Volume Perdagangan Papan Pemantauan Khusus Meroket, Investor Perlu Cermati Hal Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak berlaku pada 12 Juni 2023, papan pemantauan khusus telah mengangkat likuiditas saham, yang diukur dari aktivitas perdagangan. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat peningkatan volume hingga 14.000%, value 315% dan frekuensi sebanyak 214% dalam satu bulan implementasi papan pemantauan khusus.

Secara total, terdapat 172 saham yang sekarang menghuni papan ini. "Papan pemantauan khusus terbukti meningkatkan likuiditas perdagangan saham dengan mekanisme call auction," ungkap Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa, Irvan Susandy, kepada Kontan.co.id, Jumat (14/7).

Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik menambahkan, pihaknya terus melakukan evaluasi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Berbarengan dengan itu, BEI mempersiapkan implementasi papan pemantauan khusus tahap II yang dijadwalkan berlaku pada Desember 2023.


"Kriteria di tahap II sama saja, hanya mekanisme perdagangannya yang akan full call auction dan lima sesi sehari. Kami akan evaluasi berdasarkan kriteria yang ada," ujar Jeffry.

Sekadar mengingatkan, dalam menyaring saham ke papan pemantauan khusus, BEI menetapkan 11 kriteria terkait kondisi fundamental dan likuiditas perdagangan.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Menguat pada Senin (17/7), Ini Sentimen yang Menopangnya

Parameter perdagangan pada mekanisme call auction mempunyai batasan harga minimum Rp 1 dan auto rejection Rp 1 untuk rentang harga saham Rp 1 – Rp 10 dan 10% untuk rentang harga saham di atas Rp 10.

Pada tahap I ini terdapat dua sesi periodic call auction dalam sehari perdagangan bursa. Sedangkan pada Tahap II papan pemantauan khusus akan berlaku dengan full call auction, yang akan dilakukan perdagangan periodic call auction sebanyak lima sesi dalam sehari perdagangan bursa.

Momentum & Exit Strategy

Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengamati pergerakan saham di papan pemantauan khusus dalam sebulan terakhir. Lonjakan likuiditas maupun aktivitas perdagangan tidak berarti menunjukkan kinerja yang positif pada papan pemantauan khusus secara keseluruhan.

Nico menyoroti ada 13 saham yang harganya sudah bergerak di bawah level Rp 50 atau berkinerja minus antara -3% sampai -78% dalam sebulan ini.

Di antaranya ada PT Himalaya Energi Perkasa Tbk (HADE), PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT), PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU), dan PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI).

Saham HADE dan MKNT saat ini hanya seharga Rp 9, sedangkan harga TAMU dan PADI ada di level Rp 10 per lembar. Keempat saham tersebut ambles sedalam 75%-78% dalam sebulan.

 
HADE Chart by TradingView

Di sisi lain, Nico memantau ada 21 saham dengan harga di atas level Rp 50 dalam papan pemantauan khusus yang mengalami penguatan antara 1% - 60% dalam sebulan terakhir. Di antaranya PT First Media Tbk (KBLV), PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF), PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

"Likuiditas karena banyak transaksi perdagangan, bisa transaksi jual ataupun beli. Saya melihat dari dua sisi, adanya peningkatan likuiditas dari sisi penurunan saham ke bawah level Rp 50. Kemudian peningkatan likuiditas perdagangan juga dipicu oleh kenaikan transaksi saham yang di atas Rp 50," terang Nico.

Catatan Nico, kenaikan harga sejumlah saham di papan pemantauan khusus bukan karena ada peningkatan signifikan pada kinerja maupun prospek emiten. Kondisi pasar saham yang secara umum sedang melonjak turut berperan sebagai katalis penting.

"Ada market adjustment dan faktor trading saja. Saham-saham tersebut umumnya masih memiliki notasi khusus dari BEI dengan permasalahannya masing-masing," sebut Nico.

Dia menyarankan, implementasi papan pemantauan khusus ini sebaiknya menjadi momentum bagi investor yang sebelumnya "nyangkut" untuk bisa melakukan exit strategy. Sehingga bisa terlepas dari saham-saham bermasalah dan mengantisipasi kerugian yang lebih besar.

Baca Juga: Simak Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Perdagangan Senin (17/7)

Terlebih ketika kondisi pasar saham yang kembali kondusif seperti sekarang, masih banyak saham yang layak sebagai pilihan investasi maupun trading. "Sekarang ada peluang take action dan pindah ke saham yang lebih punya fundamental kuat dan prospek menjanjikan," ungkap Nico.

Pengamat Pasar Modal dan Founder WH-Project William Hartanto punya catatan serupa. Dia menyoroti sebagian penghuni papan pemantauan khusus merupakan saham-saham gocap yang masih tinggi risiko. Lonjakan harga pada beberapa saham tidak mewakili prospek secara keseluruhan.

Jika tetap ingin mencoba peruntungan di papan ini, perlu cemat melihat momentum seperti adanya aksi korporasi atau kenaikan volume perdagangan yang menandakan potensi kenaikan harga. "Entry dan exit tergantung pada momentum masing-masing saham. Namun memang lebih baik mencari saham lain yang prospeknya lebih bagus," tandas William.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari