Vina Muliana: Tren Industri Dunia Kerja Beralih ke Skill-Based Hiring



KONTAN.CO.ID - Di sela kemeriahan Money Fest 2026, KONTAN sempat berbincang khusus dengan Vina Muliana, selepas ia menjadi narasumber dalam talkshow Navigating Your Future Path. Konten kreator sekaligus praktisi HR ini berbagi pandangannya seputar realita dunia kerja hingga peluang karier bagi Gen Z di masa depan. Berikut petikannya.

Bagaimana Anda melihat fenomena Gen Z yang dipersepsikan kurang tangguh menghadapi tekanan di tempat kerja?

Sebenarnya saya tidak terlalu setuju dengan persepsi ini. Itu cuma cara mereka untuk bisa beradaptasi di lingkungan kerja, yang asing bagi mereka yang baru pertama kali bekerja. Selama berbelas tahun mereka menjadi siswa dan mahasiswa yang pekerjaan utamanya belajar. Lalu untuk pertama kalinya mereka bisa punya hidup sendiri dari dunia kerja. Akhirnya responnya jadi seperti itu. Mungkin cara yang paling baik menurut saya, perusahaan bisa mendampingi. Mendampingi bagaimana Gen Z ini untuk bisa tetap beradaptasi, berkontribusi, dan bisa memaksimalkan potensinya masing-masing di setiap profesi yang akhirnya mereka pilih di perusahaan.


Di sisi lain, Gen Z kerap merasa tertekan dengan beban kerja yang tinggi. Tanggapan Anda?

Dulu waktu baru 2—3 tahun pertama kali bekerja, saya pernah mendapatkan nasihat karier yang bagus sekali dari bos dan mentor saya. Dia bilang, saat pertama kali bekerja dan punya kebebasan untuk memilih pekerjaan yang cocok, jangan jadikan gaji sebagai indikator utama. Katanya, carilah pekerjaan yang bisa membuat kamu paling banyak belajar. Pembelajaran di setiap pekerjaan itu berbeda-beda, salah satu caranya dengan mengerjakan tugas yang rasanya tidak habis-habis. Bagi teman-teman yang mungkin baru 1—5 tahun bekerja, lelah saat mengerjakan tugas, mengelola atasan, dan segala macam bisa terasa sangat menyebalkan. Tapi justru dalam jangka panjang 10—15 tahun ke depan, pengalaman ini yang akhirnya bisa membentuk diri teman-teman untuk bisa naik ke posisi lebih tinggi atau posisi leadership nantinya.

Bagaimana tanggapan Anda tentang pekerjaan sampingan atau side hustle yang sedang ramai dibahas?

Hasil jurnalisme data terbaru mengungkapkan sekarang side job bukan lagi pilihan, tapi keharusan karena kondisi ekonomi. Jika teman-teman memilih untuk punya side job, harus mengelola fokusnya. Supaya pekerjaan utama dan kesehatan mental tetap terjaga. Pahami setiap pekerjaan ada waktunya masing-masing dan dalam jangka waktu tersebut kita harus benar-benar fokus dengan pekerjaan itu.

Apakah dalam jangka panjang tren ini bisa mempengaruhi preferensi generasi muda dalam memilih pekerjaan?

Memiliki pekerjaan tidak tetap bisa menjadi pilihan, tapi bukan keharusan. Apakah cocok untuk semua orang? Mungkin tidak. Walaupun terdengar menyenangkan, bisa bekerja dari mana saja, tapi di balik itu tidak ada jaminan jenjang kariernya. Bahkan, bisa diputus kapan saja. Bagi teman-teman yang merasa dirinya suka kebebasan, lebih memilih fleksibilitas waktu, atau ingin bekerja lebih dekat dengan orang tua, pekerjaan tidak tetap bisa jadi salah satu pilihan. Tapi untuk teman-teman yang memang mengincar stabilitas, jenjang karier, atau bisa bekerja dengan perusahaan dengan sistem yang lebih utuh, pilihannya memang harus bekerja korporat.

Di tengah dinamika tuntutan dunia kerja, apa keahlian yang perlu dimiliki Gen Z?

Soft skill seperti agility to learn menurut saya penting sekali di era seperti sekarang ini, saat kondisi perekonomian tidak menentu. Simpelnya kemampuan untuk terus belajar, bertumbuh, dan rasa ingin tahu yang tinggi. Kenapa ini penting sekali? Karena dengan memiliki skillset ini, kita jadi paham apa yang harus dipelajari, apa yang perlu kita pelajari lagi. Akhirnya kita bisa tumbuh dari kemampuan terdalam manusia, yaitu kemampuan adaptasi. Kemampuan adaptasi itu tumbuhnya dari rasa ingin tahu tadi.

Sekarang tren industri di dunia pekerjaan bukan hanya profession-based hiring, tapi skill-based hiring. Misalnya saya punya skill yang kuat sekali di bidang komunikasi. Bukan cuma berbicara, tapi juga bisa menulis, menggabungkan informasi, menganalisis, mempersuasi, bernegosiasi, pokoknya semua skill komunikasi gitu. Kemungkinan profesinya bisa banyak sekali. Saya bisa jadi guru, content creator, produser, creative director, mentor, bahkan kemudian bisa jadi pebisnis yang memiliki agency juga.

Pesan untuk Gen Z yang mulai terjun ke dunia kerja?

Untuk yang mau mulai bekerja, pilih pekerjaan yang paling pas dengan kita, itu dimulai dengan mengenali diri kita sendiri. Karena kalau kita tidak mengenali diri kita sendiri, menurut saya apapun pekerjaannya, apapun profesinya, apapun kariernya, kita tidak akan pernah merasa cukup.

Untuk perusahaan, khususnya teman-teman HR, tugas kita sebagai seorang praktisi HR itu cuma satu, yaitu menciptakan ekosistem yang positif, mendukung dan memungkinkan setiap pegawai di perusahaan untuk bertumbuh. Setiap pegawai juga punya kesempatan untuk bisa mencapai potensi terbaiknya dengan program-program yang dimiliki oleh perusahaan. Caranya bukan cuma lewat gaji, tapi juga ada program-program lain yang akhirnya bisa membuat mereka paham bahwa potensi yang mereka miliki itu bisa dimaksimalkan dan disalurkan di perusahaan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News