KONTAN.CO.ID - BARCELONA. Industri otomotif global memasuki babak konsolidasi baru. Merek-merek lama mulai menghadapi tekanan untuk bertahan di tengah persaingan produsen mobil China, lemahnya permintaan, serta mahalnya investasi untuk beralih ke kendaraan listrik (EV). Salah satu merek yang berada dalam tekanan adalah Seat, produsen mobil asal Spanyol yang dimiliki Volkswagen. Dalam perombakan besar-besaran, Volkswagen tengah mengevaluasi masa depan Seat setelah siklus produk saat ini berakhir. Berbagai skenario masih terbuka setelah 2030. Jika akhirnya dihentikan, Seat akan menjadi merek otomotif mapan pertama yang menghilang sejak awal 2010-an. Saat itu, Ford menghentikan Mercury, General Motors menutup Saturn dan Pontiac, sementara Saab bangkrut. Penutupan merek besar relatif jarang terjadi karena nama-nama otomotif biasanya dapat bertahan selama puluhan tahun.
Melansir
Reuters (17/9), langkah Volkswagen mencerminkan strategi CEO Oliver Blume untuk merampingkan grup dan memusatkan investasi pada merek yang memiliki prospek lebih kuat. Restrukturisasi tersebut juga mencakup pemangkasan tenaga kerja dalam jumlah besar. Tekanan semakin besar setelah penjualan Volkswagen di China merosot akibat produsen lokal seperti BYD, SAIC Motor dan Geely merebut pangsa pasar. Di saat yang sama, Volkswagen harus mengeluarkan investasi besar untuk menghadapi transisi menuju kendaraan listrik. Seat menjadi salah satu korban dari perubahan tersebut. Merek yang berdiri sejak 1950 itu belum meluncurkan model baru sejak 2020. Pada 2025, Seat menyumbang kurang dari 3% pengiriman global Volkswagen. Sebaliknya, Cupra, merek saudara Seat yang diluncurkan pada 2018, terus tumbuh dan untuk pertama kalinya mencatat penjualan tahunan lebih tinggi dari Seat pada 2025. Cupra juga telah memiliki tiga model listrik penuh, termasuk Raval.
Baca Juga: Volkswagen Pangkas 50.000 Pekerja Lagi, Hadapi Tarif AS dan Tekanan China Perbedaan strategi kedua merek tersebut menjadi semakin jelas. Seat tidak memiliki model EV dan belum memiliki rencana meluncurkan kendaraan listrik. Manajemen Volkswagen sebelumnya menyatakan investasi untuk program EV Seat sulit dibenarkan karena merek tersebut belum menghasilkan keuntungan. Sumber yang mengetahui pembicaraan internal Volkswagen mengatakan produk-produk masa depan kemungkinan akan diberikan kepada Cupra ketika model Seat bermesin pembakaran dihentikan secara bertahap. Volkswagen dinilai tidak ingin mempertahankan dua merek yang memiliki posisi pasar berdekatan. Tekanan tersebut mencerminkan masalah yang lebih luas. Data Car Industry Analysis menunjukkan penjualan tahunan kumulatif produsen otomotif Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan turun 12,6 juta unit atau 17% pada 2019-2025. Produsen Eropa menyumbang hampir separuh penurunan tersebut, sementara produsen China merebut sebagian pangsa pasar yang hilang. Meski begitu, produsen China bukan satu-satunya penyebab. Penjualan mobil baru di Eropa pada 2025 mencapai 13,3 juta unit, masih sekitar 2 juta unit di bawah level 2019. Kondisi tersebut membuat produsen lama harus memilih merek dan model yang layak dipertahankan ketika biaya pengembangan EV terus meningkat.
Stellantis mengambil langkah serupa dengan memusatkan investasi pada empat dari 14 mereknya, yakni Jeep, Ram, Peugeot dan Fiat. Nissan juga tengah memangkas kapasitas produksi dan rencana model, sementara Jaguar Land Rover melakukan pengurangan tenaga kerja. Konsolidasi juga mengancam produsen EV di China. Pasar otomotif China masih dipenuhi banyak merek setelah bertahun-tahun mengalami pertumbuhan pesat. AlixPartners memperkirakan hanya 15 dari 129 merek EV yang beroperasi di China saat ini yang akan tetap layak secara finansial pada 2030. Dengan demikian, persaingan kendaraan listrik dan kebangkitan produsen China berpotensi mengubah peta industri otomotif dunia. Dalam jangka panjang, jumlah merek lama maupun pemain baru dari China diperkirakan menyusut seiring perusahaan mencari skala produksi, efisiensi biaya, dan model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga: Volkswagen Umumkan 50.000 PHK Tambahan: Strategi Demi Bersaing di Pasar Global