Vietnam Targetkan Rasio Jenis Kelamin Bayi Kembali Normal pada 2035



KONTAN.CO.ID - Pemerintah Vietnam menargetkan rasio jenis kelamin saat lahir kembali ke tingkat alami sekitar 106 bayi laki-laki untuk setiap 100 bayi perempuan pada 2035.

Target tersebut tercantum dalam rancangan rencana Kementerian Kesehatan Vietnam yang mengusulkan sejumlah langkah untuk menekan praktik pemilihan jenis kelamin bayi.

Baca Juga: Ekonomi Thailand Tumbuh 1,9% di Kuartal II 2026, Lampaui Perkiraan


Mengutip Reuters, Senin (17/8/2026), rancangan tersebut dirilis untuk konsultasi pada Sabtu (15/8) dan telah ditinjau oleh Reuters.

Pemerintah Vietnam menargetkan rasio jenis kelamin saat lahir turun menjadi di bawah 109 bayi laki-laki per 100 bayi perempuan pada 2030, sebelum mencapai tingkat alami sekitar 106 per 100 pada 2035.

Ketimpangan rasio kelahiran bayi laki-laki dan perempuan di Vietnam telah menjadi salah satu yang tertinggi di Asia selama bertahun-tahun.

Dalam rancangan tersebut disebutkan, rasio kelahiran mencapai 112,2 bayi laki-laki per 100 bayi perempuan pada 2016.

Angka tersebut kemudian mencapai puncak 114,8 pada 2018, sebelum turun menjadi sekitar 110 pada 2025.

Baca Juga: Mata Uang Asia Menguat Senin (17/8), Dolar Taiwan Pimpin Kenaikan

Perketat Larangan Seleksi Jenis Kelamin

Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Kesehatan Vietnam mengusulkan penegakan hukum yang lebih ketat terhadap praktik pemilihan jenis kelamin janin.

Pemerintah juga berencana meningkatkan pemeriksaan terhadap fasilitas kesehatan, memperketat pemantauan iklan layanan pemilihan jenis kelamin di internet, serta memperluas kampanye edukasi kepada masyarakat.

Kementerian Kesehatan Vietnam menyebut ketimpangan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama preferensi terhadap anak laki-laki yang masih kuat di masyarakat.

Tekanan untuk memiliki penerus laki-laki, semakin kecilnya jumlah anggota keluarga serta kemudahan akses terhadap teknologi untuk mengetahui jenis kelamin janin sebelum kelahiran juga turut memperparah ketimpangan.

Pemerintah menilai ketidakseimbangan tersebut dapat menimbulkan persoalan demografi dan sosial dalam jangka panjang.

Baca Juga: Bursa Australia Terkoreksi Senin (17/8), Kinerja NAB dan JB Hi-Fi Tekan Pasar

Rancangan tersebut memperingatkan bahwa kelebihan jumlah laki-laki berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan di pasar perkawinan, meningkatnya ketimpangan gender, kekerasan berbasis gender, perdagangan perempuan dan anak perempuan, serta tantangan yang lebih luas terhadap stabilitas sosial.

Melalui target 2035 tersebut, pemerintah Vietnam berupaya mengurangi preferensi terhadap anak laki-laki sekaligus memastikan komposisi penduduk di masa mendatang lebih seimbang.