Volatilitas Global Meningkat, KSSK Tegaskan Sistem Keuangan RI Tetap Stabil



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan kondisi stabilitas sistem keuangan (SSK) nasional tetap terjaga hingga Kuartal IV 2025, meski volatilitas pasar keuangan global meningkat memasuki awal 2026.

Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, stabilitas sistem keuangan tetap solid berkat koordinasi dan sinergi kebijakan antarotoritas, yakni Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

“Memasuki Januari 2026, volatilitas pasar keuangan global sempat meningkat, terutama akibat ketegangan perdagangan dan geopolitik. KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking terhadap kondisi perekonomian dan sektor keuangan di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, sekaligus melakukan usaha mitigasi secara terkoordinasi, baik antar lembaga anggota KSSK maupun dengan pemerintah atau lembaga lain,” ujar Purbaya dalam konferensi pers hasil rapat berkala KSSK I tahun 2026 yang digelar pada Selasa (27/1/2026).


Baca Juga: Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono Miliki Harta Rp 74 Miliar, Ini Rinciannya

Purbaya menjelaskan, perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian tinggi. Pada kuartal IV 2025, dinamika ekonomi dunia dipengaruhi oleh perang dagang Amerika Serikat–Tiongkok serta kebijakan moneter The Fed yang lebih agresif. Perlambatan ekonomi AS dan melemahnya pasar tenaga kerja mendorong The Fed memangkas Fed Funds Rate sebesar 50 basis poin ke kisaran 3,50%–3,75%.

Ke depan, ruang penurunan suku bunga acuan AS dinilai semakin terbatas seiring masih tingginya imbal hasil US Treasury dan defisit fiskal AS. Di sisi lain, IMF dalam laporan World Economic Outlook Januari 2026 merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3% untuk tahun 2025 dan 2026.

Di tengah tantangan global tersebut, Purbaya menegaskan ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang kuat. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 diperkirakan lebih tinggi, ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik, membaiknya keyakinan pelaku usaha, serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter.

Sejumlah indikator menguat, seperti PMI Manufaktur yang berada di zona ekspansi, pertumbuhan positif indeks penjualan riil, serta neraca perdagangan yang mencatat surplus.

Penyaluran kredit perbankan juga menopang likuiditas, tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) sebesar 11,4% secara tahunan pada Desember 2025. Sementara pertumbuhan uang beredar luas (M2) tercatat sebesar 9,6% year on year.

Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 diperkirakan berada di kisaran 5,2%. 

Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan meningkat menjadi 5,4%, didukung sinergi kebijakan pemerintah dan otoritas KSSK serta penguatan investasi, termasuk melalui peran Ibu Kota Nusantara dan pembentukan Satgas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP).

Dari sisi fiskal, Purbaya menyampaikan kinerja APBN tetap terjaga dan berperan sebagai shock absorber. Hingga akhir triwulan IV 2025, realisasi belanja negara mencapai Rp 3.451,4 triliun atau 95,3% dari APBN, sementara pendapatan negara tercatat Rp 2.756,3 triliun atau 91,7% dari target. 

Defisit APBN tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92% terhadap PDB.

Pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga menunjukkan perbaikan kinerja. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun menjadi 6,41% pada triwulan IV 2025, mencerminkan kepercayaan investor terhadap pengelolaan fiskal pemerintah yang prudent.

Di sisi pendapatan, penerimaan perpajakan mencapai Rp 2.217,9 triliun atau 89% dari target APBN, sementara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 534,1 triliun atau 104% dari target, meski terdapat pengalihan setoran dividen BUMN ke BPI Danantara.

“KSSK akan terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global,” pungkas Purbaya.

Baca Juga: Prabowo Putuskan Ikut Iuran Anggota Dewan Perdamaian Besutan Trump

Selanjutnya: Penyaluran Kredit BCA Capai Rp 993 Triliun pada 2025, Ini Faktor Pendorongnya

Menarik Dibaca: Tren Warna Biru 2026 dari Dulux, Ini Manfaatnya untuk Hunian

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News