas, volume, dan waktu pengiriman memiliki peluang lebih besar mendapatkan pesanan berulang serta membangun hubungan jangka panjang dengan pembeli global.
Baca Juga: JSMR Beri Pinjaman Rp 89,6 Miliar ke Anak Usaha Jasamarga Jogja Bawen Optimalisasi Kapasitas Buka Peluang Ekspor Vector memperkirakan peningkatan produktivitas dapat membuka peluang tambahan ekspor garmen Indonesia hingga sekitar US$ 2 miliar. Namun, potensi tersebut bergantung pada kemampuan industri membenahi sejumlah persoalan operasional. Vector mengidentifikasi beberapa hambatan utama, antara lain ketidakstabilan ketersediaan material, perencanaan produksi yang belum sepenuhnya selaras dengan kondisi pabrik, serta variasi dalam pelaksanaan proses produksi di lantai pabrik.
Baca Juga: Diversifikasi Non-Otomotif Jadi Andalan, Cipta Perdana (PART) Incar Laba Bersih Naik Persoalan tersebut saling berkaitan. Keterlambatan material, misalnya, dapat memicu perubahan rencana produksi yang kemudian mengganggu stabilitas lini jahit dan jadwal pengiriman. Karena itu, pembenahan tidak cukup dilakukan hanya pada satu tahapan produksi. Produsen perlu memperkuat koordinasi antara tim
sales, planning, dan
procurement, meningkatkan akurasi perencanaan kapasitas hingga tingkat style, serta memastikan material tersedia sesuai kebutuhan produksi. Optimalisasi kapasitas juga berpotensi memberikan dampak terhadap kondisi keuangan perusahaan. Dengan memanfaatkan kapasitas yang tersedia secara lebih optimal, produsen dapat menerima lebih banyak pesanan tanpa harus menambah investasi modal dalam proporsi yang sama. Tambahan laba yang diperoleh selanjutnya dapat dialokasikan untuk investasi teknologi, modernisasi mesin maupun ekspansi kapasitas ketika dibutuhkan.
Baca Juga: BMI Siap Gandakan Kapasitas Produksi: Genjot Ekspor Produk Hasil Laut & Perikanan Perlu Dukungan Ekosistem Meski sebagian ruang perbaikan berada dalam kendali produsen, pemerintah tetap memiliki peran penting dalam memperkuat daya saing industri garmen nasional. Rajesh mengatakan kebijakan perdagangan, infrastruktur, serta iklim usaha yang kondusif tetap diperlukan untuk mendukung pertumbuhan industri dalam jangka panjang. Di sisi lain, asosiasi industri dapat berperan sebagai wadah untuk memperkuat koordinasi, membangun dialog dengan pemerintah, serta mengidentifikasi persoalan yang dihadapi pelaku usaha secara bersama-sama. Peluang peningkatan daya saing juga terbuka bagi pelaku usaha skala kecil dan menengah. Bagi kelompok ini, peluang tidak selalu harus ditempuh melalui peningkatan skala produksi secara agresif, melainkan dengan menjadi bagian dari rantai pasok yang konsisten, responsif, dan dapat diandalkan. Dalam jangka panjang, peningkatan profitabilitas juga dapat membuka ruang investasi yang lebih strategis, termasuk integrasi vertikal melalui penguatan produksi tekstil, trims, serta komponen pendukung lainnya di dalam negeri.
Baca Juga: Kadin: IEU-CEPA Harus Dorong Ekspor Produk Bernilai Tambah Rajesh menilai Indonesia tidak perlu membangun kembali industri garmen dari awal. Industri nasional telah memiliki basis manufaktur, tenaga kerja, serta hubungan dengan global
buyers. “Peluang terbesar saat ini adalah meningkatkan nilai dan daya saing dari kapabilitas yang sebenarnya sudah dimiliki industri,” ujarnya. Dengan peningkatan produktivitas, stabilitas operasional, dan rantai pasok yang lebih responsif, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai basis produksi dan
sourcing garmen di pasar global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News