Wall Street Dibuka Berseri Usai Gencatan Senjata AS-Iran pada Rabu (8/4)



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street dibuka menguat pada Rabu (8/4/2026), setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan.

Kesepakatan ini turut menekan harga minyak mentah seiring harapan pulihnya pasokan energi melalui Selat Hormuz.

Baca Juga: Arwana Citramulia (ARNA) Akan Tebar Dividen Rp 330,36 Miliar


Melansir Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 393,7 poin atau 0,85% ke level 46.978,17 pada awal perdagangan.

Indeks S&P 500 melonjak 137,5 poin atau 2,08% ke 6.754,36, sementara Nasdaq Composite melesat 803,4 poin atau 3,65% ke posisi 22.821,20.

Kesepakatan tersebut diumumkan hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Donald Trump agar Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur sempit yang selama ini menangani sekitar 20% perdagangan minyak global.

Trump juga menyatakan bahwa AS akan bekerja sama dengan Iran, termasuk membuka pembicaraan terkait tarif dan pelonggaran sanksi.

Baca Juga: Sentimen Geopolitik hingga Kebijakan Moneter Jadi Penentu, Ini Prospek Rupiah 2026

Gencatan senjata ini langsung memberikan sentimen positif ke pasar global yang sebelumnya dilanda ketidakpastian akibat konflik kedua negara.

Indeks saham di Asia dan Eropa tercatat naik 4% hingga 5%, sementara harga minyak mentah anjlok lebih dari 14% hingga di bawah US$ 100 per barel.

Analis Senior Trade Nation David Morrison menilai, reli pasar ini masih perlu diuji keberlanjutannya.

“Jika pengiriman energi melalui Selat Hormuz benar-benar kembali normal, hal itu akan meningkatkan kepercayaan investor. Namun, gencatan senjata dua minggu kemungkinan belum cukup untuk menghilangkan ketidakpastian,” ujarnya.

Baca Juga: Harga Minyak Terkoreksi, Efek Kesepakatan AS–Iran Dinilai Sementara

Di sisi lain, indeks volatilitas CBOE Volatility Index turun 5,48 poin ke level 20,31, terendah sejak 27 Februari menandakan meredanya kekhawatiran pasar. Sementara itu, kontrak berjangka indeks Russell 2000 melonjak 3,9%.

Saham sektor energi justru melemah seiring penurunan harga minyak global. Saham Exxon Mobil turun 6%, Chevron melemah 4,8%, dan Occidental Petroleum merosot 8,3% pada perdagangan pre-market.

Sebaliknya, saham sektor perjalanan dan rekreasi menguat. Saham American Airlines dan United Airlines masing-masing melonjak 12% dan 13,6%.

Operator kapal pesiar seperti Carnival Corporation dan Norwegian Cruise Line juga naik masing-masing 10,2% dan 8,2%.

Baca Juga: Rupiah Ambruk ke Level Terburuk, Ekonom Soroti Lonjakan Risk Premium Indonesia

Delta Air Lines turut menguat 13%, meskipun memproyeksikan laba kuartal II di bawah ekspektasi akibat ketidakpastian harga bahan bakar terkait konflik Iran.

Meski pasar merespons positif, kekhawatiran tetap membayangi. Lonjakan harga energi sebelumnya dinilai berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan mempersulit arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Data LSEG menunjukkan pelaku pasar kini melihat peluang sebesar 56% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir 2026.

Angka ini berubah dari sehari sebelumnya, di mana pasar belum memperkirakan adanya pelonggaran kebijakan tahun ini.

Sebelum konflik pecah, pelaku pasar bahkan memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin pada tahun ini.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun di Bawah US$100, Tekanan Inflasi Global Mulai Mereda

Selanjutnya, investor akan mencermati pernyataan pejabat Federal Reserve, termasuk Mary Daly dan Christopher Waller, serta risalah rapat bank sentral pada 17–18 Maret.

Selain itu, data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini juga menjadi perhatian untuk melihat dampak lonjakan harga minyak terhadap tekanan harga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News