Wabah corona bikin susah mengundang investasi masuk ke kawasan ekonomi khusus



KONTAN.CO.ID - Wabah virus korona (Covid-19) menyerang nyaris semua sektor usaha. Tak terkecuali investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Sekretaris Dewan Nasional KEK Enoh Suharto Pranoto mengakui, bahwa investasi di KEK mulai ikut terdampak dari adanya wabah Covid-19 di Indonesia. 

Beberapa pelaku usaha terpaksa menunda realisasi investasi mereka tahun ini, lantaran penyebaran wabah virus korona Covid-19 tersebut.


Baca Juga: Maaf program kartu prakerja tak menjamin peserta bisa medapat pekerjaan

Tak hanya itu, adanya kebijakan physical distancing sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 juga mempengaruhi pembangunan di KEK.

"Ada dampa terhadap pelaku usaha di KEK. Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi kinerja investasi di KEK, selain beberapa pelaku usaha menunda realisasi investasinya, proses pembangunan kawasan juga terhambat karena akses permodalan yang dibatasi serta adanya kebijakan physical distancing," jelas Enoh saat dihubungi KONTAN pada Rabu (29/4) kemarin.

Baca Juga: Inilah perincian stimulus Rp 34 triliun bagi debitur UMKM dan usaha ultra mikro

Enoh menambahkan, masuknya barang modal impor untuk pembangunan pabrik juga terhambat. Hal tersebut lantaran perusahaan yang memproduksi barang modal tidak berproduksi lagi, karena adanya wabah yang melanda global saat ini. 

"Tenaga ahli asing juga terhambat masuk ke Indonesia, karena PSBB," imbuhnya.

Dari catatan KONTAN, KEK yang tengah dikembangkan oleh pemerintah telah mencatat perolehan investasi sebesar Rp 22,2 triliun hingga Desember 2019. KEK tersebut juga telah mencetak lapangan kerja baru bagi 8.362 tenaga kerja.

Menurut Enoh, KEK diharapkan mampu mendatangkan investasi Rp 95,3 triliun pada tahun 2024 sampai 2025. Enoh pun yakin bahwa nantinya KEK mampu memenuhi komitmen investasi tersebut.

Sebagai informasi, hingga tahun 2019 sudah terbangun 15 KEK di Indonesia, dengan 11 KEK telah beroperasi dan 4 sisanya dalam pembangunan.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Syamsul Azhar