KONTAN.CO.ID - Pemimpin nasionalis Hungaria, Viktor Orban, resmi kehilangan kekuasaan setelah 16 tahun berkuasa. Kekalahan tersebut terjadi dalam pemilu nasional yang dimenangkan oleh partai oposisi tengah-kanan Tisza, yang dipimpin oleh Peter Magyar. Kemenangan oposisi diperkirakan akan membawa perubahan signifikan dalam hubungan Hungaria dengan Uni Eropa. Selama kepemimpinan Orban, Hungaria kerap bersikap konfrontatif terhadap kebijakan induk organisasi negara Eropa tersebut.
Baca Juga: Jejak Relasi Jeffrey Epstein: Ini Daftar Politikus dan Miliarder yang Terkait Awal Karier dan Kebangkitan Politik
Viktor Orban lahir pada 1963 dan mulai dikenal publik sejak akhir 1980-an sebagai aktivis pro-demokrasi. Ia merupakan salah satu tokoh muda yang vokal menentang pengaruh Soviet di Hungaria. Karier politiknya melejit saat ia memimpin partai Fidesz, yang awalnya berhaluan liberal sebelum berubah menjadi konservatif nasionalis. Orban pertama kali menjabat sebagai perdana menteri pada 1998, sebelum kembali berkuasa pada 2010 dan mempertahankan posisi tersebut selama empat periode berturut-turut. Di bawah kepemimpinannya, Orban membangun citra sebagai pemimpin kuat yang menekankan kedaulatan nasional, identitas budaya, dan nilai-nilai Kristen tradisional.
Baca Juga: Min Aung Hlaing Presiden, Militer Myanmar Pegang Kendali Kabinet Ikon Konservatif di Eropa dan Amerika Serikat
Selama menjabat, Orban menjadi sosok yang dikagumi kalangan konservatif di Eropa dan Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai arsitek model politik “illiberal” yang menantang pendekatan demokrasi liberal Barat. Namun, menurut laporan
Reuters, popularitasnya di dalam negeri menurun seiring meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi, isolasi internasional, serta tudingan bahwa oligarki memperkaya diri. Orban dikenal memiliki hubungan dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan menjadi sekutu utama Moskow di dalam Uni Eropa. Ia juga mendapatkan dukungan dari lingkaran politik Amerika Serikat, termasuk mantan Presiden Donald Trump. Bahkan, Wakil Presiden AS JD Vance sempat mengunjungi Budapest menjelang pemilu. Namun, kampanyenya sempat diguncang laporan media yang menuduh pemerintahannya berkolaborasi dengan Moskow dalam urusan diplomatik dan politik. Orban membantah tuduhan tersebut.
Baca Juga: Presiden ICRC Kritik Ancaman Trump: Perang Tak Boleh Abaikan Nilai Kemanusiaan Kekalahan dan Akhir Kekuasaan
Mengutip
Reuters, partai Tisza diproyeksikan meraih sekitar 138 dari total 199 kursi parlemen. Jumlah tersebut cukup untuk mengamankan mayoritas dua pertiga. Orban mengakui hasil tersebut dan menyebutnya sebagai keputusan yang “menyakitkan, tetapi jelas”. Kekalahan ini mengakhiri kekuasaannya yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Tingkat partisipasi pemilih yang tinggi dalam pemilu ini menunjukkan besarnya harapan masyarakat terhadap perubahan. Dalam pidato kemenangannya di Budapest, Magyar menyebut hasil ini sebagai momen bersejarah. Ia menegaskan bahwa rakyat Hungaria telah “merebut kembali negara mereka” dan mengakhiri sistem yang dibangun Orban selama lebih dari satu dekade.
Baca Juga: Paus Leo Akhirnya Serang Trump, Vatikan Ambil Sikap Tegas Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News