Wah, Roja berhijab laksana princess



Menjalani bisnis sembari kuliah mungkin menjadi pilihan sejumlah pengusaha muda masa kini. Namun, meski melakoni dua peran sekaligus dalam satu waktu, mereka tetap bisa menggoreskan kesuksesan. Salah satunya adalah Roja Fitridayani, yang membangun bisnis hijab sejak duduk di bangku kuliah.

Bukan tanpa sengaja Oja, panggilan akrabnya, terjun dalam dunia bisnis. Perempuan 23 tahun ini mengaku sudah akrab dengan dunia usaha sejak kecil. “Saat bermain kelereng, karet gelang, saya selalu kumpulkan untuk dijual lagi. Dulu, mendapat uang sendiri rasanya bahagia banget,” kenang Oja. Orangtua yang menularkan darah bisnis pada dirinya. Sang ayah memiliki pabrik beras dan sejumlah usaha di Kerinci, Jambi.

Ketika mengambil kuliah di Universitas Widyatama, Bandung, Oja pun kembali mengasah insting bisnisnya. Dia menjual beragam produk, mulai dari pulsa, sepatu, hingga sandal karakter. Bahkan, sandal karakter sempat menjadi primadona. Sayang, ketika banjir pesanan, tiba-tiba produsen berhenti berproduksi.


Kejelian menangkap peluang bisnis pun terbukti ketika Oja tertarik memakai hijab selendang yang secara salah kaprah disebut oleh kalangan umum sebagai pashmina. Lantaran harga hijab model ini dianggap terlalu mahal bagi dirinya, Oja mencoba bikin sendiri. Dia membeli beberapa helai kain untuk dibuat hijab pashmina.

Tak mau sisa kain terbuang sia-sia, Oja berinisiatif membuat hijab dari sisa kain tersebut untuk dijual. Pertama-tama, teman kuliah yang menjadi konsumennya. Kemudian, Oja memasang foto hijab tersebut di akun Instagram miliknya. Tak disangka, respons pembeli dari Instagram cukup baik. “Meski hanya dua helai, setiap hari selalu ada pesanan,” kata perempuan ayu ini.

Agustus 2012, Oja memutuskan untuk lebih serius menekuni bisnis hijab. Dia menyewa sebuah kontrakan sebagai workshop dengan mempekerjakan dua penjahit.

Bisnis berbasis ilmu Pertimbangan Oja untuk berbisnis hijab bukan semata-mata karena ada pesanan. Dengan bisnis hijabnya, dia juga ingin mengaplikasikan ilmu yang dipelajarinya. Di Widyatama, Oja mengambil studi di fakultas  bisnis dan manajemen.

Oleh sebab itu, sejak awal, dia sudah menerapkan prinsip-prinsip bisnis. Produk berkualitas dan harga miring menjadi strateginya menembus pasar. “Saya menjual hijab pashmina Rp 35.000, sementara di luar harganya mencapai Rp 50.000,” kata Oja.  

Kemudian, dia juga menetapkan segmentasi, target dan positioning produk Hijab Princess. “Dalam bisnis, ketiga hal itu sangat penting,” kata Oja.

Dia menentukan segmen produknya untuk kelas menengah. Target pasarnya adalah anak-anak kuliah seperti dirinya. “Target pasar ini bisa membantu saya memilih strategi pemasaran,” jelas Oja. Untuk positioning, Oja menempatkan Hijab Princess sebagai produk yang berkelas dengan tagline Your Royal Partner.

Dengan memadukan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah dalam menjalankan usaha Hijab Princess, Oja berharap akselerasi bisnisnya cepat. Benar saja, baru dalam empat bulan, keuntungan yang diperolehnya sudah lebih dari Rp 1 juta. Dia tak menyangka, hijab menjadi bisnis yang menguntungkan baginya.

Pendapatannya terus melonjak pada 2013. Saat itu  dia juga menemukan bahan impor dari India, yakni diamond georgette italiano. Menurut Oja, bahan ini sesuai untuk pashmina lantaran lebih tebal, strecth, dan tidak gampang kusut. Dia pun segera memperbarui koleksi pashminanya dengan material impor tersebut.

