VIVA jajaki kerjasama dengan media lain



JAKARTA. Kabar rencana penjualan aset PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) kepada pihak lain sedikit terbuka. Meski belum membenarkan kabar tersebut, tapi manajemen VIVA mengakui, ada penjajakan kerjasama dengan pihak lain.

Neil R Tobing, Chief Counsel dan Sekretaris Perusahaan VIVA menjelaskan, pemegang saham VIVA memang sedang menjajaki kerjasama dengan grup media lain. "Pemegang saham perseroan pernah melakukan penjajakan untuk kemungkinan kerjasama dan sinergi," jelas dia pada keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (5/4).

Namun, Neil mengaku tidak mengetahui, rencana penjualan saham VIVA. "Itu adalah hak dari pemegang saham, kami belum mendapat informasi sehubungan dengan rencana untuk menjual saham VIVA kepada CT Corporation," ujar dia. Sayangnya, Neil enggan menjelaskan lebih lanjut soal bentuk kerjasama dengan grup media lain tersebut.


Sebelumnya, ada kabar Grup Bakrie akan melepas saham VIVA kepada CT Corporation dan MNC Group. Namun kedua manajemen perusahaan itu saat dihubungi beberapa waktu oleh KONTAN, tidak mau banyak bicara. "Saya belum tahu dan sampai saat ini belum terjadi transaksi," kata Direktur CT Corp, Ashish Saboo.

MNC Group juga masih enggan buka-bukaan mengenai rencana mengakuisisi VIVA. "Kita lihat nanti," kata Arya Sinulingga, Juru Bicara MNC Grup.

Namun, kepada Reuters, bos CT Corporation, Chairul Tanjung pernah mengatakan, hendak mengakuisisi saham pengendali VIVA seorang diri tanpa partner manapun. "Kami adalah salah satu penawar utama. Kami mengajukan proposal untuk membeli seluruhnya.. kantong saya masih dalam," ujar Chairul di Resort Bali, beberapa waktu lalu.

Chairul juga sesumbar bahwa akan membeli secara cash 100%. "Namun, transaksi itu masih belum selesai," imbuhnya. Bahkan, dia sudah menyiapkan cara untuk mendanai akuisisi tersebut.

Salah satunya, ia bilang, CT Corp akan mencairkan pinjaman baru. Namun, ia menolak nilai pinjaman tersebut.

Saat ini, pemegang VIVA adalah Banque Pasctle SA PT Bakrie Lobal Venture sebesar 8,74%, Credit Suisse AG SG BR S/A PT Bakrie Lobal Venture 7,88%.Lalu, DBS Vickers (HK) Ltd 6,68%, PT CMA Indonesia 10,4%, Reiffeinsen Bank International AG Singapore Branch 17,77%, serta sisanya masyarakat 48,53%.

Rumor yang beredar nilai akuisisi VIVA bisa sebesar US$ 1,2 miliar - US$ 2 miliar. Harga akuisisi per saham bisa di Rp 1.120. Bila benar, harga itu jauh di atas harga pasar. Kemarin, harga saham VIVA tak bergeming dari Rp 580 per saham.

Harga saham VIVA sempat melonjak 41,05% dalam lima hari bursa. Yaitu dari Rp 475 di 22 Maret menjadi Rp 670 per 1 April.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana