Volume Jasa Angkut Batubara Naik, RMK Energy (RMKE) Prediksi Kinerja Bakal Meningkat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten batubara, PT RMK Energy Tbk (RMKE) memproyeksikan kinerjanya di semester kedua tahun ini, khususnya pada kuartal ketiga, akan tumbuh lebih lincah ketimbang semester pertama lalu. Ini dibuktikan lewat realisasi jasa pengapalan batu bara per bulan Juli dan Agustus yang volumenya sudah meningkat hampir dua kali lipat dari kondisi di kuartal I-2022. 

Direktur PT RMK Energy Vincent Saputra memaparkan, volume pengapalan batubara pada Januari lalu sempat tersendat lantaran ada kebijakan pelarangan ekspor batubara, di mana realisasinya hanya mencapai 312.510 ton per bulan. Nah, per Juli lalu, angkanya tumbuh menjadi 776.730 ton dan pada bulan Agustus tren pertumbuhan tersebut masih berlanjut dengan volume pengapalan mencapai 821.430 ton. 

"Pada bulan Juli kami sudah kapalkan sekitar 700.000 ton, di Agustus 800.000 ton, sedangkan waktu itu (semester I-2022), rata-rata masih 500.000 ton per bulan. Jadi secara perseroan kami percaya target yang kami tentukan di tahun 2022 kemungkinan besar bisa kami capai," ungkap Vincent, dalam acara KamuBeliSahamApa Special oleh Mirae Asset Sekuritas secara daring pada Kamis (29/9). 


Merujuk materi yang ditampilkan, RMKE memiliki target untuk mengapalkan batubara sebanyak 7,82 juta ton di tahun 2022, atau meningkat 31,30% dari realisasi pengapalan yang volumenya sebesar 5,96 juta ton pada tahun 2021. Hingga semester I-2022, volume pengapalan batubara RMK Energy telah mencapai 3,14 juta ton, atau setara 40,20% dari target yang ditetapkan tahun ini. 

Baca Juga: Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) Buka Suara Soal PHK 300 Lebih Karyawan

Vincent menyebut, demand jasa pengangkutan batubara memang tumbuh signifikan di sepanjang tahun ini, yang juga dipengaruhi oleh lonjakan harga komoditas itu sendiri selama 2022. Namun memang, RMKE tidak bisa semerta-merta turut meningkatkan volume angkutannya sebab ini bergantung juga pada ketersediaan kereta api yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (persero) (KAI) sebagai mitra bisnis perseroan. 

"Memang PT KAI ada planning untuk menambah tiga kereta api lagi, yang mana saat kereta api ini datang itu secara equivalent tiga juta ton. Dengan tambahan ini otomatis akan bisa digunakan. Tapi hanya pelanggan tertentu yang bisa gunakan (tambahan kereta api) sesuai dengan alokasi kereta api tersebut," sebutnya.  

Untuk diketahui, RMKE menyediakan jasa angkutan batubara terintegrasi melalui jalur kereta dari kabupaten penghasil batubara di Lahat dan Muara Enim, Sumatra Selatan bersinergi dengan PT KAI (Persero), hingga pengangkutan ke pelabuhan dan jasa pemuatan batubara ke atas kapal tongkang.

Meski kontribusi pendapatan jasa angkutan batubara ini baru menyentuh 25% dari total pendapatan perseroan, Vincent mengklaim bahwa sektor bisnisnya ini punya prospek pendapatan yang cukup stabil serta profit lebih tinggi, ketimbang bisnis trading batubara yang jadi penopang pendapatan utama perusahaan.

Hal ini lantaran bisnis jasa angkutan batubara tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga batubara, sebab RMKE sendiri memiliki kontrak jangka panjang dengan para pelanggannya.  

"Dari jasa, kami nggak ada pengaruh (harga batubara) karena kontrak kami jangka panjang sekitar lima tahun, yang mana kedua belah pihak nggak bisa negosiasi harga. Harga naik turun akan dipengaruhi harga solar, tapi ada fuel addjusment, yang mana fuel addjusment ini kami pass through ke pelanggan. Jadi benar-benar stabil cashflow-nya," jelas dia. 

Maka dari itu, RMKE punya misi untuk dapat menyeimbangkan komposisi antara bisnis jasa dan trading menjadi 50:50 untuk ke depannya. Namun demikian, sejumlah mitigasi resiko pun tetap disiapkan oleh perseroan, supaya bisnis trading batubara-nya ini tetap bisa punya margin yang sehat, di tengah fluktuasi harga batubara. 

Baca Juga: Dana Brata Luhur (TEBE) Mengerek Target Volume Pengangkutan

"Mitigasi risikonya seperti apa? Kami manfaatkan infrastruktur kami untuk beli batubara itu. Jadi kami bukan trading company yang berlomba-lomba ambil down payment. Justru kami memanfaatkan infrastruktur kami supaya perusahaan tambang yang nggak punya akses dia bisa pakai fasilitas kami, tapi mereka harus kasih diskon menarik untuk kita lakukan itu," ungkap Vincent. 

Di tahun 2022 ini RMK Energy punya target untuk mencapai pendapatan sebesar Rp 2,48 triliun, jumlah ini lebih tinggi 32,82% dari realisasi pendapatan pada tahun 2021 yang senilai Rp 1,86 triliun. Dari sisi bottom line, perusahaan ini menargetkan dapat mencapai laba sebesar Rp 375,38 miliar. 

Hingga semester pertama lalu, RMKE telah mencapai 43,38% dari target pendapatan tahun ini dengan angka pendapatan sebesar Rp 1,07 triliun. Untuk laba bersih, capaiannya telah mencapai 41,21% dari target atau setara dengan Rp 154,69 miliar. 

Mengutip catatan KONTAN, kontribusi pendapatan dari penjualan batubara tercatat mencapai Rp 860,34 miliar, atau mengalami peningkatan sebesar 252% dibanding realisasi pada tahun sebelumnya yang sejumlah Rp 244,49 miliar. Sedangkan pendapatan pada usaha jasa logistik batubara tercapai Rp 211,4 miliar per Juni lalu. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi