Waduh, tanah di Semarang turun hingga 15 sentimeter tiap tahun



KONTAN.CO.ID - SEMARANG. Eksploitasi air tanah di Kota Semarang, Jawa Tengah, yang berlebihan kini mulai dirasakan dampaknya.

Hal itu terlihat dari banyaknya wilayah di Kota Semarang seperti Semarang bagian utara dan timur yang mengalami penurunan tanah berkisar 10 sentimeter sampai 15 sentimeter tiap tahunnya.

Temuan itu diungkap kelompok peneliti dari University of Amsterdam dan IHE-Delft Institute for Water Education, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan Unika Soegijapranata, Amarta Institute for Water Literacy dan Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air (KRuHA).

Baca Juga: Banjir melanda Jakarta, ini saran dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

"Ekstraksi air tanah di Semarang mengalami peningkatan drastis pada periode tahun 1980 sampai tahun 2000-an yang semulanya 0.4 juta kubik tiap tahun dan sekarang mencapai 38 juta kubik tiap tahun," ujar Amalinda Savirani koordinator peneliti tersebut, Jumat (31/1/2020).

Amalinda menyebut ada warga yang tiap lima tahun sekali selalu meninggikan rumahnya agar tidak tenggelam akibat banjir rob karena permukaan tanah sudah lebih rendah dibandingkan permukaan air laut.

Baca Juga: Jakarta diramal tenggelam pada 2050, ilmuan PBB angkat bicara

Editor: Noverius Laoli