Sesuai dengan perkiraannya, produk baru ini mendapat sambutan cukup baik. Dia mengklaim, Hijab Princess sebagai pionir hijab berbahan diamond italiano. Omzetnya terus melonjak pada tahun itu. Bahkan, dalam waktu tiga hari, 4.000 lembar pashmina terjual. Tanpa pikir panjang, Oja segera mengikat kontrak dengan distributor kain tersebut di Bandung.

Pemakaian bahan diamond italiano ini segera dibuntuti oleh produsen hijab lainnya. Oja pun tak gentar. “Aksi itu justru makin melambungkan nama Hijab Princess karena banyak konsumen yang mencari produk original yang memakai diamond,” jelas dia.

Oja juga terus menjaga kualitas produknya. Dia menempatkan karyawan khusus untuk mengecek kualitas hijab sebelum dikirim ke konsumen. Misalnya, karyawan khusus untuk membuang benang. Alhasil, produk yang diterima konsumen benar-benar bersih. Prinsipnya, produk yang diterima konsumen harus melebihi ekspektasi mereka. “Meski dijual lewat online, kualitas Hijab Princess tak kalah dengan butik,” kata Oja yang mengaku sebagai pribadi perfeksionis.

Bukan cuma urusan kualitas produk, Oja juga memperhatikan servis. Dia mengutamakan keramahan dalam melayani konsumen. “Kedua hal ini yang terlihat menonjol ketika saya melakukan riset pasar,” kata Oja yang memakai bisnisnya sendiri sebagai bahan skripsi.

Kini, selain mengandalkan penjualan online, Oja juga sudah membuka butik sendiri di Bandung. Dengan adanya butik, dia juga melengkapi produk busananya dengan membuat baju muslim bergaya kasual. Sementara, dia tetap setia dengan banyak pilihan warna untuk produk hijabnya. “Hijab Princess terkenal dengan warna-warni,” tutur Oja yang kini mengambil Master of Business Administration di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Butik membuat permintaan melonjak. Oja juga memiliki dua distributor resmi di Batam dan Kalimantan Timur. Sementara reseller meluas di seluruh Indonesia. Untuk memenuhi permintaan sekitar 10.000 helai pashmina per bulan, dia mempekerjakan 16 karyawan. Oja memproduksi sendiri seluruh pashmina yang dijualnya Rp 50.000 hingga Rp 145.000.    

Antara bekerja dan berbinis Sejatinya, menjadi pebisnis bukan impian Roja Fitridayani. Dia yang selalu punya prestasi cemerlang ketika sekolah, menyimpan impian menjadi seorang dokter.

Namun, Oja tak berhasil masuk fakultas kedokteran perguruan tinggi negeri, seperti harapannya. Hingga akhirnya, dia melabuhkan studi di Universitas Widyatama, Bandung. “Sejak saat itu, saya menyadari Tuhan punya rencana lain untuk saya,” kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Begitu pula, saat menyelesaikan kuliahnya dengan menyandang predikat cumlaude, Oja dihadapkan pada pilihan sulit. Dia mendapat tawaran dari dosen masuk ke perusahaan asing dengan penempatan di Singapura dan bergaji besar. Sementara, saat itu, dia sedang merintis bisnis hijab. “Saya benar-benar bingung waktu itu,” kata Oja.

Maklum, orangtua menginginkan dia menerima tawaran itu. Namun, Oja punya pertimbangan, pasar tidak selamanya sama. “Belum tentu ketika saya kembali ke Indonesia, pelanggan masih ingat produk saya. Pasar adalah aset,” terang dia. Akhirnya, meski sempat mengecewakan orangtua, Oja memilih mengembangkan bisnis Hijab Princess.

Berguru pada ayah Menjadi pemimpin perusahan dengan usia muda menjadi tantangan sendiri bagi Oja. Ada rasa sungkan ketika dia harus menghadapi karyawan atau klien yang usianya melebihi dirinya.

Inilah saatnya dia berguru kepada sang ayah, soal pengalaman menghadapi karyawan atau klien. “Karena dari dulu, saya melihat ayah saya berwibawa dan punya kharisma di hadapan orang lain. Jadi, saya sering konsultasi dengan beliau,” kata Oja yang mengagumi ayahnya.

Selain itu, sebagai solusi untuk karyawan, dia menerapkan standar operasi dan prosedur beserta kontrak kerja yang jelas. o

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News