Wall St Dibuka Naik Jumat (18/9), S&P 500 dan Nasdaq Terangkat Penurunan Harga Minyak



KONTAN.CO.ID - Indeks saham utama Wall Street dibuka menguat pada Jumat (18/9/2026), dengan S&P 500 dan Nasdaq mencatat kenaikan tipis.

Investor mencermati dampak penurunan harga minyak terhadap inflasi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

Melansir Reuters pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 48,7 poin atau 0,09% menjadi 51.826,78. S&P 500 menguat 19,4 poin atau 0,25% ke 7.657,17, sedangkan Nasdaq Composite bertambah 103,8 poin atau 0,39% menjadi 26.522,09.


Baca Juga: Tokocrypto Siapkan Trading Futures, Target Meluncur Akhir 2026

Sentimen pasar masih dipengaruhi keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga serta komentar Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai arah suku bunga ke depan.

Penurunan harga minyak menjadi salah satu penopang sentimen karena membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Namun, kenaikan imbal hasil US Treasury menahan penguatan pasar saham.

Yield Treasury AS bertenor 10 tahun naik 2,9 basis poin menjadi 4,976%.

“Minyak relatif mendukung. Hari ini sebagian besar akan menjadi waktu untuk mencerna dampak dan benar-benar memikirkan keuntungan dan kerugian dari langkah terbaru The Fed,” kata Steve Sosnick, chief strategist Interactive Brokers.

Baca Juga: Bitcoin Munculkan Sinyal Bullish, Fisher Transform Catat Persilangan Keempat

Investor juga kembali mencermati prospek permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI) setelah sejumlah eksekutif industri teknologi pekan ini menyerukan perlunya memperlambat pengembangan teknologi tersebut. Hingga kini, belum terdapat kejelasan mengenai bentuk perlambatan yang dimaksud.

Persaingan pengembangan AI juga berpotensi menjadi salah satu isu yang membayangi pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pada pekan depan.

Di tengah belum dimulainya musim laporan keuangan berikutnya yang diperkirakan masih sekitar sebulan lagi, komentar para petinggi perusahaan dalam sejumlah konferensi sepanjang pekan ini turut menjadi indikator awal mengenai kondisi korporasi dan membentuk sentimen pasar.

Ben Snider, chief US equity strategist Goldman Sachs mengatakan, penguatan pertumbuhan laba S&P 500 belakangan ini memunculkan kekhawatiran bahwa pasar saham berada dalam kondisi “earnings bubble”.

Namun, Goldman Sachs memperkirakan pertumbuhan laba S&P 500 akan melambat dalam beberapa tahun mendatang, bukan mengalami penurunan tajam.

Baca Juga: Emas Naik ke Level Tertinggi Sepekan, Seiring Melandainya Harga Minyak

Harga minyak turun tiga hari beruntun

Harga minyak mentah turun untuk hari ketiga berturut-turut pada Jumat. Pasar mengabaikan kekhawatiran pasokan meskipun Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman kembali terlibat serangan di sepanjang perbatasan kedua negara.

Harga minyak Brent turun hampir 1% menjadi US$103,87 per barel.

Penurunan harga minyak memberikan sedikit ruang bagi investor karena berpotensi mengurangi tekanan inflasi. Namun, pergerakan yield Treasury yang mendekati 5% tetap menjadi perhatian pasar saham.

Perdagangan Jumat juga bertepatan dengan berakhirnya kontrak derivatif saham, opsi indeks, dan futures secara bersamaan.

Fenomena yang dikenal sebagai triple witching ini terjadi setiap kuartal dan dapat meningkatkan volume perdagangan sekaligus memperbesar volatilitas pasar.

Di sisi korporasi, saham Xenon Pharmaceuticals anjlok hampir 23% dalam perdagangan premarket.

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Tertekan Pekan Depan, Pasar Tunggu Keputusan BI

Penurunan terjadi setelah perusahaan menghentikan sementara perekrutan peserta uji coba obat eksperimental untuk depresi berat dan gangguan bipolar menyusul laporan mengenai efek samping.

Sementara itu, Berkshire Hathaway turun sekitar 0,4% setelah perusahaan mengumumkan Warren Buffett, mantan CEO sekaligus salah satu investor paling dikenal di dunia, mundur dari posisi chairman dan menjadi chairman emeritus, efektif segera.

Saham ON Holding yang tercatat di AS justru melonjak 6% setelah perusahaan menggandeng pesepak bola Kylian Mbappe sebagai bagian dari ekspansinya ke pasar sepak bola. Saham Nike, yang sebelumnya memiliki kerja sama dengan Mbappe, turun lebih dari 1%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News