KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (17/7/2026), seiring berlanjutnya aksi jual saham-saham semikonduktor akibat kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan reli yang didorong oleh tren kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI). Sentimen negatif juga datang dari proyeksi kinerja Netflix yang berada di bawah ekspektasi pasar.
Baca Juga: Cek Strategi Koleksi Obligasi FR yang Tepat bagi Investor Ritel Melansir
Reuters pada awal perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 126,5 poin atau 0,24% ke level 52.426,46. Indeks S&P 500 melemah 86,2 poin atau 1,14% menjadi 7.447,52, sementara Nasdaq Composite merosot 469,7 poin atau 1,81% ke posisi 25.412,26. Setelah mencatat reli tajam yang membawa indeks-indeks utama Wall Street ke rekor tertinggi tahun ini, investor mulai mengurangi eksposur pada saham-saham semikonduktor. Langkah tersebut dipicu kembali munculnya kekhawatiran mengenai besarnya belanja AI dan keberlanjutan pertumbuhan sektor tersebut. Saham-saham semikonduktor kembali tertekan. Nvidia, salah satu emiten yang menjadi motor reli AI, turun sekitar 2,5% pada perdagangan
pre-market. Sementara itu, Applied Materials dan Lam Research masing-masing melemah sekitar 4%.
Baca Juga: Diburu Investor Ritel, Kuota ORI030 Ditambah Jadi Rp 30 Triliun Di sisi lain, iShares Semiconductor ETF turun 3%, sedangkan Philadelphia SE Semiconductor Index yang sempat menyentuh level terendah hampir dua bulan pada Kamis (16/7), berada di jalur penurunan mingguan terdalam sejak Maret 2025. Indeks tersebut telah terkoreksi lebih dari 19% dari rekor tertingginya pada akhir Juni. Kinerja positif dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), produsen chip AI terbesar di dunia, serta ASML, pemasok utama peralatan produksi chip canggih, belum mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap prospek reli saham-saham semikonduktor. "Ini telah berkembang dari sekadar aksi jual saham chip menjadi pelemahan pasar yang jauh lebih luas. Hal itu terutama terlihat pada Nasdaq yang telah naik sangat tinggi dalam waktu singkat," ujar Kepala Analis Pasar IG Chris Beauchamp. Menurutnya, banyak investor kini memilih mengamankan keuntungan yang telah diperoleh sejak reli pasar dimulai pada akhir Maret.
Baca Juga: Investasi Asing Naik, Jababeka (KIJA) Mau Optimalkan Momentum Sepanjang tahun ini, Nasdaq masih mencatat kenaikan sekitar 11%. Sentimen pasar juga terbebani oleh penurunan saham Netflix yang anjlok 11,3% pada perdagangan
pre-market setelah perusahaan memproyeksikan pendapatan dan laba kuartal ketiga di bawah perkiraan analis Wall Street. Sementara itu, indeks volatilitas CBOE Volatility Index (VIX) atau yang dikenal sebagai indikator ketakutan Wall Street, naik 1,36 poin menjadi 18,09, level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Pelemahan saham-saham chip pada perdagangan Kamis sebelumnya telah menekan kinerja indeks utama Wall Street. Kondisi tersebut membuat pasar berada di jalur penurunan mingguan, meskipun musim laporan keuangan kuartal II diawali dengan hasil yang solid dari sejumlah bank besar dan data inflasi AS yang relatif jinak. Pelaku pasar juga menantikan rilis survei sentimen konsumen Universitas Michigan serta data produksi industri AS yang dijadwalkan terbit pada Jumat, sebagai penutup rangkaian data ekonomi penting pekan ini.
Baca Juga: Inflasi AS Melandai, Sentimen Positif Dorong Pasar Kripto Di sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah jembatan dan sebuah bandara di Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air di Kuwait. Selain itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali menuduh China melakukan campur tangan dalam pemilu AS juga berpotensi memperumit hubungan kedua negara menjelang rencana pertemuan puncak dengan Presiden Xi Jinping di Washington dalam dua bulan mendatang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News