KOTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (
UNVR) terus berupaya memulihkan kinerja keuangan di tengah dinamika pasar yang penuh tantangan. Sepanjang semester I-2026, perusahaan ini mencatatkan pemulihan volume penjualan yang didorong oleh strategi penataan ulang bisnis. Namun, profitabilitas produsen barang konsumsi ini masih dibayangi oleh inflasi harga bahan baku serta hilangnya potensi pendapatan akibat aksi korporasi divestasi.
Baca Juga: Laba Naik 10%, Maybank Sekuritas Masih Rekomendasi Jual Saham Unilever (UNVR) Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, UNVR membukukan total penjualan bersih sebesar Rp 16.89 triliun, tumbuh 7,1% secara tahunan Pada kuartal II-2026 saja, penjualan bersih perseroan melonjak 11,6% secara year on year (yoy) menjadi Rp 8.46 triliun. Dari sisi laba, laba inti konsolidasi UNVR pada semester I-2026 mencapai Rp 2.08 triliun atau naik 10,2% YoY. Sementara itu, laba bersih yang dilaporkan pada paruh pertama tahun ini tercatat sebesar Rp 2.97 triliun, melonjak 37,8% YoY, didukung oleh keuntungan bersih dari pelepasan aset. Untuk kuartal II-2026, laba inti perseroan tumbuh terbatas sebesar 4,8% YoY menjadi Rp 829.1 miliar. Analis Binaartha Sekuritas Eka Rahmah menyebut pertumbuhan volume penjualan unit (Unit Volume Growth/UVG) UNVR yang mengalami lompatan signifikan sebesar 12,7% YoY pada kuartal II-2026. "Peningkatan tersebut mencerminkan keberhasilan berkelanjutan dari program reset bisnis perusahaan yang ekstensif, didukung oleh fokusnya pada kategori berpertumbuhan tinggi, pembuatan permintaan berbasis sosial, dan transformasi go-to-market," tulis Eka dalam risetnya, (3/8/2026). Pertumbuhan volume tersebut ditopang oleh ekspansi outlet pada saluran general trade serta eksekusi yang lebih kuat di modern trade. Di sisi lain, harga jual rata-rata (Unit Price Growth/UPG) UNVR turun tipis 1,7% YoY pada kuartal II-2026 karena perseroan memprioritaskan pemulihan volume. Aksi penataan portofolio ini berhasil meningkatkan pangsa pasar nilai UNVR menjadi 30,8% dan pangsa pasar volume menjadi 27,0% pada kuartal II-2026.
Baca Juga: Pangsa Pasar UNVR Naik, Analis Pertahankan Rekomendasi Add Saham UNVR Secara sektoral, segmen Home & Personal Care (HPC) menjadi penopang utama dengan pendapatan Rp 6.32 triliun pada kuartal II-2026 atau tumbuh 13,1% YoY. Pertumbuhan segmen HPC ini didorong oleh kenaikan volume penjualan sebesar 14,2% YoY dengan margin kotor mencapai 45%. Sementara segmen Food & Refreshment (F&R) mencatatkan pendapatan Rp 2.14 triliun, tumbuh 7,4% YoY. Peningkatan segmen F&R didukung oleh kenaikan volume sebesar 8,7% YoY meskipun ada penurunan harga jual sebesar 1,4%. Di tengah pertumbuhan penjualan, UNVR harus menghadapi tekanan margin akibat lonjakan beban pokok penjualan sebesar 18,4% YoY menjadi Rp 4.65 triliun pada kuartal II-2026. Kenaikan biaya ini dipicu oleh tingginya harga minyak kelapa sawit (CPO) serta pelemahan nilai tukar rupiah. Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama menambahkan bahwa kenaikan harga minyak mentah turut memicu inflasi dua digit pada biaya kemasan dan surfaktan. Selain itu, biaya distribusi laut untuk pengiriman ke luar pulau juga mengalami peningkatan. Akibatnya, margin laba bersih UNVR pada kuartal II-2026 tertekan menjadi 9,8% dibandingkan dengan 12,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Willy juga mencermati beban biaya transformasi sebesar Rp 185 miliar serta lonjakan biaya gaji pada kuartal II-2026 akibat pembayaran insentif jangka panjang. "Dengan pengakuan akuntansi yang tidak menentu dari kedua pos ini, kami melihat hal ini sebagai penurunan kualitas laba kuartalan di masa depan," jelas Willy dalam risetnya, (31/7/2026). Ia menilai divestasi bisnis es krim dan teh akan menciptakan tantangan lanjutan bagi pendapatan perseroan. Menurutnya, hilangnya potensi laba langsung dari divisi yang dijual akan menahan pemulihan kinerja UNVR untuk kembali ke level pra pandemi. Di sisi lain, Eka tetap optimistis terhadap arah transformasi jangka panjang yang sedang dijalankan manajemen UNVR. "Ke depan, kami memperkirakan tren volume dan penetapan harga akan terus membaik sepanjang 2026 seiring dengan program reset bisnis perusahaan yang semakin mendapatkan traksi," ungkap Eka. Efisiensi pemasaran juga terlihat dari rasio beban iklan dan promosi terhadap penjualan yang membaik menjadi 7,3%.
Menimbang faktor-faktor tersebut, para analis memberikan rekomendasi yang berbeda untuk saham UNVR. Eka mempertahankan rekomendasi
buy untuk saham UNVR dengan target harga Rp 2.135 per saham yang mencerminkan rasio P/E sebesar 23 kali. Sebaliknya, Willy merekomendasikan
sell untuk saham UNVR dengan target harga Rp 1.500 per saham berbasis P/E sebesar 15,3 kali. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News