Virginia America, maskapai paling nyentrik se-Amerika



LOS ANGELES. Maskapai Virgin America mungkin perusahaan yang paling percaya diri atas kondisi internalnya. Meski secara finansial buruk, perusahaan yang sebagian kecil sahamnya dikuasai miliuner Richard Branson, penyedia jasa transportasi udara ini teap yakin atas masa depan bisnis maskapainya.Bisa dibilang, salah satu anak perusahaan Virgin Group itu nelangsa karena hanya menikmati satu kuartal menikmati profit setelah lima tahun beoperasi. Anehnya, sang Bos malah terus merekrut 500 pegawai baru di saat maskapai lain memangkas karyawan tahun lalu. "Kalau kita cuma mau mencetak profit maka berhentilah berekspansi," ucapnya seperti dilansir Los Angeles Times, Jumat (13/1).Saat dirilis 2007, maskapai itu mendeklarasikan diri menjadi penyedia layanan berbiaya murah alias low cost carrier (LCC). Meski begitu, penumpang mendapat fasilitas mewah. Misalnya, sistem hiburan layar sentuh, internet tanpa kabel, dan kabin dengan nuansa cahaya lembut.

Dalam mengelola bisnis maskapai ini, Virgin Group mengantongi saham sebesar 25%, sisanya menjadi milik VAI Partner yang merupakan konsorsium banyak investor asal Amerika Serikat (AS).Tercatat sampai saat ini, Virginia America memiliki 2.200 karyawan dan terbang menyinggahi 16 bandara di AS dan Meksiko. Virgin America berkompetisi langsung dengan Soutwest Airlines dan JetBlue, sesama penyedia LCC. Tidak cuma itu, hampir 80% rute penerbangannya sudah melampaui maskapai besar seperti United Air Lines dan American Airlines.Uniknya, maskapai berbasis California itu tidak pernah mengikuti pola penerbangan tradisional. Virgin America pernah menggandeng Victoria Secret memamerkan kreatifitas layananan penerbangan Los Angeles-New York. Pada 2010, maskapai itu malah berani menerbangkan 200 ekor Cihuahua yang telantar untuk keperluan adopsi di New York. Selain beraksi nyentrik, maskapai ini juga memamerkan kreativitas menjadi perusahaan pertama yang menyediakan jaringan di setiap kursi penumpang. Selain itu, Virgin America juga melengkapi kabinnya dengan cahaya lembut yang mampu berganti dari pink menjadi biru dan ungu sesuai kondisi waktu.Fasilitas dan aksi keren maskapai itu berhasil memenangkan hati penumpang usia muda menjadi pelanggan setia. Bahkan, Conde Nast Traveler dan Majalah Travel & Leisure menganugerahi penghargaan pada sebagai maskapai terbaik mengalahkan perusahaan besar dan untung lainnya.Analis Standard & Poor's Betsy Snyder menilai, maskapai itu mampu mengisi kekosongan di saat perusahaan lain memangkas kapasitas. Konsumen yang pernah menerbangi maskapai ini tetap mendapat layana prima.Hanya, apakah penghargaan itu bisa mendatangkan untung? Managing Partner Airline Weekly Seth Kaplan menilai, Virgin America sudah harus mulai menggali ceruk penghasilan untuk perusahaannya.


Editor: Asnil Amri