KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (
INTP) mencatat total volume penjualan semen dan klinker sebesar 15,75 juta ton hingga September 2026, meningkat 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini didukung volume penjualan domestik yang tumbuh 7,6% dan volume penjualan ekspor yang melonjak 55,9%. Pertumbuhan volume penjualan mendorong pendapatan neto naik 8,9% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 14,07 triliun.
Baca Juga: Sariguna Primatirta (CLEO) Kejar Pertumbuhan Kinerja Dua Digit hingga Akhir 2026 Beban pokok pendapatan meningkat 7,8% YoY menjadi Rp 9,56 triliun, sehingga menghasilkan marjin laba neto sebesar Rp 4,5 triliun, setara dengan 11,4% dari pendapatan neto. Peningkatan volume penjualan turut mendorong kenaikan beban usaha sebesar 11,5% menjadi Rp 3, triliun. Beban operasi lain neto tumbuh 284,2% menjadi Rp 59,6 miliar. “Ini terutama ditopang oleh keuntungan selisih kurs pada tahun ini, dibandingkan dengan kerugian selisih kurs yang tercatat pada tahun sebelumnya,” kata Dani Handajani, Corporate Secretary INTP dalam keterangan resmi, Selasa (3/11/2026). Dengan perkembangan tersebut, margin laba usaha tercatat sebesar 11,1%, sedangkan margin EBITDA mencapai 20,1% untuk periode hingga September 2026 Lebih lanjut, pada pos pendapatan keuangan neto meningkat 797,0% menjadi Rp 20,4 miliar, terutama dipengaruhi oleh penurunan tingkat bunga atas utang PT Semen Grobogan. Bagian atas laba neto entitas asosiasi neto juga meningkat 109,6% menjadi Rp 49,8 miliar, didorong oleh peningkatan kinerja laba entitas asosiasi. Sejalan dengan kenaikan laba, beban pajak penghasilan neto meningkat 19,9% menjadi Rp 324,4 miliar.
Secara keseluruhan, laba untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada September 2026 meningkat 22,5%YoY menjadi Rp 1,30 triliun.
Dani mengatakan, industri semen domestik masih menghadapi tekanan terhadap margin akibat tingginya biaya energi dan nilai tukar mata uang asing. Di tengah volatilitas energi global dan terbatasnya kepastian mengenai pemulihan biaya, peningkatan efisiensi dan penggunaan bahan bakar alternatif menjadi langkah penting bagi industri. Ini termasuk melalui penyesuaian harga jual lebih lanjut. “Selain itu, musim hujan yang akan datang berpotensi memperlambat laju kegiatan konstruksi dan menekan permintaan,” ungkapnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News