Volkswagen Pangkas 50.000 Pekerja Lagi, Hadapi Tarif AS dan Tekanan China



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Volkswagen mengambil langkah restrukturisasi terbesar sepanjang 89 tahun sejarah perusahaan dengan menyetujui rencana transformasi yang mencakup pengurangan sekitar 50.000 tenaga kerja secara global.

Dewan pengawas Volkswagen menyetujui rencana tersebut pada Kamis (3/9/2026), sebagai bagian dari upaya perusahaan menghadapi tekanan tarif impor, kelebihan kapasitas produksi, serta persaingan yang semakin agresif dari produsen otomotif China.

Rencana transformasi tersebut juga mencakup kajian terhadap alternatif masa depan bagi empat pabrik Volkswagen di Jerman yang diperkirakan akan kehabisan model kendaraan untuk diproduksi dalam dekade mendatang.


Empat fasilitas yang menjadi perhatian adalah pabrik di Emden, Zwickau, Neckarsulm, dan Hannover. Keempatnya diperkirakan menghadapi penghentian produksi secara bertahap mulai 2031.

Langkah restrukturisasi ini sekaligus meredakan potensi konflik besar antara manajemen dan serikat pekerja. Salah satu skenario yang sebelumnya dipertimbangkan manajemen adalah menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa untuk mendorong rencana perusahaan, meski menghadapi penolakan pekerja dan negara bagian Lower Saxony yang merupakan pemegang saham terbesar kedua Volkswagen.

Baca Juga: AS Selidiki Serangan pada Acara Pernikahan di Iran yang Tewaskan 5 Orang

Kesepakatan tersebut juga akan menyederhanakan struktur konglomerasi Volkswagen dan membatasi pengaruh dewan pengawas grup terhadap sejumlah keputusan strategis. Selama ini, serikat pekerja dan Lower Saxony memegang mayoritas posisi di dewan pengawas Volkswagen.

CEO Volkswagen Oliver Blume mengatakan rencana tersebut menjadi sinyal penting bagi masa depan perusahaan.

"Ini adalah sinyal kuat untuk masa depan Volkswagen Group. Kami mengambil tanggung jawab atas seluruh tenaga kerja kami, para mitra kami, dan lapangan kerja industri di seluruh dunia," kata Blume dalam sebuah pernyataan.

Saham Volkswagen Melonjak

Pasar merespons positif keputusan restrukturisasi tersebut. Saham Volkswagen yang tercatat di Frankfurt ditutup melonjak 7,9% setelah pengumuman rencana transformasi.

Kenaikan tersebut mencerminkan kelegaan investor terhadap tercapainya kesepakatan yang sebelumnya dikhawatirkan dapat berkembang menjadi krisis besar di produsen otomotif terbesar di Eropa tersebut.

Analis industri Ferdinand Dudenhoeffer memperkirakan sekitar 10 bulan ke depan akan menjadi periode penting bagi pembahasan mengenai masa depan empat pabrik Volkswagen di Jerman.

Menurut dia, masa depan fasilitas di Emden, Zwickau, Neckarsulm, dan Hannover akan menjadi salah satu agenda utama dalam proses restrukturisasi, mengingat keempat pabrik tersebut menghadapi penghentian produksi secara bertahap mulai 2031.

Baca Juga: Terdampak Karhutla: Kualitas Udara Singapura Memburuk, PSI Tembus 104

"Rasa tenang tertentu mulai kembali, tetapi ini masih jauh dari kata 'damai'. Dalam politik, orang mungkin menyebutnya 'gencatan senjata'. Itu adalah hal yang baik, karena sekarang fokus dapat diarahkan pada bisnis," ujar Dudenhoeffer.

Volkswagen Hadapi Tekanan dari AS dan China

Rencana transformasi Volkswagen muncul ketika perusahaan menghadapi tekanan dari berbagai arah. Produsen otomotif asal Jerman tersebut harus menghadapi tarif impor Amerika Serikat sekaligus melemahnya pasar China.

China selama bertahun-tahun menjadi salah satu sumber keuntungan penting bagi Volkswagen. Namun, pasar otomotif terbesar di dunia tersebut kini semakin kompetitif, terutama karena meningkatnya kekuatan produsen kendaraan listrik lokal.

Di sisi lain, tarif impor AS meningkatkan tekanan terhadap produsen otomotif global, termasuk Volkswagen. Kondisi tersebut membuat perusahaan harus melakukan penyesuaian kapasitas produksi dan struktur biaya agar tetap kompetitif.

Volkswagen menyatakan perlu dilakukan "penyesuaian fundamental lebih lanjut terhadap kapasitas tenaga kerja global". Penyesuaian tersebut mencakup pengurangan sekitar 50.000 posisi di seluruh dunia.

Jumlah tersebut merupakan tambahan dari sekitar 50.000 pengurangan pekerjaan yang sudah berjalan sebelumnya.

Namun, Volkswagen belum memberikan rincian mengenai waktu pelaksanaan pengurangan tenaga kerja tambahan tersebut. Perusahaan juga belum menjelaskan bagaimana pengurangan pekerjaan akan dibagi berdasarkan merek maupun wilayah operasional.

Baca Juga: Bedah Strategi Transfer Chelsea yang Berbuah Rekor, Raup Lebih dari Rp11 Triliun

Restrukturisasi Terbesar dalam Sejarah Volkswagen

Rencana terbaru Volkswagen menjadi salah satu langkah paling agresif perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan industri otomotif global.

Selain mengurangi tenaga kerja, Volkswagen akan menyederhanakan struktur grup dan melakukan evaluasi terhadap fasilitas produksi yang dinilai tidak lagi memiliki prospek model kendaraan yang memadai.

Negosiasi mengenai rencana tersebut berlangsung selama beberapa pekan dan mempertemukan manajemen serta pemegang saham mayoritas Porsche SE dengan serikat pekerja dan pemerintah negara bagian Lower Saxony.

Salah satu opsi yang sebelumnya muncul, yakni pemisahan atau spin-off bisnis mobil penumpang dan komponen Volkswagen, kini tidak lagi disebut dalam kesepakatan terbaru.

Dengan tercapainya kesepakatan tersebut, Volkswagen berupaya menghindari konflik terbuka dengan serikat pekerja sekaligus memberikan ruang bagi manajemen untuk memusatkan perhatian pada pemulihan kinerja bisnis.

Restrukturisasi ini menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi industri otomotif Eropa. Produsen kendaraan tidak hanya dituntut melakukan efisiensi akibat tingginya biaya produksi, tetapi juga harus beradaptasi dengan perubahan teknologi, pergeseran permintaan kendaraan listrik, persaingan produsen China, serta kebijakan perdagangan Amerika Serikat.