KONTAN.CO.ID - Indeks Nasdaq dibuka jatuh pada perdagangan Selasa (28/4), tertinggal dari indeks utama Wall Street lainnya, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan pertumbuhan sektor kecerdasan buatan (AI) yang selama ini menjadi penggerak utama saham teknologi. Melansir
Reuters, Indeks Nasdaq Composite turun 277,5 poin atau 1,12% ke level 24.609,574 pada pembukaan perdagangan. Sementara itu, S&P 500 melemah 40,2 poin atau 0,56% ke 7.133,74. Berbeda arah, Dow Jones Industrial Average justru naik 109 poin atau 0,22% ke 49.276,8.
Baca Juga: Indeks di Sektor Transportasi dan Logistik Tumbuh Dobel Digit, Cermati Pemicunya Tekanan utama datang dari sektor teknologi setelah laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa OpenAI pengembang ChatGPT tidak mencapai target internal untuk pengguna mingguan dan pendapatan. Hal ini memicu kekhawatiran mengenai kemampuan perusahaan dalam menopang belanja besar untuk infrastruktur pusat data. “Ini memberi tekanan pada Nasdaq dan S&P karena teknologi dan layanan komunikasi menyumbang sekitar 40% dari indeks acuan,” ujar Art Hogan, Chief Market Strategist di B Riley Wealth. Ia menambahkan, jika OpenAI mengalami perlambatan, hal itu dapat mengubah peta kepemimpinan di sektor teknologi.
Baca Juga: Krom Bank (BBSI) Gelar RUPST 20 Mei 2026, Ini Agendanya Meski bersifat perusahaan privat, kinerja OpenAI dinilai memiliki dampak luas terhadap sentimen pasar saham, terutama karena dianggap sebagai indikator utama permintaan AI global. Sentimen negatif ini turut menekan saham-saham teknologi besar. Saham Oracle turun 6,7% di perdagangan
pre-market, sementara saham Nvidia, AMD, dan Arm Holdings masing-masing melemah 2,8%, 5,9%, dan 8,8%. Selain tekanan dari sektor teknologi, pasar juga dibayangi ketidakpastian geopolitik akibat konflik Iran–AS yang masih berlarut. Situasi ini membuat harga minyak tetap tinggi karena gangguan pasokan dari Selat Hormuz.
Baca Juga: Program PINTAR Dorong Nabung Reksadana, Ini Skema Insentif yang Diusulkan Harga minyak Brent tercatat masih berada di atas US$110 per barel, sekitar 54% lebih tinggi dibandingkan level sebelum konflik. Di tengah kondisi tersebut, investor juga mencermati rilis kinerja sejumlah perusahaan besar. United Parcel Service (UPS) turun 4,6% setelah melaporkan penurunan laba kuartalan, sementara General Motors naik 1,8% setelah menaikkan proyeksi laba tahunan. Coca-Cola menguat 2,6% setelah menaikkan proyeksi laba tahunan, sedangkan Spotify anjlok 11,6% karena memproyeksikan laba kuartal kedua di bawah ekspektasi pasar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News