Wall Street Beragam, Nasdaq Anjlok Seiring Kekhawatiran Investor Terhadap Belanja AI



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks Utama Wall Street dibuka beragam pada awal perdagangan Jumat (30/10/2026), dengan indeks Nasdaq anjlok ke level teredah dalam dua bulan setelah rencana belanja kecerdasan buatan (AI) yang agresif dari Amazon serta peringatan tentang pengurasan cash (cash burn) dari Intel memperparah kekhawatiran investor terkait melonjaknya pembangunan infrastruktur AI.

Mengutip Reuters, pada bel pembukaan perdagangan indeks Dow Jones Industrial Average naik 41,3 poin, atau 0,08%, menjadi 52.383,9. Indeks S&P 500 turun 89,3 poin, atau 1,16%, menjadi 7.631,07, sementara indeks Nasdaq Composite merosot 592,2 poin, atau 2,26%, menjadi 25.592,486.

Saham Amazon.com turun 6,5% dalam perdagangan pre market setelah perusahaan tersebut melaporkan arus keluar kas yang signifikan pada kuartal ketiga dan mengisyaratkan peningkatan belanja modal lebih lanjut untuk tahun depan, di atas tingkat pengeluaran yang memang sudah tinggi. 


Baca Juga: Ketegangan Geopolitik Memanas, Harga Minyak WTI Naik 15% Sepanjang Oktober

Saham Intel anjlok lebih dari 25% setelah produsen cip tersebut memperingatkan bahwa mereka akan menghabiskan cadangan kas tahun ini. Hal ini disebabkan oleh lemahnya pasar komputer pribadi, hambatan dalam proses manufaktur, serta besarnya pengeluaran untuk memperluas kapasitas produksi.

Beberapa perusahaan telah memanfaatkan pasar obligasi untuk mendanai investasi besar mereka di bidang kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa tingginya biaya pinjaman dapat membuat pengeluaran semacam itu sulit untuk dibenarkan.

Jika penurunan harga saham terus berlanjut, Amazon dan Intel diperkirakan akan kehilangan nilai pasar gabungan sekitar US$ 300 miliar. Hal ini membuat indeks Nasdaq-100 berpotensi kehilangan nilai pasar sekitar US$ 1 triliun, menambah kerugian nilai pasar indeks tersebut yang sepanjang bulan ini telah mencapai hampir US$ 1,4 triliun.

"Ini lebih kepada apa yang sudah tercermin dalam harga saham dan seberapa besar ekspektasi investor. Alphabet, Amazon, dan Intel termasuk dalam kategori di mana pemicu kekecewaan yang signifikan tidak perlu terlalu besar, dan konsekuensi penurunannya bisa sangat tajam," ujar Art Hogan, kepala strategi pasar di B. Riley Wealth.

"Menurut saya, ini bukan penyesuaian ulang (reset) secara luas... Ini lebih merupakan pergeseran investasi—keluar dari sektor teknologi yang sebelumnya sangat populer, menuju aset-aset yang lebih aman."

Saham Alphabet turun 1%, menyusul aksi jual besar-besaran pada sesi sebelumnya. Hal ini terjadi setelah perusahaan induk Google tersebut melaporkan kinerja yang mengecewakan pada bisnis iklan pencariannya, serta lonjakan arus kas keluar.

Baca Juga: Bukan Cuma The Fed, Sentimen Domestik Ikut Mengerek Yield SBN ke Level 7,64%

Meta juga mencatat penggunaan cadangan kas (cash burn) pada kuartal yang berakhir di bulan September. Sebaliknya, Microsoft justru mencatatkan arus kas yang jauh melampaui ekspektasi, meskipun perusahaan tersebut juga menggalang dana sebesar $25 miliar melalui penerbitan utang.

Sektor semikonduktor secara keseluruhan juga berada di bawah tekanan; saham Nvidia turun 3,2% dan AMD merosot 8,3%. Produsen server, Dell dan HP, masing-masing mencatat penurunan sebesar 11,8% dan 9,5%.

Sementara itu, raksasa energi Chevron dan Exxon Mobil justru mencatatkan kenaikan masing-masing sebesar 1,6% dan 2%, setelah melaporkan laba kuartal ketiga yang melampaui perkiraan. 

S&P 500 dan Nasdaq sempat berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan, seiring dengan meredanya kekhawatiran terkait investasi kecerdasan buatan (AI) setelah Anthropic mengajukan dokumen penawaran umum perdana (IPO) di AS awal pekan ini.

Namun, Nasdaq diperkirakan akan mengakhiri tren kenaikan selama dua bulan berturut-turut pada Oktober ini, sementara S&P 500 dan Dow tetap berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan bulanan.

Sembilan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 diperkirakan mencatatkan kenaikan bulanan, kecuali sektor layanan komunikasi—yang menuju bulan terburuk sejak April 2022—serta sektor teknologi.

Kekhawatiran seputar belanja AI muncul bersamaan dengan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih dari 50 basis poin hingga pertengahan tahun 2027, menurut data LSEG. Hal ini terjadi meskipun bank sentral tersebut telah mempertahankan suku bunga tetap stabil pada awal pekan ini, sesuai dengan perkiraan pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News