Volatilitas rupiah bisa berdampak pada harga bahan baku impor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pelemahan rupiah selama sepekan terakhir bisa berdampak, salah satunya pada performa pelaku usaha yang masih mengandalkan bahan baku impor. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup pada angka Rp 13.892 per dollar AS pada Jumat (27/4) sore. Nilai ini melemah 2,0 poin atau 0,01% dibanding penutupan perdagangan hari sebelumnya. 

"Dampak dari volatilitas rupiah yang meningkat ini memengaruhi dunia usaha, mengingat beberapa sektor ekonomi domestik masih mengandalkan bahan baku impor," kata Vice President Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (28/4). 


Josua menjelaskan, apabila tren pelemahan rupiah ini terus berlanjut, berpotensi mengganggu kegiatan produksi akibat bahan baku yang berasal dari impor.

Di satu sisi, jika pelaku usaha mengalihkan beban kenaikan biaya impor bahan baku pada konsumen, dapat mendorong inflasi domestik. 

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Josua memandang korporasi perlu melakukan transaksi lindung nilai untuk memitigasi risiko nilai tukar.

Dengan begitu, kegiatan usaha tetap bisa berjalan dengan baik dan dampak negatif bisa diredam sepanjang tren pelemahan rupiah terhadap dollar AS masih berlangsung. 

Sebelumnya, Bank Indonesia menilai pelemahan atau depresiasi rupiah disebabkan penguatan mata uang AS yang berdampak terhadap hampir semua mata uang di dunia, baik di negara maju maupun berkembang. 

Selain itu, ada juga dampak kenaikan US Treasury atau suku bunga obligasi negara AS hingga mencapai 3,03%. Kenaikan US Treasury ini merupakan yang tertinggi sejak 2013 silam. 

Pelemahan juga terjadi lantaran faktor musiman pada kuartal II 2018, yakni peningkatan permintaan valuta asing untuk keperluan pembiayaan utang luar negeri, impor, serta pembayaran dividen. (Andri Donnal Putera)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Volatilitas Rupiah Bisa Berdampak pada Pelaku Usaha dengan Bahan Baku Impor"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia