KONTAN.CO.ID - Wall Street dibuka melemah pada Selasa (15/9/2026), terbebani kenaikan harga minyak dan imbal hasil (yield) Treasury Amerika Serikat (AS) yang kembali meningkat. Melansir
Reuters, pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 118 poin atau 0,23% menjadi 52.303,24. Indeks S&P 500 melemah 7,7 poin atau 0,10% ke 7.612,3, sedangkan Nasdaq Composite turun 46,2 poin atau 0,18% menjadi 26.140,227.
Baca Juga: Dual Listing Emiten RI Berpotensi Berlanjut, Ini Saham yang Menarik Dicermati Tekanan juga terlihat pada sejumlah saham teknologi. Alphabet dan Microsoft masing-masing turun sekitar 1% dalam perdagangan prapembukaan. Saham perusahaan chip yang menjadi salah satu sektor paling tertekan pada perdagangan Senin bergerak dalam kisaran terbatas. Sementara itu, Nvidia justru naik sekitar 0,7%. Sentimen terhadap sektor teknologi masih dibayangi kekhawatiran mengenai prospek permintaan kecerdasan buatan (AI). Kekhawatiran tersebut muncul setelah sejumlah perusahaan AI terkemuka menyerukan perlunya memperlambat pengembangan teknologi tersebut dengan alasan keselamatan. Meski belum ada kejelasan mengenai bagaimana perlambatan pengembangan AI akan dilakukan, kekhawatiran tersebut menambah tekanan terhadap pasar saham yang sebelumnya sudah dibayangi inflasi yang masih tinggi dan potensi kenaikan biaya pinjaman.
Baca Juga: IHSG Tertekan, Harga Minyak dan Ekspektasi The Fed Jadi Beban Pasar "Penundaan bukan hal yang baik bagi Wall Street. Perlambatan dalam bentuk apa pun akan menjadi masalah. Namun, saya pikir saat ini pasar belum percaya bahwa akan ada perlambatan," kata Joe Saluzzi, Co-Founder sekaligus Co-Head of Equity Trading Themis Trading. Menurut dia, persaingan di industri AI masih sangat ketat. Selain itu, sejumlah perusahaan juga tengah mengejar rencana untuk melantai di bursa sehingga tetap membutuhkan pertumbuhan pendapatan dan laba. Harga minyak jadi perhatian Pergerakan Wall Street juga dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak di tengah konflik Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Harga minyak Brent naik 0,6% menjadi US$106,31 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,2% menjadi US$102,59 per barel. Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi yang berpotensi kembali mendorong inflasi.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melemah Rabu (16/9), Pasar Menanti Keputusan The Fed "Energi saat ini menjadi faktor yang paling banyak memberikan tekanan terhadap inflasi," kata Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise Financial. Di pasar obligasi, yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat mencapai level tertinggi sejak 2007. Yield tersebut terakhir naik 5,3 basis poin menjadi 5,0122%. Kenaikan yield Treasury membuat aset saham menjadi relatif kurang menarik karena investor bisa memperoleh imbal hasil lebih tinggi dari instrumen obligasi yang dianggap bebas risiko. Pelaku pasar juga masih menanti keputusan Federal Reserve (The Fed) pada Rabu. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai 92,5%. Ekspektasi tersebut menguat setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga kembali meningkat pada Agustus. Data ketenagakerjaan yang masih relatif solid juga membuat pasar menilai The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Baca Juga: Demutualisasi BEI Terus Berlanjut, Porsi Kepemilikan Danantara Jadi Sorotan "Mempertimbangkan dinamika inflasi saat ini, kondisi ketenagakerjaan yang solid, serta ketua The Fed baru yang ingin membangun kredibilitas, keputusan suku bunga pada Rabu memiliki peluang kenaikan tertinggi yang terlihat sepanjang tahun ini," ujar Saglimbene. Di luar saham-saham teknologi, saham Dave & Buster's merosot lebih dari 13% dalam perdagangan prapembukaan setelah pendapatan kuartal kedua perusahaan tersebut berada di bawah ekspektasi. Sebaliknya, saham Waystar melonjak sekitar 12% setelah Reuters melaporkan perusahaan perangkat lunak kesehatan tersebut tengah menjajaki sejumlah opsi strategis, termasuk kemungkinan penjualan perusahaan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News