Venezuela Lumpuh Diguncang Gempa Kembar M 7,5, Korban Diperkirakan Terus Bertambah



KONTAN.CO.ID - Venezuela berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan ratusan warga yang masih terjebak di bawah reruntuhan setelah dua gempa bumi dahsyat mengguncang wilayah sekitar ibu kota Caracas.

Bencana tersebut telah menewaskan ratusan orang, merusak ratusan bangunan, dan menyebabkan puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal.

Baca Juga: Bos Kripto China Buron, Diduga Terkait Penipuan Investasi dan Judi Online


Mengutip Reuters, gempa berkekuatan magnitudo 7,2 mengguncang sekitar 160 kilometer di sebelah barat Caracas pada Rabu (24/6) malam waktu setempat.

Kurang dari satu menit kemudian, gempa kedua berkekuatan magnitudo 7,5 menyusul, menjadi gempa terkuat yang melanda Venezuela sejak tahun 1900 menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).

Bencana tersebut menghantam negara yang selama bertahun-tahun dilanda krisis ekonomi sehingga infrastruktur menjadi rapuh dan menyulitkan proses evakuasi. Gempa susulan juga terus mengguncang Caracas dan wilayah pesisir di sekitarnya.

Menteri Kesehatan Venezuela Carlos Alvarado mengatakan, hingga Kamis malam sedikitnya 235 jenazah telah diterima di berbagai fasilitas kesehatan. Namun, pemerintah belum mengumumkan jumlah korban jiwa secara resmi.

Sementara itu, Ketua Majelis Nasional Venezuela Jorge Rodriguez sebelumnya menyebut sekitar 200 orang masih terjebak di bawah reruntuhan, sedangkan sekitar 250 bangunan mengalami kerusakan berat atau hancur.

Sedikitnya delapan rumah sakit, kantor pusat Palang Merah Venezuela, serta Kedutaan Besar Prancis dilaporkan mengalami kerusakan serius.

Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello mengatakan, sekitar 70.000 keluarga di negara bagian La Guaira terdampak bencana tersebut.

Baca Juga: Inflasi Inti Tokyo Naik pada Juni, Sinyal BOJ Masih Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga

La Guaira berubah menjadi zona bencana

La Guaira, wilayah pesisir yang berbatasan langsung dengan Caracas dan menjadi lokasi bandara internasional utama Venezuela, menjadi salah satu daerah yang mengalami kerusakan paling parah.

Presiden sementara Delcy Rodriguez menyebut kawasan tersebut telah berubah menjadi "zona bencana". Pemerintah kini bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk mendatangkan alat berat guna mempercepat proses penyelamatan korban.

Baca Juga: Harga Emas Bersiap Catat Penurunan Mingguan Keempat Jumat (26/6), Dolar AS Perkasa

Pasokan listrik masih terganggu di sebagian wilayah La Guaira. Bandara Caracas juga ditutup setelah mengalami kerusakan. Rekaman video dari lokasi menunjukkan kepanikan penumpang ketika plafon bangunan runtuh.

Tim penyelamat bersama para relawan terus mencari korban hingga malam hari. Namun, sejumlah warga mengeluhkan lambatnya bantuan pemerintah.

Salah satunya Yamileth Jimenez yang mengatakan putranya yang berusia 19 tahun masih terjebak di bawah reruntuhan apartemen tujuh lantai tempat mereka tinggal.

"Anak saya masih berada di bawah beton, tetapi tidak ada alat berat untuk mengeluarkannya," ujarnya.

Di Kota La Guaira, para relawan menggali puing-puing hanya dengan tangan kosong, sementara keluarga korban menunggu kabar mengenai kerabat yang hilang.

Baca Juga: Harga Minyak Bersiap Catat Penurunan Mingguan 7%, Pasokan dari Selat Hormuz Mengalir

Puluhan ribu orang belum diketahui nasibnya

Di sepanjang jalan Caracas-La Guaira, warga sipil membawa air minum, makanan, dan obat-obatan menuju wilayah terdampak untuk membantu proses penyelamatan.

"Kami kehilangan segalanya. Tidak ada makanan maupun obat-obatan. Kami berharap bantuan segera datang," kata Pedro Perez, pemilik usaha pelapis furnitur yang kehilangan rumah dan tempat usahanya.

Saat gempa terjadi, banyak warga sedang berada di rumah karena bertepatan dengan hari libur nasional. Mereka berlarian keluar ketika bangunan berguncang dan sebagian roboh.

Di dekat pusat gempa di Kota Moron, Negara Bagian Carabobo, banyak rumah ambruk dan ribuan warga kehilangan akses air bersih serta listrik.

Sekitar 200 keluarga yang tinggal di kompleks perumahan yang rusak berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan, sementara sebagian lainnya menunggu pemerintah membuka tempat penampungan darurat.

Situs pelacak orang hilang yang dibagikan kelompok oposisi mencatat lebih dari 46.000 orang belum diketahui keberadaannya hingga Kamis malam. Reuters menyebut angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Model prediksi USGS memperkirakan jumlah korban jiwa masih berpotensi meningkat hingga ribuan orang, bahkan terdapat kemungkinan korban meninggal melampaui 10.000 jiwa.

Baca Juga: Yen Tertekan Dekati Rekor Terendah Sejak 1986, Dolar AS Masih Perkasa

Bantuan internasional mulai berdatangan

Sejumlah negara menyatakan siap memberikan bantuan kepada Venezuela, termasuk negara-negara yang selama ini memiliki hubungan diplomatik yang kurang baik dengan Caracas.

Pemerintah Venezuela menyampaikan tim penyelamat internasional segera tiba dan mengucapkan terima kasih kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump maupun Presiden Rusia Vladimir Putin atas dukungan yang diberikan.

Pemerintah AS juga melonggarkan sementara sebagian sanksi agar transaksi yang berkaitan dengan bantuan kemanusiaan dapat dilakukan.

Trump mengatakan Amerika Serikat "siap membantu sepenuhnya", sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan Washington akan mengirim tim penyelamat dan dukungan logistik, termasuk membantu operasional bandara Caracas yang rusak.

Baca Juga: Drama Suksesi JPMorgan Berlanjut, Jamie Dimon Bertahan, Kandidat Pewaris Mengerucut

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengoordinasikan pengiriman tim penyelamat internasional. Kepala bantuan kemanusiaan PBB Tom Fletcher menilai dibutuhkan upaya kolektif berskala besar, mengingat sebelum gempa pun sekitar 8 juta warga Venezuela telah membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Di sektor energi, sejumlah perusahaan migas asing menyatakan operasional mereka belum mengalami gangguan besar. Infrastruktur minyak Venezuela juga dilaporkan relatif selamat dari kerusakan parah, sehingga produksi minyak sejauh ini masih dapat dipertahankan.