KONTAN.CO.ID - HANOI. Vietnam mendorong perusahaan teknologi global, Qualcomm dan Samsung Electronics, untuk memperluas investasi di bidang kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, serta penelitian dan pengembangan (R&D). Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Vietnam untuk memperkuat posisi sebagai pusat inovasi teknologi di kawasan. Dorongan itu disampaikan dalam pertemuan para pemimpin Vietnam dengan jajaran eksekutif Qualcomm dan Samsung Electronics di Hanoi pada Kamis (27/8/2026). Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam sekaligus Presiden Vietnam To Lam meminta Chief Executive Officer Qualcomm Cristiano Amon meningkatkan investasi perusahaan di Vietnam, khususnya pada sektor AI, semikonduktor, robotika, teknologi 5G dan 6G, pusat data, serta teknologi konektivitas generasi berikutnya.
Menurut pernyataan pemerintah Vietnam, Lam mengatakan negaranya tengah mengubah model pertumbuhan ekonomi dengan mengandalkan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, transformasi digital, dan kecerdasan buatan. Ia juga menyambut baik peningkatan investasi perusahaan teknologi global di Vietnam.
Baca Juga: Tencent Rilis Model AI Open Source Baru, Punya 770 Miliar Parameter Dalam pertemuan tersebut, Cristiano Amon mengatakan Qualcomm ingin mengembangkan kehadirannya di Vietnam sehingga negara tersebut dapat menjadi pusat penelitian dan pengembangan kecerdasan buatan terbesar ketiga Qualcomm di dunia. Qualcomm saat ini telah mengoperasikan pusat R&D di Hanoi. Perusahaan tersebut juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan Vietnam, termasuk Viettel dan VinSmart.
Vietnam Perkuat Posisi sebagai Basis Teknologi
Pemerintah Vietnam melihat investasi perusahaan teknologi global sebagai salah satu faktor penting untuk mempercepat transformasi ekonomi dan meningkatkan kapasitas industri domestik. Pengembangan AI, semikonduktor, robotika, pusat data, serta jaringan komunikasi generasi baru dinilai dapat memperkuat ekosistem teknologi sekaligus menciptakan peluang bagi perusahaan lokal untuk masuk lebih jauh ke dalam rantai pasok global. Selain Qualcomm, pemerintah Vietnam juga mendorong Samsung Electronics untuk meningkatkan perannya dalam pengembangan industri teknologi dan manufaktur nasional. Pada hari yang sama, Perdana Menteri Vietnam Le Minh Hung bertemu dengan CEO Samsung Electronics Roh Tae-moon. Dalam pertemuan tersebut, Hung mengatakan Vietnam menginginkan Samsung tetap menjadi mitra utama dalam memperkuat kemampuan teknologi negara, mengembangkan basis industri, serta memperdalam integrasi Vietnam ke dalam rantai nilai global.
Baca Juga: Bursa Saham Inggris Menguat, Investor Menanti Pidato Ketua The Fed di Jackson Hole Hung juga memuji kontribusi Samsung terhadap perkembangan industri dan ekspor Vietnam. Menurutnya, Vietnam merupakan salah satu pusat manufaktur Samsung yang paling penting di dunia.
Ekspor Samsung dari Vietnam Capai US$500 Miliar
Besarnya peran Samsung dalam perekonomian Vietnam tercermin dari nilai ekspornya. Menurut pernyataan pemerintah Vietnam, total ekspor dari entitas manufaktur ponsel Samsung di Vietnam telah mencapai US$500 miliar hingga akhir Juni 2026 sejak perusahaan mulai berproduksi di negara tersebut 17 tahun lalu. Samsung sejauh ini telah menginvestasikan sekitar US$24 miliar di Vietnam. Investasi tersebut menjadikan Vietnam sebagai salah satu basis produksi utama Samsung secara global, terutama untuk perangkat elektronik dan telepon seluler. Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Le Minh Hung, Roh Tae-moon mengatakan Samsung berencana menambah investasi dan meningkatkan pelatihan di Vietnam. "Samsung berencana melakukan lebih banyak investasi dan pelatihan di Vietnam, serta bekerja sama dengan pemerintah untuk memungkinkan perusahaan-perusahaan lokal berpartisipasi lebih dalam dalam rantai pasok global Samsung," kata Roh, sebagaimana dikutip dalam pernyataan pemerintah Vietnam.
Baca Juga: Selat Hormuz Kembali Dibuka? Iran Siapkan Syarat untuk Pulihkan Jalur Pelayaran Vietnam Incar Rantai Pasok Teknologi Global
Langkah Vietnam mendekati Qualcomm dan Samsung menunjukkan strategi negara tersebut untuk tidak hanya menjadi lokasi manufaktur, tetapi juga meningkatkan kapasitas teknologi dan penelitian.
Pemerintah Vietnam mendorong perusahaan multinasional memperluas kegiatan R&D sekaligus melibatkan lebih banyak perusahaan lokal dalam rantai pasok. Bagi Vietnam, pengembangan ekosistem semikonduktor dan AI menjadi semakin strategis seiring meningkatnya permintaan global terhadap teknologi canggih. Dengan memperluas investasi pada AI, semikonduktor, pusat data, robotika, serta konektivitas 5G dan 6G, Vietnam berupaya membangun fondasi ekonomi berbasis teknologi dan inovasi. Jika strategi tersebut berhasil, Vietnam berpeluang meningkatkan posisi dalam rantai nilai industri teknologi global sekaligus menarik investasi baru dari perusahaan multinasional di sektor bernilai tambah tinggi.