KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Jumat (6/11/2026), terutama didorong oleh pemulihan saham-saham semikonduktor setelah mengalami tekanan tajam pada sesi sebelumnya. Namun, kekhawatiran terhadap pengetatan regulasi kecerdasan buatan (AI) dan potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) masih membayangi pergerakan pasar. Mengutip
Reuters, indeks Nasdaq Composite dibuka naik 299,54 poin atau 1,23% ke level 24.614,53. Indeks S&P 500 juga menguat 19,44 poin atau 0,26% ke posisi 7.373,17.
Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average dibuka melemah 486,37 poin atau 0,94% ke level 51.036,69.
Baca Juga: Transaksi Derivatif Kripto di Indonesia Tembus Rp 5,8 Triliun pada September 2026 Penguatan Nasdaq terjadi setelah indeks tersebut mencatat penurunan harian terdalam dalam 19 bulan pada perdagangan Kamis (5/11). Koreksi itu juga menandai Nasdaq memasuki wilayah koreksi atau correction territory. Indeks tersebut bahkan berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan selama empat pekan berturut-turut. Tekanan pasar sebelumnya dipicu kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu AS, termasuk di sejumlah negara bagian yang menjadi pusat pengembangan data center. Hasil tersebut memicu kekhawatiran bahwa rencana pengetatan regulasi AI dapat memperlambat pembangunan infrastruktur pusat data. Padahal, optimisme terhadap pesatnya pertumbuhan industri AI telah menjadi salah satu pendorong reli pasar saham AS hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang tahun ini.
Baca Juga: BSML Setujui Penjaminan Sebagian Besar Aset untuk Buka Akses Pendanaan Indeks volatilitas CBOE atau yang dikenal sebagai Wall Street's fear gauge juga mencatat lonjakan harian terbesar dalam sekitar 19 bulan pada Kamis. Meski demikian, indeks tersebut sedikit turun pada Jumat ke level 26,70. Di sisi lain, data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan kembali memunculkan kekhawatiran kenaikan suku bunga. Jumlah tenaga kerja nonpertanian atau nonfarm payrolls AS bertambah lebih besar dari ekspektasi pada Oktober, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,1%. Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja AS masih tangguh dan dapat memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. "Angka-angka tersebut kuat dan dalam kondisi normal menunjukkan bahwa The Fed harus mengambil sikap yang lebih hawkish," kata Joe Saluzzi, Co-Head of Equity Trading di Themis Trading. Namun, ia menilai lonjakan volatilitas pasar juga dapat menjadi pertimbangan bagi bank sentral AS sebelum mengambil keputusan kenaikan suku bunga. Pelaku pasar pun meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Berdasarkan data yang dikutip Reuters, peluang kenaikan suku bunga pada bulan tersebut meningkat menjadi 78%, dari sekitar 70% sebelum laporan tenaga kerja dirilis.
Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Melemah, Sentimen Kripto Ini Wajib Dicermati November 2026 Saham Semikonduktor Bangkit Sejumlah saham teknologi berkapitalisasi besar dan perusahaan bertumbuh bergerak bervariasi. Saham Nvidia naik 4,2% dalam perdagangan prapembukaan setelah sebelumnya mencatat penurunan harian terburuk sejak Januari 2025, ketika kemunculan model AI berbiaya rendah asal China, DeepSeek, mengguncang pasar saham AS. Saham semikonduktor lainnya seperti Advanced Micro Devices (AMD), Intel, Broadcom, dan Micron Technology juga menguat di kisaran 5% hingga 9%. Pemulihan turut terjadi pada saham operator pusat data seperti IREN dan Applied Digital, perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan CoreWeave dan Nebius Group, serta pemasok peralatan dan utilitas yang terkait dengan industri AI, termasuk GE Vernova dan Constellation Energy.
Baca Juga: Saham RANS Anjlok 51%, Usai Polemik Carnival Yogyakarta dan Isu Pengerahan Warga Saham Tesla dan SpaceX yang dipimpin Elon Musk juga masing-masing menguat 2,1% dan 5,5%, setelah terkoreksi tajam dalam dua sesi sebelumnya. Sebelumnya, lonjakan harga minyak mentah pada Kamis turut menekan pasar saham. Investor mencemaskan risiko inflasi akibat kenaikan harga energi yang dapat mendorong bank sentral global mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Pada Jumat, harga minyak mentah Brent sedikit menguat. Namun, komoditas tersebut masih berada di jalur untuk mencatat penurunan tajam secara mingguan. Kondisi ini turut membayangi indeks sektor energi S&P 500 yang berpotensi mencatat penurunan lebih dari 11% sepanjang pekan.
Secara keseluruhan, indeks S&P 500 juga berada di jalur untuk membukukan kinerja mingguan terburuk sejak Maret 2025, ketika kekhawatiran terhadap kebijakan tarif pemerintahan Presiden Donald Trump mengguncang pasar global. Di luar saham teknologi, saham perusahaan perangkat lunak Atlassian turun 15,9% setelah merilis laporan kinerja kuartal pertama. Sebaliknya, saham Airbnb melonjak 13,9% setelah perusahaan penyewaan akomodasi tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan sepanjang 2026.
Baca Juga: ST017 Tawarkan Kupon Menarik, Mampukah Pemerintah Capai Target Penjualan? Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News