Wabah Ebola Kongo Tembus Rekor, Lebih dari 1.000 Kasus dalam Sebulan



KONTAN.CO.ID - NAIROBI. Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) mencatat laju penyebaran tercepat dibandingkan seluruh wabah Ebola sebelumnya dalam periode satu bulan pertama. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut lonjakan kasus dipicu oleh penyebaran awal virus yang sudah mencapai wilayah perkotaan.

Hingga kini, wabah Ebola jenis Bundibugyo di Kongo telah menginfeksi lebih dari 1.000 orang dan menyebabkan sedikitnya 267 kematian. WHO menyebut jumlah kasus terkonfirmasi dalam satu bulan pertama menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah berbagai wabah Ebola.


Pejabat senior WHO Abdirahman Mahamud mengatakan penyebaran cepat terjadi karena sejumlah kasus awal ditemukan di pusat kota, termasuk Bunia dan kawasan pertambangan Mongbwalu. 

Baca Juga: Wabah Ebola di Afrika Makin Menyebar, 139 Orang Mati Diduga Akibat Penyakit Ini

Kondisi ini berbeda dengan banyak wabah sebelumnya yang biasanya bermula di wilayah pedesaan sehingga penyebarannya lebih mudah dikendalikan.

"Yang penting adalah kami perlu meningkatkan respons karena wabah ini bergerak lebih cepat daripada kami," kata Mahamud dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa (23/6/2026), setelah mengunjungi Bunia pekan lalu.

Menurut dia, wabah kali ini juga terlambat terdeteksi. Virus diperkirakan sudah beredar selama beberapa bulan sebelum pemerintah Kongo secara resmi mengumumkan wabah tersebut pada 15 Mei.

Meski demikian, WHO melihat sejumlah tanda perbaikan dalam penanganan wabah. Dalam dua pekan terakhir, jumlah tempat tidur untuk pasien Ebola meningkat menjadi lebih dari 500 unit. Selain itu, penolakan masyarakat terhadap petugas kesehatan yang sebelumnya menjadi hambatan mulai berkurang.

"Masyarakat semakin memahami risiko Ebola dan mulai meminta bantuan agar mereka bisa melindungi diri," ujar Mahamud.

Kasus Muncul di Kamp Pengungsian

Penyebaran Ebola juga mulai mengancam kamp-kamp pengungsian yang padat di wilayah timur Kongo. 

Baca Juga: Wabah Ebola di Afrika Menyebar dengan Cepat, WHO Mengerek Risiko Jadi Sangat Tinggi

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan sedikitnya 25 kasus Ebola telah dikonfirmasi di tiga kamp pengungsian, dengan 14 orang meninggal dunia.

Abdoulaye Wone dari IOM mengatakan kondisi kamp yang sudah padat sejak sebelum wabah membuat pengendalian virus menjadi lebih sulit. Banyak penghuni kamp juga tetap keluar setiap hari untuk bekerja atau mencari makanan, sehingga meningkatkan risiko penularan.

"Sebelum wabah terjadi pun mereka sudah menghadapi masalah kepadatan yang tinggi," kata Wone.

Di kamp Kigonze, organisasi bantuan Katolik Caritas melaporkan empat anak meninggal sejak Senin, meski hasil pemeriksaan laboratorium belum keluar.

Wabah Ebola terbesar sebelumnya terjadi di Afrika Barat pada 2014–2016, yang melanda Guinea, Sierra Leone, dan Liberia serta menewaskan sekitar 11.000 orang. Sementara itu, Kongo juga pernah mengalami wabah besar pada 2018, namun dengan tingkat kematian yang lebih rendah dibandingkan wabah saat ini.

Baca Juga: Petugas Kesehatan dari Berbagai Penjuru Dunia Bergerak Demi Cegah Wabah Ebola Meluas

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat telah terjadi lebih dari 20 wabah Ebola di kawasan Afrika sub-Sahara.

Namun, kecepatan penyebaran wabah terbaru di Kongo menjadi perhatian utama karena virus telah memasuki wilayah perkotaan dan kawasan dengan populasi rentan.