KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat bergerak terbatas pada pembukaan perdagangan Rabu (24/6/2026), setelah mengalami tekanan selama dua sesi berturut-turut. Investor masih mencermati prospek sektor teknologi sekaligus menunggu laporan keuangan produsen chip memori, Micron Technology, yang dinilai menjadi indikator penting bagi tren investasi kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Enam Emiten Bakal IPO di Semester II 2026, Mana yang Menarik? Melansir
Reuters pada awal perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun tipis 6,1 poin atau 0,01% ke level 51.660,75. Sementara itu, indeks S&P 500 naik 0,07% menjadi 7.370,88 dan Nasdaq Composite melemah 0,03% ke posisi 25.578,62. Pekan ini, saham-saham teknologi mengalami aksi jual besar-besaran akibat kekhawatiran investor terhadap tingginya belanja berbasis utang yang dilakukan perusahaan teknologi besar atau hyperscalers untuk membangun infrastruktur AI. Kekhawatiran mengenai sikap bank sentral AS yang berpotensi lebih agresif dalam menaikkan suku bunga juga turut menekan sentimen pasar. Kondisi tersebut menghapus lebih dari US$ 1 triliun nilai kapitalisasi pasar indeks Nasdaq 100 hanya dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Saham Emiten Properti Aguan Anjlok Meski Labanya Melejit, Begini Saran Analis Meski demikian, saham produsen chip memori mulai menunjukkan pemulihan pada perdagangan pra-pasar. Saham Micron Technology naik 4,9%, sedangkan Sandisk menguat 3,7% setelah keduanya mengalami penurunan tajam sehari sebelumnya. Perhatian investor kini tertuju pada laporan kinerja Micron yang akan diumumkan setelah penutupan pasar. Perusahaan tersebut dianggap sebagai salah satu penerima manfaat terbesar dari lonjakan investasi AI yang dilakukan perusahaan teknologi global. Sepanjang tahun 2026, saham Micron telah melonjak lebih dari 268%, meski sempat anjlok sekitar 13% pada perdagangan Selasa. "Pendapatan Micron kali ini menjadi pusat perhatian pasar. Investor ingin mengetahui seberapa mahal biaya pengembangan AI saat ini dan seperti apa tingkat pengembalian investasi yang diperoleh perusahaan," kata Chief Investment Officer Northwestern Mutual Wealth Management Company, Brent Schutte.
Baca Juga: IHSG Anjlok 3,5%, Meski MSCI Pertahankan Status Indonesia di Emerging Market Di sisi lain, pelaku pasar juga terus memantau perkembangan situasi Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran menyampaikan pernyataan yang berbeda terkait sejumlah isu penting dalam perundingan damai, termasuk pengaturan Selat Hormuz dan berbagai insentif ekonomi. Harga minyak Brent turun ke level terendah dalam hampir empat bulan setelah semakin banyak kapal tanker mulai meninggalkan Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump juga mengatakan Iran telah memastikan tidak akan mengenakan tarif atau pungutan terhadap kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. Optimisme terhadap meredanya konflik Timur Tengah serta ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan yang tetap kuat membuat indeks S&P 500 berada di jalur untuk mencatat kinerja kuartalan terbaik dalam enam tahun terakhir. Namun, pasar juga mulai meningkatkan taruhan bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve akan menaikkan suku bunga dua kali hingga akhir tahun. Sebelumnya, investor hanya memperkirakan satu kali kenaikan sebesar 25 basis poin. Ekspektasi tersebut menguat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan, pentingnya menjaga inflasi tetap terkendali.
Baca Juga: MAPI Bakal Bawa Balik Ace Hardware ke Indonesia, Buka Perdana Juli-Agustus 2026 Pelaku pasar kini menunggu rilis data
Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index pada Kamis (25/6), yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve. Ekonom memperkirakan inflasi PCE akan meningkat menjadi 4,1%, lebih dari dua kali lipat target inflasi The Fed sebesar 2%. Di tengah ketidakpastian tersebut, J.P. Morgan justru menaikkan target akhir tahun indeks S&P 500 menjadi 7.800 poin. Bank investasi tersebut menilai momentum pertumbuhan laba perusahaan dan ketahanan ekonomi AS masih cukup kuat untuk menopang pasar saham.
Di antara saham yang bergerak signifikan, Cerebras Systems anjlok 7,6% setelah memproyeksikan margin laba tahun ini akan lebih rendah dibandingkan kuartal pertama. Sementara itu, saham FedEx turun 7,3% setelah perusahaan melaporkan penyusutan margin pada bisnis pengiriman utamanya. Adapun saham Hertz merosot 18,4% setelah perusahaan rental mobil tersebut memperkirakan laba operasional kuartal II berada di batas bawah proyeksi sebelumnya dan mengumumkan rencana penerbitan saham baru senilai US$ 100 juta. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News