KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar saham Indonesia masih dibayangi volatilitas tinggi di tengah sentimen negatif dari sejumlah lembaga pemeringkat global dan menjelang pertemuan lanjutan antara otoritas pasar modal Indonesia dengan MSCI pada Rabu (11/2/2026). Tekanan pasar muncul setelah MSCI mempertanyakan aspek transparansi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Menindaklanjuti hal tersebut, self regulatory organization (SRO) pasar modal Tanah Air telah mengajukan tiga proposal pembenahan dalam pertemuan awal dengan MSCI pada 6 Februari lalu. Tiga aspek utama yang diusulkan meliputi perincian klasifikasi investor menjadi 28 jenis, penyampaian informasi publik pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1% pada masing-masing emiten, serta rencana kenaikan batas minimum free float dari 7,5% menjadi 15%.
Baca Juga: Menilik Strategi Investasi di Tengah Tingginya Volatilitas Pasar Saham Penjabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, pembukaan data kepemilikan hingga batas 1% dipilih karena merupakan praktik umum yang juga diterapkan di sejumlah bursa negara lain, termasuk India. Menurutnya, struktur pasar dan komposisi investor di India relatif sebanding dengan Indonesia. “Struktur pasar dan investor di bursa India kurang lebih sama dengan struktur pasar dan kombinasi investor yang ada di Indonesia,” ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (9/2/2026). Ia menegaskan, pembatasan pembukaan data tersebut tidak berkaitan dengan kendala sistem di pasar modal domestik. “Kalau hambatan sistem tidak ada. Jadi disepakati saja, diskusikan angka berapa yang fit untuk pasar di Indonesia,” katanya.
Baca Juga: Pasar Saham Semakin Suram Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Samsul Hidayat menambahkan, pembukaan data hingga di bawah 1% berpotensi memunculkan volume data yang sangat besar, sementara investor dengan kepemilikan kecil dinilai tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengendalian emiten. Meski demikian, KSEI menegaskan seluruh data pemegang saham sebenarnya telah tersedia dalam sistem. “Data semua pemegang saham ada di KSEI. Bahkan yang 5% ini juga KSEI yang menyediakan kepada MSCI,” ujarnya. Di saat yang sama, tekanan pasar diperberat oleh pandangan negatif sejumlah lembaga global seperti Moody’s, Goldman Sachs, dan UBS. Dalam pernyataan resminya pada 5 Februari 2026, Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan alasan menurunnya prediktabilitas kebijakan dan kualitas tata kelola pemerintahan. Moody’s menilai kondisi tersebut berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan yang selama ini menopang stabilitas makroekonomi, fiskal, dan sistem keuangan. Dampaknya, peringkat sejumlah emiten besar di BEI turut direvisi, antara lain PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), hingga PT United Tractors Tbk (UNTR).
Baca Juga: Simak Strategi Investasi di Tengah Volatilitas Pasar Saham Dari sisi pasar, IHSG memang ditutup menguat 1,22% ke level 8.031 pada Senin (9/2). Namun secara bulanan, IHSG telah terkoreksi 10,13% dan melemah 7,11% sejak awal tahun. Aliran dana asing juga masih mencatatkan arus keluar Rp 599,51 miliar di pasar reguler dan Rp 721,54 miliar di seluruh pasar pada hari yang sama. Secara kumulatif, dana asing keluar Rp 17,27 triliun di pasar reguler dalam sebulan terakhir dan Rp 14,46 triliun sejak awal tahun.