Volatile food diperkirakan mengalami deflasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pada Agustus 2018, inflasi diperkirakan kecil. Hal ini disebabkan volatile food yang diperkirakan mengalami deflasi.

Berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan Bank Indonesia pada minggu keempat Agustus, BI memperkirakan bahwa pada Agustus 2018, Indeks Harga konsumen (IHK) akan mencatatkan minus 0,05% mom. Dengan demikian, inflasi secara tahunan diperkirakan sebesar 3,24%.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga memperkirakan, inflasi pada bulan lalu kecil dan didominasi oleh inflasi inti. Ia memperkirakan, inflasi pada Agustus 2018 sekitar 0,06% secara bulanan atau 3,32% secara tahunan.


“Sementara inflasi volatile food diperkirakan mengalami deflasi seiring tren penurunan sebagian besar komoditas pangan sepanjang bulan lalu,” kata Josua kepada Kontan.co.id, Minggu (2/9).

Ia pun memperkirakan, inflasi inti Agustus 2018 sekitar 2,84% secara tahunan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor musiman yakni kenaikan biaya pendidikan memasuki tahun ajaran baru sekolah.

Adapun menurutnya, dampak pelemahan nilai tukar rupiah belum mendorong kenaikan inflasi inti secara signifikan pada bulan Agustus 2018.

“Meski begitu, pemerintah dan BI perlu mengelola stabilitas nilai tukar sedemikian sehingga dapat menjaga ekspektasi inflasi dalam jangka pendek ini,” ucapnya.

Kepala Ekonom Standard Chartered Indonesia Aldian Aldian Taloputra juga melihat, Agustus kemungkinan bakal mencatatkan inflasi tipis. Ia memperkirakan, inflasi Agustus sebesar 0,09% secara bulanan dan 3,35% secara tahunan.

"Kami lihat harga makanan turun tapi harga barang lain masih naik terutama harga makanan olahan dan biaya pendidikan," kata Aldian .

Adapun, ekonom sekaligus Project Consultant Asian Development Bank Institute Eric Sugandi memproyeksi, bulan Agustus belum akan mencatatkan deflasi, melainkan inflasi sebesar 0,15% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan.

Meski demikian, ada potensi deflasi bahan pangan untuk beberapa komoditas seperti cabai dan bawang karena ada tambahan pasokan.

"Sementara, tekanan inflasi datang dari permintaan berkait dengan tahun ajaran baru, dan ada tekanan imported inflation karena pelemahan rupiah," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto