Virus Marburg yang Mematikan Muncul Lagi di Afrika, Apa Itu Virus Marburg?



KONTAN.CO.ID - ACCRA. Ghana mengumumkan temuan awal dari dua kasus penyakit virus Marburg, dan jika terkonfirmasi, ini akan menjadi infeksi pertama yang tercatat di negara tersebut. Apa itu Marburg?

Marburg adalah virus demam berdarah yang sangat menular, masuk dalam keluarga yang sama dengan penyakit virus Ebola.

Analisis awal sampel yang diambil dari dua pasien oleh Institut Penelitian Medis Noguchi Memorial, Ghana, menunjukkan, positif terpapar Marburg. 


Namun, sesuai prosedur standar, sampel harus dikirim ke Institut Pasteur di Senegal, Pusat Kolaborasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), untuk konfirmasi. 

Baca Juga: WHO peringatkan kemunculan virus Marburg yang ganas, ini gejalanya

Dua pasien dari wilayah Ashanti, Ghana selatan – keduanya meninggal dan tidak saling – menunjukkan gejala termasuk diare, demam, mual, dan muntah. Mereka sempat menjalani perawatan di rumahsakit di Ashanti.

Persiapan untuk kemungkinan respons wabah sedang WHO siapkan dengan cepat saat penyelidikan lebih lanjut sedang berlangsung.

"Kami bekerja sama dengan negara untuk meningkatkan deteksi, melacak kontak, siap mengendalikan penyebaran virus,” kata Dr Francis Kasolo, Perwakilan WHO di Ghana, dalam keterangan tertulis, Jumat (8/7), yang Kontan.co.id terima.

WHO mengerahkan para ahli untuk mendukung otoritas kesehatan Ghana dengan memperkuat pengawasan penyakit, pengujian, pelacakan kontak, dan persiapan untuk merawat pasien.

Baca Juga: Virus Marburg yang mematikan muncul lagi, WHO siapkan rencana kesiapsiagaan

Juga, bekerja dengan masyarakat untuk memperingatkan dan mendidik mereka tentang risiko dan bahaya penyakit virus Marburg, serta  berkolaborasi dengan tim tanggap darurat.

Jika terkonfirmasi, kasus di Ghana akan menandai kedua kalinya Marburg terdeteksi di Afrika Barat. Guinea mengonfirmasi satu kasus dalam wabah yang dinyatakan berakhir pada 16 September 2021, lima minggu setelah kasus awal terdeteksi.

Tingkat kematian pasien Marburg hingga 88%

Wabah sebelumnya dan kasus sporadis Marburg di Afrika telah dilaporkan di Angola, Republik Demokratik Kongo, Kenya, Afrika Selatan, dan Uganda.

Penyakit ini pertama kali terdeteksi pada 1967 silam, menyusul dua wabah besar secara bersamaan di laboratorium di Kota Marburg, Jerman, dan di Beograd, ibu kota Yugoslavia saat itu.

Baca Juga: Moderna Siap Merancang Vaksin untuk 15 Patogen Paling Mengancam di Masa Depan

Marburg ditularkan ke orang-orang dari kelelawar buah dan menyebar di antara manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, permukaan, dan bahan. 

Gejala penyakit ini muncul tiba-tiba, dengan demam tinggi, sakit kepala parah, dan malaise. Banyak pasien mengalami tanda-tanda perdarahan parah dalam waktu tujuh hari.

Tingkat kematian kasus bervariasi, mulai dari 24% hingga 88% pada wabah sebelumnya, tergantung jenis virus dan manajemen kasus.

Meskipun tidak ada vaksin atau perawatan antivirus yang disetujui untuk mengobati Marburg, perawatan suportif berupa rehidrasi dengan cairan oral atau intravena serta pengobatan gejala spesifik, meningkatkan kelangsungan hidup. 

Berbagai perawatan potensial, termasuk produk darah, terapi kekebalan, dan terapi obat, juga meningkatkan kelangsungan hidup pasien Marburg.

Editor: S.S. Kurniawan