KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jaya menilai volatilitas yang terjadi di pasar saham Indonesia dalam beberapa pekan terakhir terutama dipicu oleh dua faktor eksternal yang terjadi secara bersamaan. Salah satunya, tekanan teknis akibat isu metodologi indeks global MSCI, serta koreksi harga logam global menyusul perubahan sentimen kebijakan moneter Amerika Serikat setelah munculnya nama Kevin Warsh dalam diskursus kepemimpinan The Federal Reserve. Ketua Umum Hipmi Jaya, Riandy Haroen menegaskan kombinasi kedua faktor tersebut menciptakan tekanan jangka pendek di pasar keuangan, namun tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional maupun sektor riil Indonesia.
"Kami melihat volatilitas ini lebih sebagai reaksi pasar terhadap dinamika global dan isu teknis. Dari sisi dunia usaha dan ekonomi riil, fundamental Indonesia masih berjalan dan tetap menjadi penopang utama pasar modal," ungkap Riandy dalam keterangannya, Jumat (6/2).
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Investor Tak Perlu Khawatir, Defisit Fiskal Tetap Terkendali Hipmi Jaya mencatat IHSG mengalami pergerakan tajam (
whipsaw) setelah isu MSCI mencuat, dengan koreksi yang terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi konstituen indeks global. Tekanan tersebut terjadi seiring dengan aksi
rebalancing dan penyesuaian portofolio oleh investor pasif dan kuantitatif global. Pada saat yang sama, pasar juga menghadapi koreksi di sektor logam dan komoditas global. Hipmi Jaya menilai kedua tekanan tersebut bersifat sentimen dan mekanis, bukan akibat perubahan fundamental ekonomi atau penurunan kinerja korporasi secara struktural. Riandy menegaskan sektor riil Indonesia justru menunjukkan ketahanan di tengah volatilitas pasar keuangan. Aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi domestik masih berlangsung, tercermin dari kinerja dunia usaha dan arus kas korporasi yang relatif stabil. Data menunjukkan secara agregat, pertumbuhan laba emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berada pada kisaran dua digit secara tahunan, terutama di sektor energi, pertambangan, dan perbankan. Selain itu, sektor-sektor tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi riil, mulai dari produksi komoditas, pembiayaan usaha, hingga konsumsi domestik. "Tanpa sektor riil yang bergerak, tidak akan ada emiten yang tercatat di bursa. Pasar modal pada dasarnya adalah cerminan dari ekonomi riil. Selama sektor riil tetap berjalan, fondasi pasar modal tetap ada," jelas Riandy.
Hipmi Jaya juga menilai langkah pemerintah Indonesia yang bersikap responsif dan tegas dalam menjaga stabilitas pasar sebagai langkah yang tepat. Upaya memperkuat likuiditas domestik, meningkatkan peran investor lokal, serta menjaga kepercayaan pasar dinilai menjadi penyangga penting di tengah potensi arus keluar modal asing.
Baca Juga: Cadangan Devisa RI Turun Jadi US$ 154,6 M pada Januari 2026, BI Pastikan Tetap Aman Menurut Hipmi Jaya, kebijakan yang bersifat proaktif ini berperan dalam menjaga kedalaman pasar modal domestik, sehingga volatilitas akibat arus dana global tidak berdampak berlebihan terhadap sistem keuangan nasional. "Dalam situasi global yang tidak menentu, peran pemerintah sebagai penyangga sangat krusial. Langkah-langkah yang diambil menunjukkan komitmen untuk melindungi kedalaman pasar dan kepentingan investor domestik," tutur Riandy.