Volatilitas Pasar Finansial Kembali Naik, Waktu yang Tepat untuk Masuk ke Obligasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Volatilitas pasar finansial global kembali meningkat. Momentum ini dinilai menjadi waktu yang tepat untuk masuk ke pasar obligasi.

Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja menjelaskan, data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih baik dari ekspektasi dan inflasi yang persisten mendorong pandangan pasar bahwa bank sentral AS masih akan agresif menaikkan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR). Ini sekaligus menandakan suku bunga tinggi akan dipertahankan lebih lama.

Di lain pihak, kesulitan finansial yang dihadapi beberapa bank regional membuat pasar berharap akan kebijakan suku bunga harus lebih jinak. Perbedaan ekspektasi bank sentral dan pasar, di tengah kondisi yang sangat dinamis ini membuat volatilitas meningkat.


Secara historis, Freddy mencermati, volatilitas pasar finansial meningkat menjelang puncak siklus suku bunga atau pengetatan moneternya. Dimana mayoritas negara di dunia saat ini sudah berada pada proses tersebut.

Kebanyakan bank sentral di dunia hanya memerlukan 1-2 kali kenaikan lagi untuk mencapai puncak suku bunga sesuai outlook yang dikomunikasikan. Kondisi ini berbeda dengan tahun lalu, ketika suku bunga justru sedang naik agresif dengan frekuensi dan besaran yang cukup besar.

Baca Juga: Faktor Likuiditas Jadi Pendorong Naiknya Minat Investor di Lelang Sukuk Negara

Dari dalam negeri, lanjut Freddy, Gubernur Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa tingkat suku bunga saat ini sudah cukup untuk menurunkan ekspektasi inflasi umum yang diperkirakan akan mencapai target 4,0% pada kuartal kedua tahun ini. Namun, suku bunga BI masih berpotensi naik jika data ekonomi AS terus menguat, yang membuat The Fed masih harus melakukan pengetatan moneter diluar ekspektasi yang diharapkan sebelumnya.

Walaupun saat ini volatilitas pasar global sedang meningkat, pemulihan ekonomi China yang masih terus berlangsung pasca dicabutnya kebijakan zero covid mampu menjadi penyeimbang dan penopang fundamental pasar Asia.

Freddy mengatakan, ekspektasi atas berakhirnya siklus kenaikan suku bunga membuat potensi pasar obligasi kembali menarik. Di tengah volatilitas dan keluar masuk arus dana investor asing, pasar obligasi Indonesia menunjukkan ketahanan yang baik.

Kondisi fundamental domestik yang baik dan imbal hasil riil yang atraktif mampu menjaga pasar obligasi Indonesia dari tekanan global. Dalam dua bulan pertama di tahun 2023, pasar obligasi Indonesia mencatatkan kinerja pertumbuhan 1,5%. Angka tersebut lebih unggul dibandingkan rata-rata negara berkembang yang bertumbuh 0.9%, China tumbuh 0.1%, AS yang tumbuh 0.1%, maupun kawasan zona Euro dengan pertumbuhan 0.1%.

“Pasar obligasi Indonesia memberikan tingkat imbal hasil yang atraktif, sehingga dapat dijadikan sarana investasi yang menarik di tengah volatilitas pasar finansial,” tulis Freddy Tedja dalam risetnya, Selasa (21/3).

Menurut Freddy, siklus kenaikan suku bunga yang berada di tahap akhir dapat menciptakan dorongan tambahan untuk kinerja pasar obligasi, yang secara alami memang lebih superior di tengah iklim suku bunga stabil atau menurun.

Sebagai contoh, reksadana Manulife Obligasi Unggulan (MOU) Kelas A memiliki kinerja 1 tahun terakhir sebesar 7,07% per akhir Februari 2023. Angka tersebut masih di atas tolok ukurnya yaitu rata-rata bunga deposito 3 bulan di bank lokal +2% net setelah pajak yang sebesar 4,00%.

Baca Juga: Lelang Sukuk Negara: Penawaran Capai Rp 23,51 Triliun, Pemerintah Sedot Rp 11 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat