KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo) memaparkan volume ekspor teh hitam dan teh hijau (HS 0902) tercatat sebesar 28.000 ton sepanjang Januari–November 2025. Di level ini, volume ekspor menurun 13% dibandingkan periode sama pada tahun 2024 yang mencapai 32.000 ton. Ketua Umum Aptehindo,
Nugroho B Koesnohadi, didampingi Ketua Dewan Pakar Aptehindo, Rohayati dan Peneliti Pusat Penelitian Teh dan Kina, Klarawati Sita, menjelaskan bahwa penurunan ekspor teh terutama disebabkan oleh terjadinya penurunan produksi teh Indonesia. “Selain itu, juga dipengaruhi oleh daya saing kualitas yang masih tertinggal dibandingkan negara produsen teh utama lainnya, serta tantangan non-tariff barriers, terutama penerapan Maximum Residue Limit (MRL) oleh negara-negara pengimpor,” katanya kepada Kontan, Selasa (3/2/2026).
Baca Juga: Ekspor Beras Thailand Diperkirakan Turun 12,5% Jadi 7 Juta Ton pada 2026 Lebih lanjut, Aptehindo mencermati terjadinya penurunan produksi teh Indonesia akibat adanya penurunan luasan areal kebun teh, yang salah satunya disebabkan alih fungsi lahan menjadi ladang sayur-sayuran. Nugroho menambahkan, petani teh masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penghapusan pupuk bersubsidi, menjaga konsistensi kualitas pucuk, persoalan perizinan, hingga pemenuhan standar dan sertifikasi ekspor. Pun saat ini, Indonesia menduduki peringkat ke-13 sebagai negara eksportir teh di dunia, masih kalah dari negara-negara yang bukan produsen teh seperti Polandia, Jepang, Jerman, dan lainnya. Rendahnya peringkat ini, lanjut Nugroho, disebabkan lemahnya penerimaan pasar terhadap produk teh nasional. Faktor ini, lanjutnya, berkaitan dengan isu kualitas, kepatuhan terhadap persyaratan
non-tariff barriers, serta ketidaksesuaian
grade teh dengan preferensi pasar tujuan. Baca Juga: Manfaat Minum Teh Hitam untuk Kesehatan Tubuh Menurut Riset Ilmiah “Selain itu, kondisi pabrik dan alat mesin pengolahan teh di unit pengolahan milik Perkebunan Besar Negara (PBN), Perkebunan Besar Swasta (PBS), maupun Perkebunan Rakyat (PR) masih memerlukan revitalisasi,” jelasnya. Namun demikian, Nugroho menyoroti petani teh masih dapat melirik peluang berkat tren global gaya hidup sehat saat ini, yang turut meningkatkan permintaan teh sebagai minuman kesehatan. Juga, cita rasa teh lokal Indonesia yang masih diminati oleh konsumen dan importir di berbagai negara. Maka, meski masih dibayangi sejumlah pemberat, ia optimistis prospek ekspor teh ke depan masih mampu bertumbuh.
Baca Juga: Minum Teh Hitam Bisa Memperpanjang Umur Kata Ahli Berdasarkan keberterimaan pasar terhadap teh Perkebunan Besar Negara (PBN), Nugroho bilang, volume ekspor diproyeksikan meningkat sekitar 5% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kenaikan pangsa ekspor dari sekitar 35% menjadi 40%.
“Optimalisasi perbaikan kebun dan pabrik, serta konsistensi kualitas
grade sesuai kebutuhan pasar, menjadi faktor kunci untuk mendorong pertumbuhan ekspor yang berkelanjutan, khususnya pada segmen teh olahan yang terus mengalami peningkatan,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News