KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Voksel Electric Tbk (
VOKS) memproyeksi industri kabel pada semester II 2026 masih cukup menjanjikan. Berlanjutnya pembangunan infrastruktur kelistrikan, ekspansi pusat data (data center), hingga investasi di sektor industri dan energi diperkirakan tetap menopang permintaan kabel hingga akhir tahun. Direktur Utama PT Voksel Electric Tbk Hua Shun mengatakan, sektor kelistrikan masih menjadi kontributor terbesar terhadap permintaan kabel. Hal ini didukung oleh pembangunan, penguatan, serta modernisasi jaringan transmisi dan distribusi listrik di dalam negeri. "Secara umum, kami melihat prospek industri kabel pada semester II-2026 masih cukup baik. Hal ini didukung oleh berlanjutnya pembangunan infrastruktur, termasuk pengembangan dan penguatan jaringan kelistrikan, infrastruktur digital seperti data center, serta investasi di sektor industri dan energi," ujarnya kepada Kontan, Senin (6/7/2026).
Baca Juga: Amankan Pasokan Batubara PLN, IMEF Desak Pemerintah Segera Evaluasi Harga DMO Selain sektor kelistrikan, Voksel juga mencatat permintaan yang cukup baik berasal dari sektor konstruksi dan infrastruktur, industri manufaktur, telekomunikasi, hingga infrastruktur digital. Sementara itu, sektor energi, baik minyak dan gas maupun energi baru terbarukan (EBT), juga masih menjadi pasar yang potensial bagi perusahaan. Menurut Hua Shun, diversifikasi sektor pengguna tersebut menjadi salah satu kekuatan Voksel karena memungkinkan perusahaan menangkap peluang dari berbagai segmen pasar. Meski demikian, ia mengingatkan realisasi permintaan pada semester II-2026 masih akan dipengaruhi oleh jadwal pelaksanaan proyek, keputusan investasi pelanggan, serta perkembangan kondisi ekonomi. Karena itu, VOKS belum dapat memastikan apakah permintaan pada paruh kedua tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan semester I-2026. Di sisi lain, Voksel menilai sektor kelistrikan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan kabel hingga akhir tahun. Kebutuhan untuk memperkuat dan memodernisasi jaringan transmisi maupun distribusi listrik diperkirakan terus meningkat seiring upaya meningkatkan keandalan sistem kelistrikan nasional dan mendukung pengembangan energi baru terbarukan. Investasi pada infrastruktur digital, khususnya pembangunan data center, juga diperkirakan terus mendorong kebutuhan kabel listrik maupun telekomunikasi. Adapun sektor industri, konstruksi, migas, dan energi masih memiliki peluang pertumbuhan, meskipun realisasinya bergantung pada perkembangan investasi dan pelaksanaan proyek.
Untuk menangkap peluang tersebut, Voksel akan tetap menjaga kesiapan kapasitas produksi, kualitas produk, dan layanan kepada pelanggan. Perusahaan juga terus mengembangkan kapabilitas di bidang solusi energi, termasuk energi baru terbarukan, seiring meningkatnya kebutuhan pasar terhadap transisi energi. Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pabrik Kabel Listrik Indonesia (APKABEL) Noval Jamalullail menyebut salah satu penopangnya adalah penambahan transmisi yang akan dibangun mengikuti Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sepuluh tahun kedepan, yaitu RUPTL 2025-2034. “Prospek bisnis kabel dan konduktor tahun ini akan meningkat pesat khususnya dari sektör ketenagalistrikan. Hal ini terjadi karena dalam 3 tahun kebelakang ini proyek transmisi kurang atau tidak berjalan dengan baik,” ungkap Noval. Tahun ini, APKABEL mencatat terdapat banyak bermunculan tender baru untuk periode 1-3 tahun ke depan. “Investasi pabrik kabel juga naik, dengan adanya 3 anggota pabrik baru dan juga ekspansi dari pabrik-pabrik existing. Lebihnya, kenaikan bervariasi tergantung sektornya, yaitu antara 10-30% sesuai RUPTL yang ada,” jelasnya.
Baca Juga: PGN Bidik Garap Potensi CBM Tanjung Enim, Nilainya Capai US$ 15,4 Miliar Meski begitu, Noval mengatakan gejolak yang saat ini terjadi di Timur-Tengah secara tidak langsung juga berpengaruh pada ekspansi industri kabel di dalam negeri, terutama untuk pasokan bahan baku kabel. “Namun semua ini masih tergantung dari situasi global yang ada di Timur Tengah dan negara lain. Demand and Planning Project pasti ada, tapi bahan baku yang sulit serta mengakibatkan Harga Naik bahkan tidak ada pasokan material, dan kurs USD (dollar) yang juga berpotensi naik terhadap IDR (rupiah),” tutupnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News