Wacana Pembatasan Ritel Modern Tak Goyahkan Prospek AMRT, Cek Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) diproyeksi masih solid di tahun 2026. Namun, kinerja AMRT dibayangi wacana pembatasan ekspansi ritel modern ke wilayah desa.

Seperti diketahui, pemerintah memiliki wacana untuk membatasi minimarket modern seperti Alfamart dan Indomaret beroperasi di wilayah pedesaan demi memberi jalan bagi Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih supaya bisa makin eksis.

Kendati demikian, Analis UBS Sekuritas Alex Manoonpol dan Permada Darmono tidak melihat Kopdes sebagai ancaman kompetitif yang berarti bagi ritel seperti Alfamart maupun Indomaret dalam jangka pendek hingga menengah.


Mereka menyoroti, bahwa segmen minimarket modern di Indonesia dinilai secara historis sulit ditembus oleh pemain baru. Hal ini tercermin dari sejumlah inisiatif ritel yang dipimpin pemerintah sebelumnya, seperti program DesaMart melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang belum mampu menciptakan daya saing kuat di pasar.

Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Hingga Gangguan Pasokan Ancam Kinerja Emiten Petrokimia

Apalagi jika mengingat program ini merupakan inisiatif pemerintah yang luas dan multisektor, di mana ritel hanya menjadi komponen kecil, di samping pertanian, perikanan, dan lainnya.

“Kepercayaan dan pengenalan merek yang kuat dan sudah mengakar bahkan di wilayah pedesaan merupakan benteng kompetitif yang tahan lama, sehingga penggeseran langsung terhadap posisi Alfamart dan Indomaret kecil kemungkinannya terjadi,” ungkap Alex dan Permada dalam riset 13 Februari 2026.

AMRT memandu outlook 2026 dengan pertumbuhan same-store sales growth (SSSG) mid-single digit serta penambahan 1.000 gerai, yakni 800 Alfamart dan 200 Alfamidi, yang memperkuat trajektori ekspansi stabil perseroan.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai kehadiran Kopdes lebih merupakan tantangan jangka panjang. Meski demikian, efisiensi logistik dan daya saing harga AMRT masih dinilai unggul sehingga kompetisi di pasar FMCG belum akan mengetat secara signifikan.

“AMRT juga memiliki fleksibilitas tinggi untuk mengalihkan rencana 800 gerai ke kota tier-2 dan tier-3 di luar Jawa yang belum jenuh, sekaligus menghindari benturan langsung di area desa terpencil,” ujar Wafi kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).

Meski Kopdes berpeluang menawarkan harga FMCG lebih kompetitif berkat dukungan subsidi, dampaknya terhadap perubahan perilaku konsumen dinilai terbatas. Pasalnya, pemain besar seperti Alfamart dan Indomaret tetap tumbuh meski mematok harga lebih premium, karena konsumen lebih mengutamakan kenyamanan, kebersihan, dan kualitas layanan.

Baca Juga: Outlook Negatif dari Fitch dan Gejolak Global Membayangi, Simak Prospek SBN

Analis Sucor Sekuritas Christofer Kojongian dalam riset 13 Januari 2026 juga melihat pasar luar Jawa sebagai pilar pertumbuhan struktural utama, didukung oleh penetrasi modern trade yang masih rendah, serta ditopang oleh harga AMRT yang kompetitif dan ragam produk yang lebih luas dibanding perdagangan tradisional.

Christofer juga mencermati, AMRT diperkirakan akan diuntungkan oleh perbaikan kondisi makroekonomi pada 2026. Katalis utama datang dari kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar 6%–9% yang berlaku efektif 1 Januari 2026 serta implementasi insentif PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP).

Selain itu Wafi juga melihat momentum Ramadan dan Lebaran tetap menjadi kontributor terbesar terhadap volume penjualan tahunan AMRT. Prospek pemulihan daya beli masyarakat seiring inflasi yang stabil serta ekspektasi penurunan suku bunga juga akan menopang konsumsi segmen menengah-bawah, yang merupakan pasar inti AMRT.

Lebih dalam, Christofer mencermati AMRT kini memasuki fase disiplin modal yang lebih ketat pada 2026 dengan alokasi belanja modal (capex) sebesar Rp 4 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp 4,5 triliun pada 2025.

“Tidak adanya investasi distribution center (DC) baru, ditambah proyeksi free cash flow to firm (FCFF) sekitar Rp 3,6 triliun per tahun, diperkirakan akan menopang posisi kas bersih yang berkelanjutan,” jelas Christofer.

Dicatat pula manajemen menargetkan porsi penjualan online yang lebih tinggi sekitar 10% dari pendapatan pada 2026, dari sekitar 8% pada 9M25, didukung oleh peningkatan jumlah dark store dari sekitar 20 menjadi sekitar 100 unit serta perluasan armada pengiriman untuk meningkatkan efisiensi logistik.

 
AMRT Chart by TradingView

Untuk diketahui dari keuangan AMRT cetak laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 2,31 triliun sepanjang Januari hingga September 2025 atau turun 3,49% YoY. Ada pun pendapatan neto dibukukan tumbuh 7,09% YoY menjadi Rp 94,47 triliun per kuartal III 2025.

Christofer memproyeksikan kinerja keuangan AMRT akan tetap tumbuh di 2026, dengan pendapatan AMRT pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 138,87 triliun. Sejalan dengan pertumbuhan top line, laba bersih AMRT pada 2026 juga diperkirakan naik menjadi Rp 3,77 triliun.

Mempertimbangkan berbagai faktor di atas, Christofer memberikan rekomendasi merekomendasikan investor untuk beli saham AMRT dengan target Rp 2.900 per saham. Kemudian Analis UBS juga merekomendasikan buy AMRT dengan target Rp 2.600 per saham.

Tak ketinggalan, Wafi juga memberi rekomendasi kepada investor untuk buy AMRT dengan target harga 2.400 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News