Wall Street Anjlok di Awal September, Yield Obligasi dan Harga Minyak Jadi Beban



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Selasa (1/9), mengawali September dengan tekanan. Aksi jual di pasar obligasi global dan lonjakan harga minyak mentah menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.

Tiga indeks utama Wall Street kompak ditutup di zona merah seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak lebih tinggi.

Di saat yang sama, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di berbagai negara naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank-bank sentral perlu mempercepat kenaikan suku bunga untuk mengendalikan tekanan inflasi.


Baca Juga: Melejit 20,84% di Bulan Agustus, Prospek Ethereum Masih Menarik?

Yield US Treasury acuan juga kembali meningkat setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 19 bulan pada Senin (31/8).

"Setelah komentar hawkish Kevin Warsh pada Jumat, terjadi serangan di Iran dan harga minyak naik. Ini merupakan kombinasi sempurna untuk hari yang risk-off di pasar yang diperdagangkan dekat level tertinggi sepanjang masa," ujar Ross Mayfield, analis strategi investasi Baird di Louisville, Kentucky.

Selain faktor geopolitik, sentimen investor juga tertekan oleh faktor musiman. September secara historis menjadi bulan dengan kinerja terburuk bagi pasar saham AS.

Menurut Fisher Investments yang mengutip data Finaeon, September merupakan satu-satunya bulan sejak 1926 yang mencatat rata-rata imbal hasil negatif.

"September secara historis merupakan bulan terburuk dan selisihnya cukup besar. Terutama pada tahun pemilu sela, ini biasanya menjadi periode ketika kecemasan dan ketidakpastian politik mulai membebani pasar saham," kata Mayfield.

Baca Juga: Rebound Aset Kripto di Agustus Lebih Banyak Ditopang Investor Institusi

Ekspektasi Suku Bunga The Fed Berubah

Meningkatnya konflik di Timur Tengah membuat harga minyak mentah naik dan kembali memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi.

Kondisi tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah Kevin Warsh menyampaikan pandangan hawkish mengenai kebijakan moneter dan menegaskan pentingnya mengembalikan inflasi ke target bank sentral.

Pasar kini meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan probabilitas sekitar 68,2% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir pertemuan kebijakan September. Angka tersebut meningkat tajam dari sekitar 39,6% sepekan sebelumnya.

"Kami memiliki The Fed yang sangat, sangat hawkish dan mereka benar-benar ingin menaikkan suku bunga," kata Jay Hatfield, manajer portofolio InfraCap di New York.

Menurut Hatfield, The Fed ingin menunjukkan independensinya dari pemerintahan AS.

Baca Juga: BEI Tunda Penerapan Harga Minimum Saham Rp 1, Ini Jadwal Terbaru!

Data Ekonomi AS Mulai Melemah

Sejumlah data ekonomi AS yang dirilis pada Selasa juga menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan aktivitas ekonomi.

Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan perputaran di pasar tenaga kerja mulai melambat.

Sementara itu, data Purchasing Managers' Index (PMI) mengindikasikan aktivitas manufaktur kehilangan momentum. Belanja untuk pembangunan perumahan juga mengalami penurunan.

Sejumlah indikator tersebut menunjukkan kombinasi tekanan harga, keterbatasan pasokan serta ketidakpastian akibat tarif perdagangan dan ketegangan geopolitik.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham MEDC, EMAS, dan BBNI untuk Rabu (2/9/2026)

Tiga Indeks Utama Wall Street Melemah

Pada perdagangan Selasa, Dow Jones Industrial Average turun 418,97 poin atau 0,79% menjadi 52.766,93.

Indeks S&P 500 melemah 54,67 poin atau 0,71% menjadi 7.631,47. Sementara Nasdaq Composite turun 271,11 poin atau 1,03% menjadi 26.099,77.

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, sektor energi menjadi salah satu sektor yang mencatat kenaikan, didukung lonjakan harga minyak mentah.

Sebaliknya, sektor consumer discretionary mencatat penurunan paling besar.

Dow Jones Transportation Average, yang kerap menjadi indikator kondisi perekonomian, juga menjadi salah satu sektor dengan kinerja terburuk setelah anjlok 2,5%.

Indeks Philadelphia SE Semiconductor Index turun 2,1%. Seluruh konstituen indeks tersebut ditutup melemah.

Di Bursa New York Stock Exchange (NYSE), saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 2,8 banding 1.

Terdapat 143 saham yang mencatatkan level tertinggi baru, sementara 410 saham mencatatkan level terendah baru di NYSE.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News