KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat dibuka cenderung datar pada Kamis (9/4/2026), setelah reli pada sesi sebelumnya mulai kehilangan tenaga. Pelaku pasar mencermati rapuhnya gencatan senjata di Timur Tengah serta data inflasi terbaru. Melansir
Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 69,3 poin atau 0,14% ke level 47.840,63 pada pembukaan perdagangan. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,01% ke 6.783,69, sementara Nasdaq Composite justru naik 0,05% ke 22.646,35.
Baca Juga: IDX Basic Materials Tumbuh Positif di Tengah Gejolak, Cek Saham Rekomendasi Analis Sentimen pasar dipengaruhi perkembangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menegaskan akan mempertahankan kehadiran militer di Timur Tengah hingga tercapai kesepakatan damai dengan Iran. Ia juga memperingatkan potensi eskalasi besar jika negosiasi gagal. Di sisi lain, Iran menegaskan tidak akan ada kesepakatan selama Israel masih melanjutkan serangan ke Lebanon. Minimnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz turut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Hal ini sempat mendorong harga minyak naik, meski masih berada di bawah level US$ 100 per barel. Saham sektor energi di AS pun bergerak menguat tipis pada perdagangan
pre-market.
Baca Juga: IHSG Diproyeksikan Menguat Lagi Besok (10/4), Ini Sentimennya Sebelumnya, indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatat lonjakan harian terbesar dalam lebih dari sepekan pada Rabu (8/4/2026), didorong optimisme pasar atas gencatan senjata dua pekan. Dow Jones bahkan mencatat kenaikan terbesar dalam setahun. Senior Investment Strategist Allianz Investment Management, Charlie Ripley, menyebut adanya pergeseran dari potensi eskalasi menuju pendekatan diplomatik sempat menenangkan pasar, meski belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran. Dari sisi makroekonomi, investor mencermati data inflasi berbasis
personal consumption expenditure (PCE) indikator favorit bank sentral AS Federal Reserve yang menunjukkan inflasi tahunan sebesar 2,8% pada Februari. Data terpisah menunjukkan ekonomi AS hanya tumbuh 0,5% pada kuartal IV-2025, lebih rendah dari ekspektasi sebesar 0,7%. Menurut Ripley, data tersebut belum cukup mengubah arah kebijakan The Fed, mengingat tekanan inflasi masih relatif tinggi. Kondisi ini membuat bank sentral cenderung menahan suku bunga untuk sementara waktu.
Baca Juga: Volatilitas Pasar Saham Tinggi Selama Gencatan Senjata, Begini Strategi Trading Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis data inflasi konsumen (CPI) Maret yang dijadwalkan Jumat (10/4/2026), untuk melihat dampak kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik. Pelaku pasar uang kini memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026 hanya sekitar 30%, turun dari 56% sehari sebelumnya. Sebelum konflik memanas, pasar bahkan memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun ini.
Risalah rapat The Fed pada Maret juga menunjukkan semakin banyak pejabat yang mempertimbangkan kenaikan suku bunga guna menekan inflasi yang masih di atas target 2%. Dari sisi saham, Applied Digital turun 2,7% pada perdagangan
pre-market setelah mencatat pelebaran rugi bersih kuartal III. Sementara itu, CoreWeave naik 1,5% setelah mengumumkan ekspansi kerja sama cloud senilai US$ 21 miliar dengan Meta Platforms, meski kenaikannya terbatas akibat rencana penerbitan obligasi konversi senilai US$ 3 miliar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News