Wall Street Anjlok, Saham AI Tertekan dan Harga Minyak Melonjak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (16/10/2026), seiring tekanan jual kembali melanda saham-saham teknologi terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Saham CoreWeave dan Broadcom merosot, sementara kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran investor menjelang akhir pekan.

Pelemahan tersebut membuat indeks Nasdaq berada di jalur penurunan mingguan lebih dari 4%. Investor khawatir perusahaan infrastruktur AI yang memiliki beban utang besar tidak mampu menghasilkan keuntungan tepat waktu untuk membayar kewajibannya, terutama jika biaya pinjaman terus meningkat.


Mengutip Reuters, saham CoreWeave, perusahaan pusat data yang didukung Nvidia, anjlok 12% pada perdagangan Jumat. Dengan demikian, saham perusahaan tersebut telah kehilangan sekitar 25% nilainya selama lima sesi perdagangan terakhir.

Baca Juga: Wall Street Terbelah, Saham AI Melemah Tekan Nasdaq, Dow Jones Justru Cetak Kenaikan

Tekanan juga terlihat pada pasar obligasi CoreWeave. Harga obligasi perusahaan tersebut mengalami aksi jual tajam sepanjang pekan ini, sehingga imbal hasilnya melonjak melampaui 15%.

Sementara itu, saham Broadcom terkoreksi 3,6%. Indeks saham semikonduktor Philadelphia Semiconductor Index (SOX) turut merosot 2,5% dan berada di jalur penurunan selama delapan hari perdagangan berturut-turut.

Lonjakan Harga Minyak Tekan Sentimen Wall Street

Selain tekanan pada saham teknologi, investor juga mencermati kenaikan harga minyak mentah lebih dari 3% pada Jumat. Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Rob Haworth, ahli strategi investasi senior di US Bank Wealth Management yang berbasis di Seattle, mengatakan ketidakpastian pasar mendorong investor mengambil sikap lebih berhati-hati.

"Ada sejumlah kekhawatiran di pasar," kata Haworth.

"Harga minyak yang tinggi, khususnya, cenderung menekan rasio harga terhadap laba saham. Karena itu, saya pikir investor memilih bersikap hati-hati menjelang akhir pekan daripada mengambil risiko lebih besar," ujarnya.

Kekhawatiran mengenai pembiayaan perusahaan AI juga bertambah setelah sejumlah investor Anthropic saat ini dan calon investor dikabarkan mempertimbangkan valuasi yang lebih rendah bagi perusahaan tersebut dalam rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) mendatang.

Reuters melaporkan perkembangan tersebut dengan mengutip sejumlah pihak yang mengetahui persoalan itu. Penyesuaian ekspektasi valuasi tersebut mencerminkan perhatian investor terhadap prospek pertumbuhan pendapatan perusahaan AI di tengah besarnya kebutuhan pendanaan.

Baca Juga: Intip Saham yang Banyak Diburu Asing Saat IHSG Ambruk 11,57% ke 5.185 di Akhir Pekan

Nasdaq dan S&P 500 Catat Pelemahan Mingguan Tajam

Pada penutupan perdagangan Jumat, mayoritas indeks utama Wall Street bergerak di zona merah.

Indeks S&P 500 turun 1,22% menjadi 7.649,71. Nasdaq melemah 2,19% ke level 26.128,13, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,55% menjadi 51.891,77.

Sebanyak enam dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 mengalami penurunan. Sektor jasa komunikasi mencatat pelemahan terdalam, yakni 2,52%, diikuti sektor teknologi informasi yang turun 2,38%.

Secara mingguan, S&P 500 berada di jalur penurunan terbesar sejak Januari 2026. Sementara itu, Nasdaq berpotensi membukukan penurunan mingguan terdalam sejak Juni 2026.

Pelemahan pasar juga tercermin dari jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan saham yang menguat. Di dalam indeks S&P 500, saham yang melemah mengungguli saham yang naik dengan rasio 1,3 banding 1.

Sepanjang perdagangan, S&P 500 mencatat 19 saham yang mencapai level tertinggi baru dan satu saham yang menyentuh level terendah baru. Adapun Nasdaq membukukan 49 saham pada level tertinggi baru dan 263 saham pada level terendah baru.

Investor Menanti Laporan Keuangan Emiten Besar

Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada musim laporan keuangan kuartal III-2026 yang mulai memasuki fase lebih sibuk pekan depan.

Sejumlah perusahaan besar dijadwalkan menyampaikan kinerja keuangannya, termasuk Tesla, Meta Platforms, serta Procter & Gamble.

Berdasarkan data LSEG, analis rata-rata memperkirakan laba perusahaan pada kuartal III meningkat lebih dari 30%. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh perusahaan-perusahaan teknologi berkapitalisasi pasar besar yang berkaitan dengan AI.

Meski demikian, penguatan pasar saham AS sepanjang 2026 masih terkonsentrasi pada kelompok saham teknologi yang terkait dengan AI.

Indeks S&P 500 masih mencatat kenaikan sekitar 12% sejak awal tahun. Namun, median kenaikan saham-saham penyusunnya hanya sekitar 6%. Bahkan, sekitar 185 saham dalam indeks tersebut telah mencatat penurunan sepanjang 2026.

Baca Juga: Kadin Minta MSCI Objektif Nilai Pasar Modal Indonesia

Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan indeks utama belum sepenuhnya mencerminkan kinerja positif seluruh saham di pasar.

Inflasi dan Prospek Suku Bunga The Fed Jadi Sorotan

Tekanan terhadap Wall Street juga datang dari perkembangan inflasi AS. Laporan inflasi konsumen dan produsen yang dirilis pekan ini menunjukkan kenaikan harga yang lebih tinggi daripada perkiraan.

Data tersebut mengindikasikan tekanan harga tidak hanya berasal dari komoditas energi, tetapi juga meluas ke komponen ekonomi lainnya.

Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada Jumat menyampaikan optimisme terhadap kekuatan ekonomi AS. Ia juga mengaku terkejut melihat ketahanan ekonomi global dalam menghadapi guncangan energi yang berkepanjangan dan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi.

"Saya terkejut melihat seberapa baik perekonomian global mampu bertahan," ujar Warsh, merujuk pada ketahanan ekonomi dunia di tengah tekanan tersebut.

Di tengah perkembangan itu, pasar semakin memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya pada bulan ini. Namun, Barclays kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin masing-masing pada Desember 2026 dan Januari 2027.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News