Vietnam Tegaskan Komitmen Atasi Kekhawatiran AS soal Transshipment Barang



KONTAN.CO.ID - HANOI. Pemerintah Vietnam menegaskan akan terus merespons kekhawatiran Amerika Serikat (AS) terkait praktik transshipment atau pengiriman barang melalui negara ketiga secara konstruktif. Isu tersebut menjadi perhatian Washington karena berpotensi digunakan untuk menghindari bea masuk AS.

Kementerian Luar Negeri Vietnam menyampaikan pernyataan tersebut pada Kamis (20/8/2026), setelah AS sebelumnya menyebut kehilangan potensi penerimaan tarif tahunan sebesar sekitar US$19 miliar hingga US$26 miliar akibat barang yang dialihkan melalui negara ketiga.

Sebagian besar barang tersebut disebut berasal dari China dan dikirim melalui negara lain, termasuk Vietnam, sebelum memasuki pasar AS untuk menghindari bea masuk yang berlaku.


Juru bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam Pham Thu Hang mengatakan pemerintahnya akan terus membuka dialog dengan AS mengenai persoalan tersebut.

"Kami akan terus terlibat dalam dialog mengenai kekhawatiran AS secara konstruktif dan sesuai dengan Kemitraan Strategis Komprehensif Vietnam-AS," kata Pham Thu Hang dalam konferensi pers rutin di Hanoi, Kamis.

Baca Juga: Impor Batubara China Meningkat, Impor dari Indonesia Naik 20% di Bulan Juli

Menurut dia, pendekatan tersebut penting untuk menjaga hubungan ekonomi dan perdagangan antara Vietnam dan AS tetap stabil serta saling menguntungkan.

"Hal ini akan membantu mempertahankan pertumbuhan hubungan ekonomi dan perdagangan yang stabil dan saling menguntungkan antara kedua negara, sekaligus berkontribusi pada terciptanya lingkungan investasi dan bisnis yang transparan dan sejahtera di Vietnam," ujarnya.

Persoalan transshipment menjadi isu penting dalam hubungan perdagangan Vietnam-AS karena Vietnam merupakan salah satu negara yang disebut Washington sebagai jalur transit bagi barang yang berasal dari China.

AS menilai praktik tersebut dapat memungkinkan produk yang sebenarnya berasal dari China masuk ke pasar AS melalui negara ketiga dan memperoleh perlakuan tarif yang berbeda. Kondisi itu berpotensi mengurangi penerimaan bea masuk sekaligus menyulitkan otoritas AS dalam memastikan asal barang.

Bagi Vietnam, isu tersebut juga memiliki implikasi terhadap hubungan dagang dengan AS yang selama ini terus berkembang. Karena itu, pemerintah Vietnam memilih pendekatan dialog dan kerja sama untuk merespons kekhawatiran Washington.

Baca Juga: Qatar Kritik AFC soal Surat Terbuka yang Serang Presiden FIFA Gianni Infantino

Pernyataan Kementerian Luar Negeri Vietnam menunjukkan upaya Hanoi menjaga hubungan perdagangan dengan AS tetap positif, sembari merespons tuntutan Washington terkait transparansi asal barang dan pencegahan penghindaran tarif.

Hubungan ekonomi kedua negara menjadi semakin penting bagi Vietnam di tengah peran perdagangan internasional terhadap pertumbuhan ekonominya. Sementara bagi AS, pengawasan terhadap jalur masuk barang dari China menjadi bagian dari upaya memastikan penerapan kebijakan tarif berjalan sesuai ketentuan.

Dengan demikian, penyelesaian isu transshipment berpotensi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan hubungan perdagangan Vietnam dan AS ke depan.