Wakil Dirut OBM Drilchem Ivan Alamsyah Memilih Instrumen Investasi Sesuai Karakter



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memilih instrumen investasi tak bisa asal-asalan. Selain menilik kinerja saat ini dan prospek ke depan, pilihan investasi juga mesti cocok dengan karakter investor dalam menghadapi risiko yang mungkin terjadi.

Prinsip itulah yang dijalani oleh Ivan Alamsyah Siregar, Wakil Direktur Utama PT OBM Drilchem Tbk (OBMD). Dia percaya, pilihan instrumen dan porsi dalam berinvestasi selalu terhubung dengan karakter individu dalam menerima risiko.

Ivan mengaku bukan tipe investor yang bisa menerima risiko terlalu besar. "Jadi investasi saya didasarkan terhadap analisa risiko kecil sampai menengah. Pengenalan karakter diri sangat penting, selain pendalaman terhadap instrumen yang mau digeluti," tutur Ivan kepada Kontan.co.id, belum lama ini.


Investor tidak boleh sekadar ikut-ikutan. Jangan dipaksakan jika karakternya tidak sesuai dengan produk investasi yang high risk, high return. Apabila tidak ada kesiapan mental, menurut Ivan, itu hanya akan menjadi siksaan.

Baca Juga: Memilih Saham-Saham Emiten yang Kebal dari Ancaman Resesi Global

Oleh sebab itu, dia sangat selektif dalam memilih investasi. Misalnya dalam berinvestasi saham, Ivan mencermati dengan teliti kinerja keuangan, kondisi fundamental dan prospek bisnis emiten. Setidaknya, Ivan menilik empat kriteria dalam memilih saham.

Pertama, reputasi perusahaan. Kedua, keberlanjutan pertumbuhan income. Ketiga, konsistensi dalam mencetak profit. "Selanjutnya saya lihat juga bagaimana perusahaan itu tahan terhadap krisis," terang Ivan.

Meski begitu, saham bukan menjadi instrumen yang paling dominan dalam portofolio investasi pria kelahiran Jakarta, 12 Februari 1971 ini. Dia menggambarkan, saham hanya memegang porsi 20%.

Sedangkan instrumen paling besar dalam portofolio investasinya adalah properti dengan porsi 50%. Lalu, 20% diisi oleh obligasi dan tabungan. Sisanya, 10% dialokasikan untuk usaha lainnya, seperti investasi di bisnis F&B.

Baca Juga: Pasar Tertekan, Investor Masih Bertahan di Obligasi Tenor Pendek

Cuan Saat Booming Properti

Ivan mengenang, porsi investasi itu akan berbeda sesuai dengan rentang usia. Saat di awal masa kerja pada usia 25 tahun, kesadaran berinvestasi belum tumbuh.

Kala itu, hanya 10%-20% yang disisihkan untuk tabungan. Hampir seluruh penghasilan dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder selayaknya gaya hidup di usia muda.

Saat menginjak usia 30 tahun, alokasi pengeluaran sudah berubah. Keinginan untuk hal-hal yang bersifat sekunder mulai berkurang.

Ivan mencari alternatif investasi, sesuai dengan jenjang karier dan pendapatan yang lebih baik. Pada usia 30-an tahun itu, Ivan mengalokasikan pendapatan untuk investasi properti.

Baca Juga: Meracik Ulang Portofolio Investasi di Tengah Ancaman Resesi

Kebetulan, saat itu sedang dalam momentum yang tepat. Pasalnya, setelah lepas dari krisis moneter, pada tahun 2000-an awal terjadi booming properti.

Sejalan dengan pesatnya laju bisnis dan maraknya perusahaan internasional, gaya hidup urban pun berkembang. Apartemen menjadi tren seiring  tingginya permintaan dari kelas menengah dan ekspatriat.

Ivan pun mencoba peruntungan untuk investasi apartemen. Hasilnya, memuaskan. Ivan menggambarkan, dalam dua tahun saja, keuntungan yang bisa diraih dari penjualan apartemen saat itu bisa mencapai 20%-50%.

"Beli saat groundbreaking, jadi masih murah. Setelah apartemen jadi, surat-surat lengkap, kemudian saya jual. Keuntungannya besar saat itu," kenang Ivan.

Baca Juga: Masyarakat Indonesia Semakin ke Arah Digital untuk Mengelola Keuangan dengan Baik

Dia juga punya apartemen untuk disewakan. Kala itu, permintaan apartemen masih tinggi, baik dari pekerja di luar Jakarta maupun ekspatriat. Bahkan ada loyal tenant yang menyewa untuk lima tahun.

"Pilihan lokasi (apartemen) sangat menentukan. Saya pilih di lokasi strategis, kawasan perkantoran Jakarta Pusat dan Selatan. Jadi permintaan tinggi, bahkan bisa waiting list," ujar Ivan.

Perkenalan Ivan dengan industri properti sudah dimulai sejak usia dini. Saat hendak membeli tanah dan rumah, sang ibu selalu mengajaknya berdiskusi. Lekat dalam ingatan, bagaimana sang ibu mengajarkan untuk mencari properti yang strategis.

Baca Juga: Emiten Properti Tahan Ekspansi Akibat Pasar Perkantoran Stagnan

"Cari di dekat jalan besar, tempatnya bisa jadi area komersial, sehingga kalau dijual akan lebih mahal. Cara berpikir itu sudah terbentuk karena sering diskusi dengan ibu," tutur Ivan.

Namun, tak cukup hanya lokasi strategis, investasi properti juga perlu menganalisa tren industrinya. "Saat itu, pembangunan marak, ada urban style, banyak ekspatriat. Jadi investasi apartemen menjanjikan. Sekarang tentu analisanya sudah berbeda," tandas Ivan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati