Wacana Skema Bagasi Pesawat Berbasis Jumlah Koper Mencuat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana penerapan skema bagasi pesawat berbasis jumlah koper alias one piece baggage allowance kembali menjadi perhatian publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial.

Pengamat transportasi udara Gatot Raharjo menilai tren global menunjukkan bahwa pengaturan bagasi kini tidak lagi hanya berbasis total berat, tetapi juga jumlah koper dengan batas berat tertentu per unit. 

“Konsep ini dapat memberi kepastian lebih sederhana bagi penumpang karena mereka sejak awal mengetahui jumlah koper yang dapat dibawa beserta batas berat masing-masing,” kata dia, Rabu (9/7).


Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum ASITA, Rusmiati, yang menilai konsep one piece baggage allowance dapat menjadi opsi bagi maskapai, terutama untuk perjalanan jarak jauh atau dengan durasi lebih panjang.

Baca Juga: Menakar Efektivitas Skema Bagasi Berbasis Jumlah Koper

Meski demikian, penerapan konsep ini perlu mempertimbangkan aspek operasional, mulai dari proses check-in, pemilahan dan pemuatan bagasi, penanganan ground handling, hingga dampaknya terhadap efisiensi biaya dan keselamatan penerbangan. Karena itu, piece concept tidak hanya perlu dilihat sebagai perubahan teknis, tetapi sebagai upaya meningkatkan kualitas pengalaman perjalanan udara.

Perdebatan mengenai bagasi menunjukkan bahwa isu ini semakin penting bagi penumpang. Mereka membutuhkan kepastian mengenai barang yang dapat dibawa, cara menghitungnya, serta menghindari biaya tambahan yang tidak terduga di bandara.

Di tengah kebutuhan perjalanan yang semakin praktis dan transparan, konsep one piece baggage allowance membuka peluang bagi industri penerbangan nasional untuk mengevaluasi kembali sistem bagasi yang lebih mudah dipahami dan sesuai dengan pola perjalanan masyarakat saat ini.

Pada akhirnya, isu utamanya bukan hanya soal menambah jatah bagasi, melainkan bagaimana menghadirkan sistem yang lebih pasti, sederhana, dan mendukung kenyamanan penumpang.

Tren Global 

Secara global, perubahan konsep aturan bagasi menjadi bagian dari perkembangan industri penerbangan. Pada rute internasional, khususnya penerbangan jarak jauh dan koneksi lintas-maskapai, aturan bagasi tidak lagi hanya memperhitungkan total berat, tetapi juga jumlah, ukuran, dan batas berat setiap koper.

Baca Juga: Bandara Husein Siap Kembali Layani Pesawat Jet, InJourney Kebut Pembenahan

Dari sisi keselamatan dan kesehatan kerja, IATA merekomendasikan berat satu bagasi tercatat umumnya tidak melebihi 23 kilogram, dengan batas maksimum yang banyak diterapkan berada di kisaran 32 kilogram. Hal ini menunjukkan bahwa bagasi merupakan bagian dari aspek keselamatan, efisiensi operasional, dan kualitas layanan bandara.

Meski demikian, aturan bagasi masih berbeda antar-maskapai dan wilayah, sehingga sering membingungkan penumpang. Perbedaan ini memunculkan perdebatan antara dua konsep utama, yaitu weight concept yang berbasis total berat dan piece concept yang berbasis jumlah bagasi.

Perdebatan tersebut juga muncul di berbagai forum perjalanan daring, termasuk Tripadvisor.com, ketika penumpang mempertanyakan belum adanya standar aturan bagasi yang seragam. Sebagian menilai weight concept lebih fleksibel, sementara lainnya menganggap piece concept lebih sederhana dan mudah dipahami.

Menurut Andrew Harrison-Chinn, Chief Marketing Officer Dragonpass, kebijakan bagasi maskapai kerap membingungkan karena perbedaan istilah dan ketentuan antar-perusahaan. Aturan mengenai bagasi, prioritas boarding, hingga barang pribadi tidak selalu konsisten, sehingga penumpang dapat mengalami kesulitan memahami batasan yang berlaku.

Baca Juga: Minat Penerbangan Domestik Masih Moderat, Ini Penyebabnya

Kondisi ini membuat pertimbangan dalam memilih maskapai tidak lagi hanya berdasarkan harga tiket, tetapi juga kejelasan aturan bagasi, terutama pada penerbangan dengan koneksi antar-maskapai. Penumpang kini semakin memperhatikan nilai keseluruhan perjalanan, kemudahan aturan, dan kepastian layanan.

Untuk meningkatkan kemudahan bagi penumpang, sejumlah maskapai internasional mulai menerapkan piece concept. Emirates masih menggunakan weight concept pada sebagian rute, dengan pendekatan berbeda untuk rute tertentu seperti Amerika dan Afrika. Sementara itu, Air France dan KLM telah menerapkan piece concept di seluruh jaringan penerbangannya sejak 2010.

Di Asia Pasifik, sejumlah maskapai mulai beralih dari weight concept ke piece concept, seperti Cathay Pacific sejak 2016, Vietnam Airlines pada 2019, dan Thai Airways pada 2026 untuk ketentuan tertentu. Perkembangan ini menunjukkan bahwa belum ada satu standar bagasi yang berlaku secara global, tetapi tren industri mengarah pada aturan yang lebih terstruktur, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan rute penerbangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News